x

MEMAKNAI PENGHORMATAN

Pūjārahe pūjayato, buddhe yadi va sāvake  
Papañca samatikkante, tiṇṇa sokapariddave’ti.   
Seseorang pantas untuk memuja dan menghormati 
mereka yang patut untuk dipuja dan dihormati. 
Yaitu para Buddha dan para siswanya, yang pandangannya telah 
mengatasi segala konsep duniawi, yang telah mengatasi kesedihan dan ratap tangis.
(Dhammapada Syair 195 Bab XIV)

    DOWNLOAD AUDIO

Ketika malam telah larut, sesosok devata tertentu datang menerangi seluruh hutan Jeta dan mendatangi Sang Buddha, memberi hormat lalu berdiri di satu sisi. Kemudian devata berkata; “Bhante, ada enam kualitas ini mengarah pada ketidakmunduran.” Inilah yang disampaikan devata tersebut kemudian Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu tentang enam kualitas penghormatan. Yang disebut enam kualitas adalah Gārava (enam jenis penghormatan yang dapat kita laksanakan pada saat kita akan menghormat dengan beberapa hal yang bisa kita gunakan dengan sebaik-baiknya). 

Penghormatan ini tentu memiliki aspek yang harus kita perhatikan dengan saksama pada saat kita menghormat kepada Buddha, Dhamma, dan Saṅgha. Aspek yang dapat kita ketahui sebelum menghormat adalah sīla, samādhi, dan paññā. Ketika kita sendiri dengan benar melaksanakan ketiga aspek itu, maka sudah pasti penghormatan atau dihormati akan kita peroleh. Ini adalah ketiga aspek yang perlu kita lihat pada diri sendiri sebelum kita menginginkan penghormatan. 
Bentuk-bentuk penghormatan yang dimaksud adalah:
a. Penghormatan kepada guru Buddha, yang patut kita hormati, patut kita beri persembahan (pūjā). Dilandasi dengan ucapan yang baik seperti halnya membaca paritta suci dan mengulang khotbah-khotbah Sang Buddha. Kita menghormat dengan pikiran yang baik dan terkonsentrasi dengan benar. Hal selanjutnya kita bisa menghormat dengan cara memiliki perbuatan jasmani yang baik. Hal selanjutnya yang bisa kita tunjukkan adalah dengan memberikan amisa pūjā. Satu hal lagi yang sangat penting kita lakukan adalah kita mampu menghormat dengan cara Paṭipati Pūjā. Paṭipati pūjā adalah menghormat dengan cara mempraktikkan ajaran Buddha dengan penuh kesungguhan.
b. Penghormatan terhadap Dhamma ajaran Sang Buddha sangat penting untuk kita lakukan dan tidak mungkin dilewatkan. Pada saat ini umat Buddha sudah tidak diragukan dalam pengetahuan  Dhamma. Dengan pengetahuan yang dimiliki mampu melaksanakan dalam kehidupan sehari-hari tanpa ada rasa menyerah. Kita belajar Dhamma, walau sedikit pengetahuan itu namun bisa mempraktikkan dengan baik. Pengetahuan (kepandaian) akan sia-sia jika kita hanya mengumpulkan dan pada akhirnya kita tidak mempraktikkan. Maka dari itu, Buddha menekankan pada kita agar bisa menjaga Dhamma dengan cara tetap menghargai dan menghormati melalui paṭipati pūjā yaitu kita mampu melaksanakan ajaran dengan benar dan mampu membuat pengaruh pada diri sendiri, keluarga, ataupun lingkungan hidup. 
c. Menghormat kepada Saṅgha. Saṅgha dibagi menjadi dua yaitu Ariya Saṅgha dan Sammuti Saṅgha, Ariya Saṅgha adalah bhikkhu yang sudah mencapai tingkat-tingkat kesucian, sedangkan Sammuti Saṅgha adalah bhikkhu yang belum mencapai tingkat-tingkat kesucian. Akan tetapi, kedua saṅgha tersebut sama-sama siswa Sang Buddha yang masih belum sepadan dengan Sang Buddha namun tetap satu dalam saṅgha. Penghormatan kepada Bhikkhu Saṅgha saat ini sering kita lakukan, akan tetapi bagaimanakah sifat selaku umat awam, upāsaka/upāsikā, para samanera, dan para bhikkhu bisa memiliki kebiasaan menghormat yang benar-benar taat setiap saat tanpa ada rasa memilih-milih pangkat ataupun derajat yang tinggi? Menghormat dengan berbuat amisa pūjā, menghormat dengan cara menyokong para bhikkhu saṅgha dan paṭipati pūjā menghormat dengan cara mempraktikkan apa yang telah diajarkan atau disampaikan bhikkhu saṅgha. Penghormatan yang terbaik adalah jika kita mampu melaksanakan dengan sepenuh hati.
d. Penghormatan terhadap cara memperoleh pengetahuan, yang mana seseorang mampu dan berusaha agar dapat mempelajarinya. Hal tersebut dapat dijadikan pengalaman hidup agar kelak menjadi lebih dewasa walaupun umur masih muda.  Cara berpikir seseorang akan berbeda dengan adanya pengalaman yang pernah terjadi pada hidupnya. Rajin dan bersemangat adalah tujuan kita, menunggu bukanlah suatu hal yang tidak disangka, meniru terkadang juga keliru, walaupun terkadang orang menjadi penipu karena tidak tahu ia bilang tahu, membohongi diri sendiri seperti tidak punya harga diri. Hendaknya kita mau merenung pada diri kita sendiri bahwa kita masih berjuang dan berlatih Tisikkhā: paññasikkhā, cittasikkhā, dan sīlasikkhā. Melakukan penghormatan dengan praktik melaksanakan, membimbing diri, dan jika sudah benar-benar tahu maka itu adalah kewajiban kita untuk menjaga dan menghormatnya.
e. Penghormatan terhadap sikap kewaspadaan berarti kita mempunyai perhatian terhadap setiap perbuatan, ucapan, atau pikiran serta memiliki pandangan benar tentang ajaran atau pemikiran yang selaras dengan Dhamma. Kewaspadaan akan hal yang menyenangkan atau tidak menyenangkan, itu menjadi langkah awal dari kita untuk mampu mengubah dan berusaha dengan mengembangkan paṭipati pūjā, mempraktikkan ajaran Buddha, dan menghormat dengan cara menjalankan apa yang telah  diajarkan kepada kita semua. 
f. Di dalam kehidupan bermasyarakat atau di dalam keluarga, penghormatan dapat dilakukan dengan menghormati orangtua, kakek, nenek, dan guru yang ada dalam lingkungan hidup, apabila anak taat kepada orangtua maka anak itu akan melaksanakan apa yang menjadi amanat dalam rumah tangganya, kepada siapapun selalu bersikap hormat. Ketika ada tamu yang datang berkunjung ke rumah atau kantor, menerima tamu dengan baik memberikan suguhan yang ada itu juga merupakan penghormatan pada tamu dengan cara amisa pūjā (persembahan dengan barang atau hal lainnya). 
Ini adalah keenam cara yang diusulkan oleh devata sehingga Sang Buddha membabarkan Dhamma ini kepada para bhikkhu. Alangkah lebih baik jika kita bisa melaksanakan apa yang menjadi tujuan umat beragama bagi para upāsaka/upāsikā. Seyogyanya kita bisa melaksanakan keenam penghormatan ini mantap dalam diri kita untuk perkembangan dalam kehidupan ini dan kehidupan yang akan datang.

Sumber:
Aṅgguttaranikāya III. 331
Kamus umum Buddha Dhamma, Panjika

Dibaca : 7126 kali