x

MEMAHAMI DAN MENYIKAPI CELAAN

Yo appadutthassa narassa dussati, suddhassa posassa ananganassa,
tameva balam pacceti papam, sukhumo rajo pativatam va khitto'ti.

Jika seseorang melakukan kesalahan pada orang yang tidak bersalah, seseorang yang murni tanpa noda, kejahatan akan kembali kepada si dungu itu sendiri, bagaikan debu halus yang ditebarkan melawan angin.
(Bilangika Sutta, SN.7.3)


    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa


Satu kecenderungan cara hidup sebagian besar orang adalah lebih menerima ungkapan pujian daripada celaan. Pujian akan membuat seseorang merasa senang, gembira, dan bahagia atas pujian yang disampaikan kepada dirinya oleh orang lain. Berbeda halnya celaan bagi sebagian besar orang, hanya akan membuat perasaan menjadi sesak ataupun suasana hati menjadi rusak akibat lontaran kata-kata yang tidak baik yang diterimanya.

Adanya kecenderungan cara hidup demikian akan mengondisikan seseorang untuk sulit menjaga batinnya tetap tenang, terutama dalam menghadapi celaan yang dilontarkan oleh orang lain. Pujian akan timbul apabila ada kelebihan yang dimiliki seseorang. Tetapi berbeda halnya celaan, celaan bisa timbul dan disebabkan oleh berbagai hal, seperti yang diungkapkan oleh Sang Buddha dalam Dhp. 227, hal itu telah ada sejak dahulu dan bukan baru ada sekarang saja, di mana mereka mencela orang yang duduk diam, mereka mencela orang yang sedikit bicara. Tak ada seorang pun di dunia ini yang tidak pernah dicela”. Walaupun seseorang mendambakan pujian dalam hidupnya, celaan juga tidak bisa dihindari oleh siapa pun. Oleh karena kondisi tersebut merupakan bagian dari kondisi yang harus dihadapi oleh manusia di dunia, berdasarkan nasihat Sang Buddha tentang atthalokadhamma terutama dalam hal ini adalah celaan.

Celaan tidak hanya dilontarkan secara langsung, bahkan dalam per-kembangan digital di era modern saat ini, tidak luput digunakan oleh sebagian besar orang untuk menuangkan ungkapan yang tidak baik, baik melalui cuitan status, video, atau gambar, dan hal ini terjadi terutama disebabkan oleh kebencian. Selain itu, berbagai media informasi juga tidak sedikit kasus yang dikabarkan berkenaan mengenai ujaran kebencian. Sedangkan pelakunya tidak sedikit dari mereka harus berujung mendapatkan hukuman pidana.

Setiap orang pernah memperoleh ungkapan celaan dari orang lain, bahkan Sang Buddha sebagai individu yang sempurna termasuk para siswa ariya-Nya pernah mendapatkan kata-kata celaan, baik berupa fitnah, hinaan, maupun makian dari orang lain. Meskipun sama-sama tidak terlepas dari kondisi celaan, tetapi yang membedakan adalah cara menghadapi celaan tersebut. Pada umumnya orang akan membalas celaan dengan kemarahan dan kebencian, tetapi Sang Buddha dan para siswa-Nya berusaha untuk tidak membalas dengan kebencian, namun dengan kesabaran.

Dalam Akkosa Sutta, (SN.7.2) dapat ditemukan bagaimana respon Sang Buddha terhadap suatu celaan yang dilontarkan oleh orang lain kepada dirinya. Pada suatu kesempatan ketika Sang Buddha berada di Rajagaha terdapat seorang brahmana bernama Akkosaka mendatangi Sang Buddha, kemudian mencaci dan mencerca Beliau dengan kata-kata kasar. Ia melakukannya atas dasar salah seorang brahmana dari Bharadvaja meninggalkan kehidupan rumah tangga di bawah bimbingan Sang Buddha sebagai seorang bhikkhu. Sang Buddha pun menanggapi dengan sebuah pertanyaan dan dijawab oleh Brahmana Akkosaka.
“Bagaimana menurutmu, brahmana? Apakah teman-teman dan sahabat, sanak keluarga dan saudara, juga para tamu datang mengunjungimu?” “Kadang-kadang mereka datang berkunjung, Guru Gotama.” “Apakah engkau mempersembahkan makanan atau kudapan kepada mereka?” “Kadang-kadang aku melakukannya, Guru Gotama.” “Tetapi jika mereka tidak menerimanya darimu, maka milik siapakah makanan-makanan itu?” “Jika mereka tidak menerimanya dariku, maka makanan-makanan itu tetap menjadi milikku.”

