x

Memahami Ajaran Buddha Dengan Bersepeda

Sejak Pandemi Covid-19 melanda dunia, kesadaran orang-orang terhadap kesehatan mulai muncul. Alhasil, tak hanya menjaga pola makan dan cukup istirahat, sekarang orang-orang juga gemar berolahraga.

Di antara sekian banyak olahraga yang dilakukan, bersepeda adalah salah satu yang cukup digemari. Setiap akhir pekan, kita cukup sering mendengar suara bel sepeda yang sahut-sahutan dan melihat banyak sepeda yang berseliweran di jalan. Bersepeda tampaknya sedang menjadi tren di tengah masyarakat.

Saya pribadi senang melihat tren ini. Maklum, saat ada banyak orang yang menggowes sepeda, saya jadi merasa punya “teman seperjalanan”.

Meskipun tidak saling kenal, namun ketika berpapasan di jalanan, orang lain sering “menyapa” saya dengan membunyikan bel atau menampilkan seulas senyum. Keramahan seperti inilah yang bisa membikin motivasi bersepeda meningkat, sehingga sejauh apapun rute yang ditempuh, tanpa terasa bisa terlampaui.

Di balik “segudang” manfaat dari bersepeda, sesungguhnya ada sisi spiritual yang bisa didapat. Mungkin ini terkesan agak aneh, tetapi sejak rutin bersepeda, saya menyadari adanya kesamaan antara olahraga ini dan ajaran Buddha. Jika direnungkan masak-masak, maka sedikitnya ada 3 kesamaan yang cukup menarik dibahas.

Diawali dengan belajar

Kemahiran dalam bersepeda selalu diawali dengan belajar mengenali komponen sepeda terlebih dahulu. Kita mesti mengetahui yang mana rem, gigi, bel, pedal, dan sebagainya. Jika sudah memahami fungsi masing-masing komponen tadi, maka kita bisa menggunakannya sesuai situasi yang terjadi.

Misal, saat akan melewati jalanan yang menanjak, maka kita bisa menyetel gigi, sehingga gowesan yang dilakukan tidak terlalu berat. Hal ini mesti dilakukan untuk “menghemat” stamina, sehingga kita bisa melewati tanjakan tadi tanpa kesulitan yang berarti.

Sebaliknya, jika menemui jalanan yang menurun, maka kita mesti terampil “memainkan” rem. Jangan sampai, karena lupa “ngerem”, maka laju sepeda begitu brutal, sehingga hal itu bisa membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Demikian pula ketika kita mempelajari ajaran Buddha. Semuanya dimulai dari mendengarkan, merenungi, hingga menembusinya sebaik mungkin. Proses belajar ini tentu saja membutuhkan banyak waktu, bergantung pada tingkat intelektualitas individu masing-masing.

Ada individu yang bisa dengan cepat memahami Dhamma, seperti Yang Ariya Bahiya. Ada pula yang lambat, seperti Yang Ariya Culapanthaka. Masing-masing individu mempunyai kecepatan tersendiri dalam merealisasi Dhamma.

Agar cepat mengerti dhamma, kehadiran “sahabat se-Dhamma” (Kalyana Mitta) jelas diperlukan. Meskipun sekarang jumlahnya begitu terbatas, namun sahabat tadi bisa menunjukkan, menerangkan, dan memotivasi proses belajar Dhamma.

Dengan adanya sahabat tersebut maka kita tidak akan merasa sendirian, sebab ada orang lain yang juga berjalan ke “arah” yang sama dengan kita. Ibarat naik sepeda, kalau bersama-sama, sejauh apapun perjalanannya, akan ada yang terus memotivasi, sehingga kita bisa melewatinya dengan baik.

Dilanjutkan dengan praktik

Terjatuh adalah hal yang biasa ketika kita belajar bersepeda. Meskipun terasa sakit, namun, seiring bertambahnya “jam gowes”, maka risiko tersebut bisa dikurangi. Untuk itulah, kita mesti terus-menerus praktik menggowes sepeda.

Menjalani hal itu secara konsisten bukan hal yang mudah dilakukan. Apalagi kalau kita sudah merasa “trauma” bersepeda karena pernah mengalami hal buruk, maka keinginan untuk melanjutkan praktik bisa “luntur”. Alhasil, sebanyak apapun pengetahuan yang dimiliki, keterampilan bersepeda tetap sulit dikuasai, kalau kita sendiri sudah bersikap apatis terhadapnya.

Namun demikian, sekali kita menguasai kemahiran bersepeda, maka kemahiran tadi akan “susah” hilang. Buktinya, meskipun sempat vakum bersepeda selama bertahun-tahun, tapi ketika memutuskan gowes kembali pada tahun lalu, saya tidak merasa linglung. Saya bisa langsung lancar bersepeda karena praktik bersepeda yang sudah saya lakukan bertahun-tahun sebelumnya telah memberi saya kemampuan yang sulit dihilangkan.

