x

KESEDIHAN MUNCUL DARI ORANG YANG DISAYANGI

Putta matthi dhanammatthi, iti balo vihannati.
Atta hi attano natthi, kuto putta kuto dhanam.

Putra ada padaku, harta ada padaku, demikianlah si dungu merisaukan.
Sebenarnya, diri pun bukan milik diri sendiri, dari mana putra ada padanya; darimana harta dimilikinya?
(Dhammapada 62)


    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa

Kebahagiaan dan kegembiraan muncul dari orang yang disayangi. Begitulah yang dikatakan mara kepada Buddha. “Orang yang memiliki putra bergembira dalam putranya”. Tetapi Buddha tidak setuju dengan mara. Buddha menjelaskan bahwa “seorang yang memiliki putra bersedih karena putranya” Marasamyutta (SN 4.8). Pandangan Buddha berbanding terbalik dengan pandangan mara. Demikianlah kenyataannya, apa yang disayangi dan dicintai sebagai sumber kesedihan, ratap tangis dan keputusasaan. Hal ini juga dijelaskan Buddha di dalam Dhammapada, dari yang disayangi timbul kesedihan (piyato jayati soko), dari yang disayangi timbul ketakutan (piyato jayati bhayam) (Dhp. 212). Dari cinta timbul kesedihan (pamato jayati soko), dari cinta timbul ketakutan (pamato jayati bhayam) (Dhp. 213).

Dalam beberapa sutta misalnya Piyajatika Sutta (MN 87), seorang perumah tangga mengalami kesedihan yang mendalam. Ia tidak berkeinginan untuk bekerja dan makan setelah putra tunggalnya yang disayangi dan dicintai meninggal dunia, yang dilakukan hanya terus-menerus pergi ke kuburan dan menangis sambil memanggil ‘Putra tunggalku, di manakah engkau? Putra tunggalku, di manakah engkau? Kesedihan mendalam juga dirasakan Raja Munda. Sejak istrinya meninggal, ia tidak mandi, tidak meminyaki dirinya, tidak makan, tidak minum, tidak melakukan pekerjaannya, siang dan malam hanya menunggui jenazah istrinya. Ia begitu bersedih dan meratapi hingga melalaikan pekerjaannya (AN 5.50). Kisah yang sama juga diceritakan Bhikkhuni Vasetthi. Karena didera kesedihan atas putranya, menjadi gila dan kehilangan akal sehatnya. Ia telanjang, rambut beterbangan dan mengembara ke sana-sini. Ia juga menetap di tumpukan sampah, di pemakaman dan jalan-jalan raya. Selama tiga tahun mengembara dilanda kelaparan dan kehausan (Therigatha 6.2).

Dari beberapa kisah di atas, kita mendapatkan pemahaman bahwa dalam Dhamma, yang disayangi dan dicintai menjadi sumber duka cita dan kesedihan. Artinya kita pun sebenarnya berdekatan dengan duka cita dan kesedihan. Kita hidup berdampingan dengan orang-orang yang kita sayangi dan cintai. Berkumpul dengan orangtua, dengan pasangan hidup, dengan anak-anak, dengan kerabat dan dengan sahabat. Dalam kondisi seperti ini, dibutuhkan pedoman dan pengetahuan. Pedoman dan pengetahuan diperlukan untuk menyiapkan batin agar siap menghadapi perubahan. Batin yang mampu menerima perubahan, mencegah duka cita dan kesedihan berlarut-larut. Maka sekarang yang menjadi pertanyaannya adalah pedoman dan pengetahuan apa yang patut untuk dikembangkan dalam batin agar ketika berpisah dengan yang disayangi batin mampu menerimanya?

Menerima kenyataan sedang kehilangan orang yang disayangi adalah tidak mudah. Tetapi meratapi kepergiannya dengan berduka cita berlarut-larut itu juga bukan tindakan bijaksana. Tindakan itu hanya akan menyulitkan pada kelangsungan ke hidupan. Maka meningkatkan keyakinan kepada Buddha adalah jawaban pertama atas pertanyaan tersebut. Buddha memiliki kesempurnaan dalam hal perilaku bermoralitas, kesempurnaan dalam hal konsentrasi, kesempurnaan dalam hal kebijaksanaan, dan kesempurnaan dalam hal kebebasan. Baik petapa atau brahmana tidak ada yang lebih sempurna. Buddha adalah yang paling sempurna di antara petapa dan brahmana (AN 4.21). Kesempurnaan Buddha juga dijelaskan dalam paritta suci; Buddha adalah Yang Mahasuci (araham), yang telah mencapai penerangan sempurna oleh diri sendiri (sammasambuddho), sempurna pengetahuan serta tindak-tanduk-Nya (vijjacaranasampanno), sempurna menempuh jalan ke Nibbana (sugato), pengetahu segenap alam (lokavidu), pembimbing manusia yang tiada taranya (anuttaro purisadammasarathi), guru para deva dan manusia (sattha devamanussanam), yang sadar (Buddho), yang beberkah (Bhagava). Karena kesempurnaan-kesempurnaan yang dimiliki Buddha inilah alasan kenapa kita menempatkan keyakinan pada Buddha.