Sang Buddha menegaskan, demikian pula seseorang yang tidak merespon negatif dengan kemarahan cacian yang diberikannya, dan menolak menerima cacian tersebut, maka ungkapan kasar itu tetap menjadi miliknya. Tetapi apabila sebaliknya seseorang menerima cacian dengan respon negatif, Sang Buddha mengatakan seperti memakan makanan memasuki pertukaran. Ia tidak lebih seperti orang pertama yang melontarkan kata-kata kasar tersebut.

Pernyataan Sang Buddha mengenai ungkapan caci makian begitu nyata dialami oleh salah seorang petapa bernama Petapa Jambuka yang hidup di masa Buddha Gotama. Jambuka diketahui ketika masih bersama dengan kedua orangtuanya, maupun selama menjadi petapa Nigantha, ia memiliki 4 kebiasaan buruk, yaitu (1) memakan kotorannya sendiri ataupun kotoran orang lain, (2) tidak pernah memakai pakaian, (3) tidur di atas tanah, (4) menyisir rambutnya dengan dahan lontar. Kebiasan tersebut dijalani selama 55 tahun. Namun suatu keberuntungan ketika Sang Buddha datang untuk menemuinya ia dapat mengetahui penyebab kenapa ia menyukai keempat kebiasaan buruk tersebut. Sang Buddha menceritakan kepada Petapa Jambuka bahwa di kehidupan lampaunya ketika menjadi seorang bhikkhu pernah mencaci maki seorang Thera Arahat dengan keempat umpatan tersebut.  Ia melakukannya atas dasar rasa marah dan iri hati melihat seorang perumah tangga memberikan perhatian yang lebih kepada Thera Arahat dibandingkan dirinya, dan Thera Arahat tersebut merupakan seorang bhikkhu tamu di tempatnya. Umpatan itu tidak ditanggapi oleh Thera Arahat, namun ia merasa kasihan atas sikap dari bhikkhu tersebut. Oleh karena itu atas dasar kata-kata tidak baik bhikkhu tersebut, ketika terlahir sebagai Jambuka terkondisi untuk memiliki keempat kebiasaan buruk sejak lahir hingga menjadi bagian dari kelompok Nigantha. (Jambukajivakavatthu, Bala Vagga).

Setiap orang bisa menjadi korban dari celaan, namun tergantung bagaimana selanjutnya kita menyikapi celaan tersebut. Banyak orang ketika dicela menganggap dirinya telah direndahkan dengan semburan kata-kata tidak baik, sehingga membalasnya dengan respon negatif. Tetapi, dengan kita memahami celaan seperti yang tertuang dalam Akkosa Sutta bahwa kata-kata buruk akan tetap menjadi milik si pemberi apabila kita menolak menerima celaan itu dengan respon yang baik. Seseorang terkadang akan merasa sulit untuk merespon dengan respon baik seperti yang dilakukan oleh Sang Buddha. Tetapi selama kita berusaha untuk bersabar dan memahami betul akibat kata-kata tidak baik seperti kasus Jambuka, maka kita akan menjadi pemenang bagi diri kita sendiri, tidak menjadi orang yang sama seperti yang mencela. Oleh karena itu, sepatutnya kita menjaga ucapan dengan baik.

