x

EMPAT HAL YANG DIINGINKAN TETAPI JARANG DIPEROLEH

Dhammaṁ care sucaritaṁ, na taṁ duccaritaṁ care
dhammacārī  sukhaṁ seti, asmiṁ loke paramhi ca.
Jalankanlah praktik hidup yang benar dan jangan lalai. Barang siapa yang hidup 
sesuai dengan Dhamma, akan hidup bahagia di dunia ini maupun di dunia berikutnya. 
(Dhammapada XIII: 169)

    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Sang Buddha membabarkan Dhamma kepada orang lain sesuai dengan kondisi batin orang tersebut. Beliau mengajarkan Dhamma secara sistematis dan bertingkat. Kondisi batin orang berbeda-beda, ada yang sudah siap untuk bebas secara tuntas dari ikatan duniawi maka Dhamma yang dibabarkan pun berbeda. Namun, secara umum Sang Buddha memahami bahwa masih banyak makhluk khususnya manusia terikat dengan hal-hal duniawi dan belum siap untuk melepaskan diri secara tuntas dari lingkaran saṁsāra. Untuk kelompok manusia yang demikian Sang Buddha memberikan Dhamma yang berkenaan dengan kehidupan awam yang lebih baik berdasarkan kecenderungan umum manusia. Uraian berikut ini adalah tentang bagaimana memperoleh kehidupan yang baik dan setelah kehidupan ini berakhir dapat terlahir di alam yang baik pula.

Pada suatu kesempatan ketika perumah-tangga Anāthapiṇdika mengunjungi Sang Buddha. Setelah beberapa saat Sang Buddha membabarkan tentang empat hal yang diinginkan, dicintai, dan disukai tetapi jarang diperoleh di dunia ini. Empat hal tersebut yaitu:
1.  Kekayaan datang dengan cara yang benar. Sebagai umat awam memiliki kekayaan merupakan suatu hal penting. Dengan kekayaan tersebut maka seseorang bisa memperoleh kebahagiaan memiliki karena menikmati kekayaan tersebut kemudian, menyokong keluarga, kerabat, para petapa, dan orang lain yang membutuhkan bantuan. Kekayaan yang diharapkan tentunya adalah dengan cara yang benar. Bukan hasil mencuri, menipu, menodong atau merampok. Namun pada kenyataannya sering kali orang terjebak pada perolehan kekayaan dengan cara yang keliru karena tidak memiliki pemahaman yang memadai tentang hidup atau bisa saja dituntut oleh lingkungan.
2.  Dikenal dan dikenang sebagai orang baik. Dalam menapaki hidup ini banyak orang mengharapkan agar dikenal dan dikenang sebagai orang baik. Seorang bapak misalnya berusaha agar bisa dikenang oleh anak-anaknya sebagai orang baik. Selain itu, dalam pergaulan sehari-hari mengharapkan agar namanya harum. Namun, pada kenyataannya seringkali orang justru terjerumus pada perbuatan keliru yang pada akhirnya bukan nama harum tetapi justru nama buruk yang didapat. 
3.  Panjang usia dan sehat. Setiap orang menginginkan agar sehat dan panjang usia. Dengan keadaan yang selalu sehat maka seseorang bisa menjalankan aktifitas dengan baik dan menikmati hidup lebih lama. Harapannya adalah sehat dan meninggal di usia tua. Namun, pada kenyataan tidak sedikit orang yang meninggal di usia muda, kalaupun panjang usia tetapi sebagian hidupnya dihabiskan di rumah sakit sebagai pasien.
4.  Terlahir di alam surge. Dalam kehidupan sekarang sejahtera kehidupan selanjutnya pun sejahtera. Artinya harapan pada umumnya setelah meninggal bisa hidup bahagia di alam surga atau alam manusia sebagai manusia yang sejahtera. Tetapi dalam kenyataannya adalah banyak makhluk yang terjebak dalam alam menderita.

Inilah empat hal yang diharapkan namun jarang diperoleh karena kebanyakan orang tidak mengetahui cara untuk memperolehnya. Berikut ini adalah empat cara untuk menggapai empat harapan tersebut, yaitu:
1.  Kemantapan dalam keyakinan
Artinya seseorang menempatkan keyakinannya pada pencerahan Sang Tathagata. Hal ini menekankan pada penerimaan bahwa Sang Buddha Gotama adalah guru agung yang telah mencapai pencerahan. Dengan demikian orang yang meyakini pencerahan Sang Tathagata menempatkan Sang Buddha sebagai sosok yang diteladani dan diidolakan. Menjadikan Sang Buddha sebagai guru dan idola berarti apapun yang Beliau katakan disimak dengan baik dan berusaha dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. 
2.  Kemantapan dalam moralitas
Artinya seseorang dalam kehidupan sehari-hari melaksanakan aturan moral atau sīla. Sebagai umat awam maka berusaha minimal melaksanakan lima sila dalam kehidupan sehari-hari, seperti; tidak membunuh, tidak mencuri, tidak melakukan tindakan seksual yang salah, tidak berbohong, tidak mengkonsumsi makanan dan minuman yang menyebabkan lemahnya kesadaran. Dari praktik kelima aturan moral ini secara berkesinambungan, maka dampaknya adalah mengkondisikan tercapainya; nama baik dikenang dan dikenal, panjang usia dan sehat, terlahir di alam bahagia setelah kematin tiba. 
3.  Kemantapan dalam kedermawanan 
Dalam Aṅguttara Nikāya IV, diuraikan bahwa yang dimaksud dengan kemantapan dalam kedermawanan adalah; pikirannya bebas dari noda kekikiran, tangannya terbuka, bergembira dalam melepas, tekun mempraktikkan kedermawanan, bergembira dalam memberi dan berbagi. Ada unsur senang dan ikhlas dalam batin pada saat memberi. Dalam Cūla-kammavībhanga Sutta dikatakan bahwa “seseorang yang rajin memberi makan kepada para petapa dan perbuatan memberi lainnya jika ia terlahir kembali sebagai manusia maka ia akan menjadi orang yang kaya.”
4.  Kemantapan dalam kebijaksanaan 
Kebijaksanaan yang dimaksud adalah membedakan mana tindakan yang baik dan mana yang tidak baik. Baik berarti tidak merugikan makhluk lain atau diri sendiri atau tidak merugikan kedua-duanya. Mengerti tentang keadaan pikiran yang tidak baik seperti; keserakahan, niat jahat, dan pikiran-pikiran tidak baik lainnya kemudian menumbuhkan pikiran-pikiran positif. Dengan demikian kebahagiaan pun berkembang.

Dengan mengembangkan keempat hal tersebut dalam kehidupan sehari-hari, maka empat hal yang diinginkan, diharapkan, dan dicita-citakan terkondisi untuk dapat diraih dalam kehidupan sekarang dan kehidupan-kehidupan selanjutnya selama seseorang masih berpotensi untuk terlahir kembali. Keempat hal tersebut juga menjadi kondisi yang diperlukan untuk menuju pada pembebasan secara penuh yaitu Nibbāna. 

Dibaca : 8105 kali