x

Terinspirasi Ajaran Agama Buddha, Pria Ini Temukan Alat Atasi Kecemasan

San Francisco, Amerika Serikat – Terinsiprasi oleh ajaran Agama Buddha, seorang ahli ilmu saraf (neuroscientist) menemukan sebuah alat yang berguna untuk mengatasi kecemasan.

Dibutuhkan keberanian bagi seorang pria untuk berkeliaran di San Francisco mengenakan bra merah muda kekasihnya, pakaian dalam yang mengamankan stetoskop ke dadanya yang sebagian terbuka. Namun itulah yang dilakukan Rohan Dixit sehingga ia dapat mendengarkan detak jantungnya secara langsung. “Kebutuhan adalah ibu dari inovasi,” kata ahli saraf berusia 33 tahun tersebut, sambil tertawa seperti yang dilansir Ozy (14/4/2020).

Apa yang muncul dari alat aneh hari itu adalah tampal (patch) dada penghilang stres yang menarik investor dan sesama ilmuwan. Alat ini menjanjikan untuk memberikan akses gambaran jarak jauh bagi perawatan kesehatan mental.

Ini adalah misi yang lebih penting daripada sebelumnya, saat jutaan orang di seluruh dunia terkurung di rumah, bertanya-tanya apa yang akan terjadi di masa depan di tengah resesi yang sedang terjadi dan pandemi yang melemahkan.

Rohan mendirikan Lief Therapeutics, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang kesehatan mental yang dapat merevolusi perawatan di rumah bagi orang-orang yang berurusan dengan gangguan stres pasca-trauma, depresi, kecemasan dan sejumlah kondisi lainnya.

Alat yang dihasilkannya dikenakan di bawah kemeja, berupa tampal pengukur variabilitas detak jantung (HRV) secara real time. Alat ini mengajarkan para penggunanya untuk mengatur sendiri tubuh mereka di saat-saat stres atau kecemasan yang ekstrem, dan secara opsional menghubungkan mereka dengan dokter virtual.

“Di mana dampak jangka panjangnya adalah berurusan dengan konsekuensi kesehatan mental dan penderitaan akibat tragedi, yang sudah terjadi di hadapan kita,” kata Rohan yang memiliki gelar dari Northwestern, Stanford dan Harvard. “Ini jelas merupakan sebuah pengalaman yang berkembang untuk sebuah generasi.”

Didirikan pada 2015, Lief Therapeutics telah mengumpulkan 1,7 juta dolar AS dalam tiga putaran pendanaan, menurut Crunchbase. Perusahaannya telah mengirimkan 3.000 perangkat tampal dan sejauh ini telah mengumpulkan hampir 1 miliar detak jantung dari pengguna.

Sebagian besar perusahaan perawatan kesehatan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mendapatkan persetujuan dan pembelian dari para dokter untuk produk-produk mereka. Tetapi, pada bulan Januari, perusahaan tersebut telah merilis tampalan cerdas (smart patch) yang disetujui oleh Food and Drug Administration, Lief Rx, yang sudah dicakup oleh sebagian besar penyedia asuransi. Dalam uji klinis, tampal tersebut efektif dalam mengurangi tingkat kecemasan pada 88 persen peserta penelitian selama delapan minggu.

Alat itu juga “memberi orang latihan pernapasan terpandu melalui getaran,” kata Ty Canning, seorang psikolog klinis yang bekerja sebagai penasihat informal untuk Lief Therapeutics. “Ini latihan yang bijaksana, sehingga mereka dapat menggunakannya saat ini.”

“Sebagai biomarker kesehatan mental, HRV sangat menjanjikan, dan Lief telah merancang perangkat untuk mengukur dan meningkatkannya,” kata Nolan Williams, direktur penelitian klinis psikiatri intervensi di Universitas Stanford.

