x

Cara Hidup Berkelanjutan Di Kamboja: Para Bhikkhu Budidaya Pertanian Organik

Ketika kebutuhan akan gaya hidup berkelanjutan semakin besar, banyak bhikkhu di Kamboja telah mendesain ulang kuil dengan kebun yang memungkinkan mereka untuk menanam bahan makanan mereka sendiri.

Pagoda Serei Sakor Daun Sdoeung, yang terletak di Desa Snay Proem di Distrik Preah Sdach, telah menyediakan sebuah ruang hijau di mana para bhikkhu dapat menanam berbagai jenis beras, buah-buahan, dan sayuran, termasuk diantaranya selada, kangkung, bayam, kale, terong, tomat, jagung, serai, labu, kelapa, bunga lily, pisang, nangka, mangga, jambu, dan pepaya.

Diprakarsai oleh kepala kuil – YM Im Teang, sekitar 10 tahun yang lalu, para bhikkhu sejak itu telah menanam lebih dari 3.000 pohon di tanah sekitar kuil serta mengikuti rutinitas ramah lingkungan lainnya, seperti menghindari penggunaan kantong plastik.

“Saya menghargai kesejahteraan spiritual dan fisik dan saya percaya bahwa menanam buah dan sayuran dapat berkontribusi pada kedua aspek kehidupan itu. Menanam sayuran organik membantu para bhikkhu dan penduduk desa setempat untuk aktif melalui latihan fisik saat mereka berkeringat ketika sedang bercocok tanam, ”ujar YM Teang. “Pagoda tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli sayuran dan risiko mengonsumsi makanan yang tidak sehat” (The Phnom Penh Post).

“Kita menghargai hidup kita [sendiri] dan kita tidak boleh menyakiti orang lain. Bahkan pohon adalah makhluk hidup dan kita tidak boleh merusak pohon atau alam karena mereka adalah makhluk hidup sepertihalnya kita. Saya suka pohon dan tanaman,” jelas YM Teang. “Jika kita harus menebang satu pohon, maka kita harus menanam kembali dua pohon. Pohon menyediakan kanopi hijau bagi bumi dan makhluk hidup lainnya. Mereka melindungi bumi dari pemanasan global” (The Phnom Penh Post).


Prihatin akan keberlanjutan terhadap aspek kesehatan, ekonomi, dan lingkungan, para bhikkhu hanya menggunakan pupuk alami dalam pertanian mereka.

“Saya pikir menanam sayuran organik tidaklah sulit. Teknik ini telah diajarkan oleh nenek moyang kita,” kata YM Teang. “Menanam dan memakan apa yang Anda tanam baik untuk kesehatan [seseorang]. Saat Anda sehat, Anda dapat belajar dan bekerja secara efektif. Bukan tanpa alasan orang mengatakan ‘kamu adalah apa yang kamu makan’” (The Phnom Penh Post).

Pagoda Serei Sakor Daun Sdoeung membantu penduduk desa setempat untuk menanam bahan organik, berbagi bibit padi dengan mereka ketika musim hujan dimulai. Pagoda juga menawarkan stok beras dan sayuran kepada orang-orang yang membutuhkan.

“Kami memiliki lebih banyak sayur dan buah daripada yang kami butuhkan untuk konsumsi sehari-hari. Prioritas kami adalah menyimpannya untuk diberikan kepada penduduk desa setempat. Orang-orang yang datang dari jauh juga bisa mendapatkan bahan makanan dari kami jika masih memiliki stok,” kata YM Teang (The Phnom Penh Post).

Dibangun pada tahun 1874, Pagoda Serei Sakor Daun Sdoeung hampir hancur selama periode Khmer Merah (1975-79). Setelah jatuhnya rezim brutal, para bhikkhu dan penduduk desa mulai bekerja bersama untuk membangun kembali situs ini. Sekarang pagoda ini adalah salah satu pusat agama Budha yang paling terhormat dari 500 pagoda di Provinsi Prey Veng, dan terkenal sebagai kuil terhijau di Kamboja.


Menurut The Phnom Penh Post, pada 2018 Kamboja memiliki 4.932 pagoda, termasuk 563 kuil kuno. Terdapat 68.654 bhikkhu yang kebanyakan mempraktikkan agama Buddha Theravada, yang mengandalkan sumbangan dan dana yang dikumpulkan setiap hari untuk menyokong mereka karena para bhikkhu mengabdikan hidup mereka untuk pengembangan spiritual. Namun, orang-orang memuji praktik pertanian Pagoda Serei Sakor Daun Sdoeung sebagai contoh yang baik dari hidup mandiri dan berkelanjutan.

“Sungguh inspirasi yang hebat untuk kita semua. . . cara hidup berkelanjutan. Saya harus mengunjunginya ketika saya berada di Kamboja,” komentar Srey Thon, seorang pengikut halaman Facebook The Phnom Penh Post.

Sumber : buddhistdoor.net/ Dipen Barua

Sumber: BuddhaZine.com

Dibaca : 1271 kali