Kemudian, tindakan serupa yang dilakukan oleh Sang Buddha ketika sedang melakukan pindapata bersama dengan Bhikkhu Ananda di Kota Kosambi. Magandiya atas dasar kebencian karena pernah ditolak Sang Buddha sebagai istri atas persembahan kedua orangtuanya, ia menyewa sekelompok orang untuk mencaci maki Beliau dengan kata-kata yang sedemikian kasar. Bhikkhu Ananda memohon Sang Buddha untuk meninggalkan kota dan pergi ke tempat lain. Namun Sang Buddha mengatakan di kota lain, mungkin juga akan dicaci maki dan tidak mungkin untuk selalu berpindah tempat setiap kali seseorang mencaci maki. Lebih baik menyelesaikan masalah di tempat terjadinya masalah. Saya seperti seekor gajah yang menahan panah-panah yang datang dari semua penjuru. Saya juga akan menahan dengan sabar caci maki yang datang dari orang-orang yang tidak memiliki moral.

Selain itu, dalam Brahmajala Sutta (DN.1), Sang Buddha juga mengatakan, apabila ada orang lain yang menghina-Ku, Dhamma, atau Sangha, Beliau menasihatkan untuk tidak boleh marah, tersinggung, ataupun terganggu akan hal itu, karena hal demikian akan menjadi rintangan bagi kalian. Apabila seseorang menjadi marah dan tidak senang, dapatkah kalian mengetahui apakah yang mereka katakan itu benar atau salah. Lebih lanjut Sang Buddha menegaskan jika ada orang yang menghina Buddha, Dhamma, Sangha maka kalian harus menjelaskan apa yang tidak benar sebagai tidak benar, dengan mengatakan: “itu tidak benar, itu salah, itu bukan jalan kami, itu tidak ada pada kami”.

Berdasarkan apa yang telah dinyatakan oleh Sang Buddha, apabila kita hidup sesuai dengan Dhamma menjalankan apa yang telah dinasihatkan oleh Sang Buddha yaitu berpikir, berucap, dan bertindak yang sesuai, maka kita akan mampu menjaga diri kita sendiri. Meskipun seseorang mencela diri kita, itu bukan menjadi hal yang akan menjadi beban, oleh karena apa yang mereka katakan tidaklah sesuai dengan kenyataan yang kita lakukan. Di samping itu, dengan kita bersabar menyikapi suatu celaan, kita akan mampu menyelesaikan masalah dengan baik, tidak sampai menimbul-kan respon negatif yang mampu memperbesar masalah. Kemudian respon yang baik akan mengiringi diri kita untuk menyelesaikan masalah di tempat terjadinya masalah, dan menjelaskan kesesuaian kebenaran yang mereka katakan.

Oleh karena itu, setelah memahami tentang celaan sepatutnya kita tidak sampai mencela orang lain dengan kata-kata yang tidak baik. Ungkapan buruk walaupun kita lontarkan kepada orang lain tetap akan menjadi milik kita sendiri, dan sepatutnya ketika kita dicela, kembangkanlah kesabaran dan rasa kasih sayang kepada mereka yang mencela, karena mereka patut untuk dikasihani atas ucapan yang dikatakan itu akan berbalik kepada dirinya. Seperti yang dinasihatkan oleh Sang Buddha “jika seseorang melakukan kesalahan pada orang yang tidak bersalah, seseorang yang murni tanpa noda, kejahatan akan kembali kepada si dungu itu sendiri”.

Referensi:

  • Bhikkhu Bodhi. 2010. Khotbah-Khotbah Berkelompok Sang Buddha Terjemahan baru Samyutta Nikaya. Jakarta Barat: DhammaCitta Press.
  • Kitab Suci DHAMMAPADA. 2013. Bahussuta Society.
  • Walshe, Maurice. 2009. Khotbah-Khotbah Panjang Sang Buddha D?gha Nikaya. (Tanpa Kota). © DhammaCitta Press.
  • Wowor, Corneles. Tanpa tahun. Dhammapada Atthakatha Citta Vagga Pupha Vagga & Bala vagga. Sunter Agung Jakarta: Perpustakaan Narada.

Dibaca : 1078 kali