x

NINDA DAN PASAMSA

Na cāhu na ca bhavissati, na cetarahi vijjati,
Ekantaṁ nindito poso, ekantaṁ vā pasaṁsito’ti.

Tidak akan ada satu orangpun yang akan terus dipuji dan terus dicela,
baik waktu lalu, sekarang, atau akan datang.
(Dhammapada 228)

    DOWNLOAD AUDIO

Nindā berarti celaan, caci maki, hinaan, fitnah, kritikan, sedangkan pasaṁsā berarti sanjungan, pujian.

Jika kita memperhatikan syair Dhammapada di atas, berarti semua orang akan mengalami pujian dan celaan dalam hidupnya. Ini adalah satu kebenaran yang akan dialami oleh semua 

Nindā dan pasaṁsā muncul karena ada sebabnya, bukan tanpa sebab. Sebabnya karena kita hidup di dunia ini. Sebab lainnya adalah sikap kita suka melihat kekurangan orang lain juga kita tidak suka melihat keberhasilan orang lain. Sebab lainnya adalah kecendrungan kita selalu memberikan penilaian pada apa saja yang terjadi melalui indria kita, yaitu indria mata, telinga, hidung, mulut, kulit, dan pikiran.

Karena sebab-sebab itulah, maka kita akan mengalami nindā dan pasaṁsā dalam hidup kita. Jika kita hanya menginginkan yang satu dan menolak yang lainnya, akan membuat kita menderita.

Karena kita semua akan mengalaminya, berpeganglah pada Dhamma dalam menjalani hidup.

Orang yang tidak bijaksana menerima nindā dan pasaṁsā dalam hidupnya, demikian pula orang yang bijaksana. Yang berbeda adalah sikap atau cara menghadapinya.

Orang bijaksana memahami bahwa nindā dan pasaṁsā adalah kondisi dunia yang terus berganti dan bersifat tidak kekal. Ketika menerimanya, mereka tidak terlena ataupun kecewa.

Apakah kritikan dan pujian dibenarkan dalam agama Buddha?

Sebagai umat Buddha, apakah dibenarkan jika kita memberikan pujian dan celaan kepada orang lain?

Perhatikanlah Aṅguttara Nikāya, II, 97 berikut:

Pengembara Potaliya berkunjung kepada Sang Bhagavā, lalu Sang Bhagavā berkata kepadanya: ”Potaliya, ada empat jenis manusia di dunia ini. Siapa sajakah keempat jenis manusia itu?

1. Seseorang mengkritik apa yang pantas dikritik pada saat yang tepat dan sesuai dengan kebenaran, tetapi tidak memuji apa yang pantas dipuji.

2. Seseorang mengkritik apa yang pantas dikritik dan memuji apa yang patut dipuji pada saat yang tepat dan sesuai dengan kebenaran.

3. Seseorang memuji sesuatu yang patut dipuji pada saat yang tepat dan sesuai dengan kebenaran, tetapi tidak mengkritik apa yang pantas dikritik.

4. Seseorang tidak mengkritik apa yang pantas dikritik, dan tidak memuji apa yang patut dipuji.

Dari pernyataan ini bisa kita ketahui, apakah kritikan dan pujian dibenarkan atau tidak dibenarkan dalam Agama Buddha.

Jika kita bisa melakukannya, Sang Buddha menyebutnya sebagai ’manusia yang paling mengagumkan dan langka’.

Dibaca : 2515 kali