x

SIAPAKAH PEWARIS DHAMMA SESUNGGUHNYA?

Atta hi attano natho - ko hi natho paro siya
attana hi sudantena - natham labhati dullabhan'ti

Diri sendirilah sesungguhnya pelindung diri. Sosok lain siapakah yang dapat menjadi pelindung? Dengan ini, seseorang yang berdiri terlatih baik, akan memperoleh perlindungan nan sungguh sukar didapat.

(Dhammapada 160)


    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa

Hari Minggu tetap menjadi hari yang secara rutin dilakukan di vihara seperti biasanya meskipun sekarang yang datang dibatasi karena situasi virus corona masih belum reda.

Pada kesempatan ini mari kita mengikuti pembahasan Dhamma tentang warisan dan pewaris.

Bhikkhu Menjadi Pewaris Dhamma

Dalam abhinhapaccavekkhana - perenungan kerap kali, salah satunya yaitu kammadayado, yang artinya terwarisi oleh perbuatanku sendiri. Dalam hal ini ada dua hal, yaitu warisan dan pewaris. Dalam Dhammadayada Sutta, Majjhima Nikaya, disebutkan bagaimana Sang Buddha memberikan bimbingan Dhamma kepada para bhikkhu, mengatakan, “Bhikkhu jadilah pewaris-Ku dalam Dhamma, bukan menjadi pewaris-Ku dalam materi. Bagaimana para siswa-Ku menjadi pewaris-Ku dalam Dhamma?”

Sang Buddha waktu itu memberikan gambaran contoh dengan makanan yang masih tersisa setelah Beliau selesai makan. Ada dua orang bhikkhu yang lapar dan lemah baru saja tiba waktu itu, memiliki cara pandang dan cara berpikir yang berbeda. Di antara dua bhikkhu itu, bhikkhu pertama tidak makan sisa makanan itu tapi bhikkhu kedua malah makan sisa makanan itu. Sang Buddha memuji bhikkhu pertama, karena dia ingat dengan kata-kata Sang Buddha sebelumnya bahwa para siswa harus menjadi pewaris dalam Dhamma dan bukan pewaris dalam materi. Makanan itu adalah materi.

Sebagai sebuah gambaran bahwa dengan memiliki pemahaman Dhamma yang cukup bisa bertahan lapar dan lemah sejak hari itu hingga besok paginya lagi.

Demikianlah Sang Buddha memberikan gambaran contoh sisa makanan kepada dua orang bhikkhu.

Perumah Tangga Menjadi Pewaris Dhamma

Dalam hal yang sedikit beda, sering diberikan gambaran khusus tentang perumah tangga untuk praktik atthasila sesuai kemampuannya sendiri. Praktik atthasila bisa setiap hari uposatha, bulan terang dan bulan gelap, bahkan bisa ditambah hari lainnya juga.

Gambaran nyata kalau perumah tangga menjalankan hidup sesuai dengan Dhamma, praktik atthasila secara baik dan benar, akan mendapatkan manfaat, yaitu: 1). Dengan praktik atthasila, secara ekonomi bisa irit karena makan hanya dua kali sehari dibandingkan dengan tidak atthasila makan bisa tiga bahkan empat kali sehari. 2). Secara mental, dengan praktik atthasila dengan baik bisa melatih kesabaran dan kesadaran juga pengendalian diri secara bertahap dari sekali di awal dan terus berkali-kali lagi praktik latihan atthasila. 3). Secara Dhamma, dengan praktik atthasila secara benar dapat menumbuhkan keyakinan dan keseimbangan batin, juga melatih mengikis keserakahan terhadap materi makanan itu. Kepribadian bagi yang praktik atthasila bisa tumbuh berkembang menjadi dewasa dan bijaksana.

