x

NINDĀ DAN PASAṀSĀ

Na cāhu na ca bhavissati, na cetarahi vijjati, 
Ekantaṁ nindito poso, ekantaṁ vā pasaṁsito’ti.

Tidak akan ada satu orang pun yang akan terus dipuji dan terus dicela, 
baik waktu lalu, sekarang, atau akan datang.
(Dhammapada 228)

    DOWNLOAD AUDIO

Nindā berarti celaan, caci-maki, hinaan, fitnah, kritikan, sedangkan  pasaṁsā berarti sanjungan, pujian.

Setiap orang sangat mendambakan untuk mendapatkan pasaṁsā dan tidak menginginkan untuk mendapatkan nindā. Kita akan sangat senang dan bangga jika menerima pasaṁsā, namun akan sangat kecewa dan marah jika kita  menerima nindà. Itulah kecenderungan cara kita hidup di dunia ini. Namun, hal  ini tidak sesuai dengan cara berpikir Dhamma.
Bagaimana menghadapi nindā dan pasaṁsā ?

A.    Dengan sering melakukan kontemplasi (perenungan)
Dalam Dῑgha Nikāya I.3: Jika seseorang mencela Buddha, Dhamma, dan Saṅgha engkau tidak seharusnya menjadi marah atau benci karenanya. Jika engkau menjadi demikian, hal ini akan mengganggumu, dan engkau tidak akan dapat mengetahui apakah mereka berkata benar atau salah. 
Maukah engkau menjadi seperti itu? Tidak, bhante.

Jadi jika orang-orang mencela Buddha, Dhamma, dan Saṅgha, engkau dapat menjelaskan apa saja yang tidak tepat dengan mengatakan: ”Itu tidak tepat, itu tidak benar, itu bukan cara kami, kami tidak berbuat seperti itu”.

Tetapi jika seseorang memuji Buddha, Dhamma, dan Saṅgha engkau tidak seharusnya menjadi gembira, senang, atau angkuh karenanya. Jika engkau menjadi demikian, hal ini akan mengganggumu, dan engkau tidak akan dapat mengetahui apakah mereka berkata benar atau salah.

Maukah engkau menjadi seperti itu? Tidak, bhante.
Jadi jika orang-orang memuji Buddha, Dhamma, dan Saṅgha, engkau dapat menjelaskan dengan mengatakan: ”Itu tepat, itu benar, itu cara kami, itulah yang kami perbuat”.
Jadi, janganlah marah atau benci ketika kita mendapatkan celaan, juga tidak senang, gembira, atau angkuh ketika dipuji, karena ketika kita terhanyut dalam perasaan-perasaan ini, kita tidak bisa memberikan penilaian yang benar. Kalau kita menjaga batin kita tetap seimbang, maka kita bisa memiliki pertimbangan yang baik, apakah yang dikatakannya benar atau salah.
Jika yang dikatakannya benar bahwa kita salah, maka marilah kita memperbaiki diri sehingga kita bisa lebih sempurna di masa depan. Jika yang dikatakannya benar bahwa kita benar, maka marilah kita pertahankan hal ini.

Dalam Dhammapada 76:
”Seandainya seseorang bertemu orang bijaksana yang mau menunjukkan dan memberitahukan kesalahan-kesalahannya seperti orang yang menunjukkan harta karun, hendaklah ia bergaul dengan orang bijaksana itu. Sungguh baik dan tidak tercela bergaul dengan orang yang bijaksana”.

Dalam Dhammapada 77:
”Biarlah ia memberi nasehat, petunjuk, dan melarang apa yang tidak baik. Orang bijaksana akan dicintai oleh orang yang bijak, dan akan dijauhi oleh orang yang bodoh”.

Umumnya, kita menunggu untuk mengetahui siapa diri kita sebenarnya dari kesan dan pendapat yang kita dapatkan dari orang lain. Kita mendasarkan apa yang disebut kepribadian atau gambaran diri kita atas pandangan orang lain tentang kita.

”Oh, apakah anda serius saya memang berbakat di bidang ini?” Kita bertanya ketika seseorang memuji kita. Jika kita merasa mereka jujur dan telah membuktikannya, kita akan mengubah gambaran kita lebih tinggi.

Mendapatkan masukan atau umpan balik dari orang lain memang baik, terutama umpan balik yang positif. Kita semua memerlukannya dalam hidup agar merasa baik. Namun ketika semuanya kita miliki, bahayanya adalah kita berada jauh di bawah apa yang seharusnya bisa kita capai karena kepribadian kita  selalu tergantung pada orang lain. Semua yang mereka lihat adalah apa yang beresiko bagi kita saat ini. Apa yang tidak pernah mereka lihat adalah apa yang ada di dalam diri kita menunggu untuk muncul. Karena mereka tidak dapat melihatnya, mereka akan selalu meremehkan kita.

Perjalanan Anda  berlangsung di dalam diri Anda (internal). Anda dapat berjalan semakin jauh ke dalam untuk menemukan potensi Anda. Potensi Anda adalah identitas Anda yang sebenarnya. Ia hanya menunggu untuk dihidupkan.

Biarkan dukungan positif dan pujian menjadi sekedar bumbu dalam hidup. Siapkanlah masakan Anda sendiri. Jangan melihat keluar dari Anda untuk menemukan siapa Anda. Lihatlah ke dalam dan ciptakan siapa diri Anda.

B.    Dengan sering melakukan meditasi
Sang Buddha pernah ditanya, apakah kesejahteraan sejati itu? Beliau menjawab bahwa kesejahteraan tertinggi adalah kemampuan menjaga keseimbangan pikiran seseorang walaupun ada berbagai kesulitan hidup, naik-turunnya kehidupan. Orang bisa saja menghadapi situasi yang menyenangkan atau menyakitkan, menang atau kalah, untung atau rugi, dipuji atau dicela. Setiap orang pasti menemui hal-hal ini. Tetapi apakah ia dapat  tersenyum dalam setiap  situasi, senyum yang tulus? Jika ia memiliki ketenang-seimbangan pada tingkat yang paling dalam, maka ia memiliki kebahagiaan sejati.

Dengan sering bermeditasi kita akan lebih mudah menghadapi nindā  dan pasaṁsā dalam kehidupan kita sehari-hari, karena meditasi membawa pengaruh pada kehidupan kita sehari-hari. Dengan sering bermeditasi, maka keseimbangan pikiran kita akan terjaga dengan baik.

Dibaca : 4426 kali