Hal yang sama juga berlaku saat kita mempraktikkan Ajaran Buddha. Karena Ajaran Buddha bukan sekadar teori, maka kita mesti mau mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dilakukan agar kita bisa menguji kebenaran Ajaran Buddha. Jangan sampai kita hanya menguasai konsep yang diajarkan Buddha dengan begitu baik, tetapi malah lalai mengamalkannya.

Seperti halnya bersepeda, mempraktikkan Ajaran Buddha itu bukan hal yang mudah, terutama kalau belum terbiasa. Hal ini yang cukup sering saya alami. Meskipun sudah lama mendalami Ajaran Buddha, namun dalam keseharian, saya kerap kesulitan menjalankannya.

Misalnya saja, saya masih sering lupa berdana, walaupun Buddha sudah berulangkali menyebut manfaat berdana pada 26 abad silam. Saya juga masih sering melanggar sila, meskipun Buddha acapkali menekankannya dalam ajaran-Nya.

Meditasi? Saya sendiri sudah sekian tahun absen retret meditasi. Singkatnya, saya hanyalah siswa Buddha yang begitu payah dalam praktik. Biarpun begitu, keinginan untuk mempraktikkan ajaran Buddha belum hilang dari hati saya. Saya masih terus berupaya. Hanya saja, sekarang saya mencoba melaksanakan ajaran Buddha dengan “kecepatan” saya sendiri, dan inilah yang begitu saya nikmati sekarang.

Yang terpenting bagi saya, bukan seberapa cepat saya mencapai tujuan, tapi seberapa rutin saya menjalankan latihan. Toh kita berlatih ajaran Buddha bukan untuk “balapan”.

Diakhiri dengan pencapaian

Dalam bersepeda, sebagus apapun persiapan yang sudah kita lakukan, tetap ada kejadian tertentu yang sulit diprediksi. Dari pengalaman yang sudah-sudah, hal ini beberapa kali sempat saya alami.

Contohnya, rute sepeda saya mendadak berubah karena ada pemblokiran jalan, cuaca tiba-tiba jadi kurang bersahabat sehingga saya mesti mengakhiri acara sepedahan lebih cepat, dan peristiwa yang kurang enak lainnya.

Seperti halnya ajaran Buddha tentang Dukkha, dalam kehidupan, akan ada waktunya kita mendapat kejadian yang kurang mengenakkan semacam itu. Hal ini adalah yang wajar.

Meski begitu, terkadang respon yang kita berikan kerap membuatnya menjadi tidak wajar. Karena susah menerima kenyataan akibat besarnya nafsu keinginan terhadap sesuatu, maka kita sering merasa kecewa, sedih, atau bahkan marah.

Yah manusiawi sih, siapapun tentu pernah mengalaminya, termasuk saya. Walaupun demikian, sejak memahami ajaran Buddha, sedikit demi sedikit saya belajar melepas nafsu yang bisa menimbulkan emosi tadi, belajar melakukan sesuatu tanpa menaruh harapan yang terlampau besar, belajar menerima kenyataan meskipun hal itu “berseberangan” dengan harapan saya sebelumnya.

Alhasil, kalau yang terjadi adalah sesuatu yang di luar harapan, maka saya tidak begitu kecewa, sedih, atau bahkan marah.

Apakah hal itu sulit dilakukan? Tentu saja. Namun, kalau kita sudah belajar bersikap “legawa” terhadap kejadian apapun yang dialami, maka yang muncul adalah kedamaian yang begitu “sejuk”. Kita bisa berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan orang lain, dan berdamai dengan semua kondisi. Inilah tujuan dari ajaran Buddha, yakni melepaskan nafsu sebanyak mungkin, sehingga bisa merasakan kedamaian sebanyak mungkin.

***
Pada akhirnya bersepeda dan ajaran Buddha sama-sama memberi kita kesehatan. Dengan rutin bersepeda, tubuh kita menjadi jauh lebih lebih sehat. Alhasil, berbagai kuman penyakit pun sulit menyerang tubuh.

Sementara, ajaran Buddha lebih fokus meningkatkan kesehatan pikiran. Dengan menjalankan ajaran Buddha sebaik mungkin, kita dapat terhindar dari emosi negatif yang dapat membikin hidup menjadi tidak tenang.

Oleh sebab itu, demi menjaga kesehatan tubuh dan pikiran, bersepeda dan belajar ajaran Buddha sama-sama penting, sebab apabila hal itu dilakukan dengan baik, maka kita bisa menjalani hidup seutuhnya.


Sumber: BuddhaZine.com

Dibaca : 1395 kali