Bagaimana dengan jika menjadi pewaris dalam materi? Jika menjadi pewaris dalam materi Sang Buddha mengatakan dalam Dhammadayada Sutta, Majjhima Nikaya, bahwa menjadi pewaris materi itu bisa dicerca, dicela, bahkan Sang Buddha pun bisa ikut dicela. Karena muridnya sendiri dicela, maka gurunya pun bisa ikut terkena dampaknya. Menjadi pewaris dalam materi memang belum aman, belum nyaman senyaman jika menjadi pewaris dalam Dhamma.

Jika yang dimaksud itu adalah para bhikkhu menjadi pewaris dalam Dhamma, bagaimana dengan perumah tangga, apakah juga demikian? Bagi perumah tangga juga bisa menjadi pewaris dalam Dhamma dengan sedikit berbeda.

Anak Menjadi Pewaris dalam Keluarga

Perumah tangga boleh menjadi pewaris materi, tergantung situasi dan kondisi, dengan ketentuan-ketentuan yang mengandung prinsip Dhamma. Contoh: anak-anak dalam satu keluarga, misalnya, harus mengikuti segala aturan yang terkait dengan akhlak perumah tangga secara baik dan benar.

Seperti yang terdapat dalam Sigalovada Sutta, Digha Nikaya, dikatakan ada kewajiban orangtua kepada anak dan ada kewajiban anak kepada orangtua. Kewajiban orangtua kepada anak ada lima, satu di antaranya adalah orangtua harus menyerahkan warisan kepada anak-anaknya pada saat yang tepat/sesuai.

Jika orangtua sudah menjalankan kewajibannya dengan baik demi anak-anaknya, maka anak-anaknya pun harus bisa melakukan kewajiban- kewajibannya kepada orangtuanya.

Kewajiban anak kepada orangtuanya juga ada lima, satu di antaranya adalah anak harus menjadi yang pantas untuk menerima warisan dari orangtuanya.

Kata pantas untuk menerima warisan mengandung makna bahwa anak harus menjadi anak yang baik dan benar dalam menerima warisan sehingga orangtua merasa senang dan bahagia.

Warisan dari orangtua kepada anak tidak selalu dalam bentuk materi, tapi juga bisa dalam bentuk lain, seperti tradisi keluarga yang baik, petuah-petuah, nasihat-nasihat, wawasan pengalaman baik yang banyak dari orangtua, dsb.

Pewaris Dhamma Pelindung Diri

Jika dalam judul tulisan ini di atas berbunyi: “Siapakah Pewaris Dhamma Sesungguhnya?” Harap para yang Budiman dapat memahami secara cermat kata-kata dalam judul itu. Siapakah pewaris yang sesungguhnya? Warisan artinya segala sesuatu yang diwariskan, baik itu dari orangtua kepada anak atau pun dari guru kepada murid, dsb.

Apabila ia memahami secara baik dan benar juga menerapkannya secara baik, akan mendapatkan manfaat bagi dirinya sendiri.

Jika semata-mata hanya warisan tanpa si pewaris sebagai pelaku/ praktisi Dhamma itu, maka warisan itu tidak memberi manfaat apa pun. Tentu sebagai pewaris dalam Dhamma, ia berbuat sesuatu yang sesuai Dhamma membuahkan kebahagiaan menjadi kekuatan yang melindungi bagi dirinya sendiri. Karena perbuatannya yang sesuai dengan Dhamma itulah, maka pewaris Dhamma itu sendirilah yang mendapatkan perlindungan. Jadi, siapa yang berbuat sesuai dengan Dhamma akan menjadi pewaris Dhamma sehingga akan mendapatkan perlindungan yang sukar didapat.

Sesuai dengan istilahnya pewaris dalam Dhamma, mewarisi Dhamma, maka memang semestinya ia hidup sesuai prinsip Dhamma, menggunakan Dhamma sebagai rakit untuk mencapai pantai seberang. Dengan demikian batin si pewaris dalam Dhamma menjadi tenang dan damai serta bahagia.

Itulah yang bisa terjadi bilamana menjadi pewaris dalam Dhamma.
Semoga semua makhluk berbahagia. Sekian dan terima kasih.

Dibaca : 633 kali