Selain memiliki batin sempurna, Buddha juga membabarkan Dhamma dengan sempurna (svakkhato bhagavata dhammo). Dhamma yang diajarkan dapat mengarah pada padamnya segala macam duka cita dan kesedihan. Mengikuti Buddha, artinya kesempatan untuk terbebas dari segala macam duka cita dan kesedihan dapat tercapai. Maka langkah selanjutnya yang perlu kita kembangkan adalah mempraktikkan Dhamma. Buddha sudah lama parinibbana, tetapi Dhamma masih mudah untuk ditemukan, dipelajari, dan dipraktikkan. Salah satu Dhamma yang bila dipraktikkan dapat mengarah pada berkurangnya duka cita dan kesedihan karena ditinggal orang yang disayangi adalah merenungkan lima situasi yang pasti berubah. Lima hal yang pasti berubah adalah apa pun yang tunduk pada penuaan akan menjadi tua, apa pun yang tunduk pada penyakit jatuh sakit, apa pun yang tunduk pada kematian menjadi mati, apa pun yang tunduk pada kehancuran menjadi hancur dan apa pun yang tunduk pada kehilangan menjadi hilang. Buddha menjelaskan bahwa mengharapkan apa pun yang tunduk pada penuaan tidak menjadi tua adalah tidak mungkin. Begitu juga tidak akan mungkin diperoleh apa yang tunduk pada penyakit tidak jatuh sakit, apa yang tunduk pada kematian tidak mati, apa pun yang tunduk pada kehancuran tidak hancur dan apa pun yang tunduk pada kehilangan tidak hilang (AN 5.48).

Seperti kisah Raja Munda di atas yang berduka cita, bersedih dan melalaikan pekerjaannya, siang dan malam hanya menunggui jenazah istrinya. Mendapat manfaat setelah mendengar Dhamma yang disampaikan Yang Mulia Narada. Dhamma disampaikan Yang Mulia Narada berhubungan dengan lima situasi yang tidak dapat diperoleh siapa pun, baik petapa, brahmana, deva, mara atau brahma. Tidak mungkin memperoleh apa pun yang tunduk pada penuaan tidak menjadi tua, tidak mungkin memperoleh apa yang tunduk pada penyakit tidak jatuh sakit, tidak mungkin memperoleh apa yang tunduk pada kematian tidak mati, tidak mungkin memperoleh apa yang tunduk pada kehancuran tidak hancur dan tidak mungkin memperoleh apa pun yang tunduk pada kehilangan tidak hilang. Tetapi siapa pun, baik petapa, brahmana, deva, mara, atau brahma akan mengalami lima hal ini, apa pun yang tunduk pada penyakit jatuh sakit, apa pun yang tunduk pada kematian menjadi mati, apa pun yang tunduk pada kehancuran akan menjadi hancur dan apa pun yang tunduk pada kehilangan menjadi hilang. Di akhir penyampaian Dhamma, Raja Munda sadar, anak panah duka cita tercabut, jenazah Ratu Bhadda pun dikremasi (AN 5.50). Kita juga dapat merenungkan Dhamma yang disampaikan Bhikkhuni Patacara ‘tanpa diminta ia datang, ia pergi tanpa pamit. Ia pasti telah datang dari suatu tempat, dan berdiam entah berapa hari. Ia pergi dari sini melalui satu jalan, ia akan pergi dari sana melalui jalan lain. Dengan berpergian dalam bentuk manusia, ia akan melanjutkan transmigrasi. Sebagaimana ia datang, demikian pula ia pergi; mengapa meratapi hal itu’? (Therigatha 6.1).

Pada akhirnya memiliki keyakinan kepada Buddha adalah yang terbaik. Buddha sudah mengatasi segala macam duka cita dan kesedihan. Buddha adalah yang terunggul dari semua makhluk, baik yang tanpa kaki, berkaki dua, berkaki empat, atau berkaki banyak. Apakah berbentuk atau tanpa bentuk. Mereka yang memiliki keyakinan pada Buddha memiliki keyakinan pada yang terunggul, dan mereka yang memiliki keyakinan pada yang terunggul, hasilnya juga terunggul (AN 4. 34).

Kehadiran Buddha merupakan sebab kebahagiaan (sukhobuddhanamuppado) (Dhp. 194). Setelah memiliki keyakinan pada Buddha, langkah selanjutnya adalah mempraktikkan Dhamma yang telah disampaikan dengan sempurna. Mempraktikkan ajaran yang disampaikan Yang Terunggul, hasilnya juga terunggul.

Selagi Dhamma murni yang mengarah pada padamnya penderitaan masih ditemukan, berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menembusnya adalah ciri orang bijaksana. Mari berjuang mempraktikkan Dhamma, semoga kita semakin maju dalam Dhamma, semoga cita-cita luhur tercapai pada waktu yang sesuai.

Pustaka Rujukan.

  • Bhikkhu Dhammadhiro, 2019. Paritta Suci. Jakarta: Sangha Theravada Indonesia.
  • Indra Anggara (penerjemah). 2015. Anguttara Nikaya. Jakarta: DhammaCitta.
  • Indra Anggara (penerjemah). 2013. Majjhima Nikaya. Jakarta: DhammaCitta.
  • Indra Anggara (penerjemah). 2010. Samyutta Nikaya. Jakarta: DhammaCitta.
  • Indra Anggara (penerjemah). 2020. Therigatha. Jakarta: DhammaCitta.
  • YM. Phra Rajavaracariya (Win Vijano) (penerjemah), 2012. Kitab Suci Dhammapada. Bahussuta Society

Dibaca : 752 kali