Awal penemuan
Perjalanan hidup Rohan untuk meredakan kecemasan dunia dimulai ketika ia berhadapan dengan kecemasannya sendiri saat remaja di Lexington, Kentucky. Sebagai putra dari pasangan dokter imigran India, ia membaca sebuah pamflet tentang meditasi berjudul “Freedom From Sadness”. Ia ingat bahwa memikirkan judul itu telah mengubah otaknya untuk selamanya.

“Itu menjadi misi hidup saya: untuk memahami apa yang telah berubah, dan mungkin menemukan cara untuk membantu orang lain menemukannya juga, melalui sains dan teknologi,” kata Rohan.

Setelah melakukan penelitian neurologis di Stanford pada 2008-09, Rohan menuju ke Dharamshala, India, tempat Dalai Lama dan para bhiksu Tibet tinggal di pengasingan.

“Saya hadir di sana begitu saja dengan ransel yang penuh dengan peralatan dan sebuah senyum,” kata Rohan. Ia berharap untuk merekam detak jantung dan gelombang otak para viharawan, dan mereka setuju. Rohan akhirnya tinggal di sana selama sembilan bulan.

Pada 2010, Rohan kembali ke AS untuk mengerjakan studi inovatif yang dipimpin oleh para sarjana Harvard Sara Lazar, yang mengkuantifikasi efek kuat meditasi pada penyembuhan trauma otak.

Segera setelah itu, Dixit menemukan BrainBot, sebuah headset untuk membantu orang-orang dengan PTSD melalui pencitraan saraf (neuroimaging), yang dibuat dari pandangannya sekilas dari dalam pikiran para viharawan Tibet tersebut.

Tetapi Rohan menyimpulkan bahwa ia perlu membuat alat yang tidak terlalu mencolok untuk dipakai jika ia ingin lebih banyak orang mengadopsi perawatan tersebut. Dan sejak pada hari itu di tahun 2014, ketika ia melihat-lihat apartemen kekasih perawatnya, melihat stetoskop, dan bra. “Saya sebenarnya tidak langsung menunjukkan kepadanya karena saya takut dia akan mengolok-olok saya,” aku Rohan.

Apa yang paling membuatnya menarik tentang perawatan yang dapat dipakai untuk kecemasan adalah bahwa alat ini tidak memiliki efek samping yang membuat kecanduan dan melemahkan yang umum ada pada obat-obatan.

“Alat ini mengajarkan Anda keterampilan [bernapas] yang dapat Anda gunakan sendiri. Setelah Anda mendapatkannya, Anda dapat melepaskan diri dari alat,” kata Rohan.

Ia memahami bahwa itu berarti dia tidak akan pernah mendapatkan keuntungan seperti yang dilakukan perusahaan farmasi.

Tetapi “hal utama yang kami lakukan sebagai perusahaan kesehatan mental adalah menyediakan akses yang terjangkau ke telemedicine,” kata Rohan. LiefRx berharga 299 dolar AS, dan dalam banyak kasus, pasien mungkin hanya harus berkontribusi untuk copayment.

Rohan masih menghadapi kendala dalam menjangkau mereka yang membutuhkan bantuan. Delapan dari 10 pekerja dengan kondisi kesehatan mental melaporkan bahwa “rasa malu dan stigma mencegah mereka mencari perawatan,” menurut Aliansi Nasional Penyakit Mental Amerika Serikat.

Secara praktis, Rohan juga harus meyakinkan konsumen yang skeptis untuk menggunakan tampal (patch) yang terhubung dengan Wi-Fi yang mungkin tidak nyaman bagi sebagian orang. “Tipis, fleksibel, tetapi Anda membawa perangkat di dada dan saat panas atau berolahraga, keringat dapat [menyebabkan masalah],” kata Canning. Namun dia tetap terkesan dengan karya Dixit sejauh ini: “Untuk seorang ilmuwan untuk menjadi CEO dan pebisnis telah luar biasa.”

Sumber: Bhagavant.com

Dibaca : 3184 kali