x

Sarasehan Kebangsaan Untuk Persatuan Dan Kemajuan Indonesia

Menyambut Hari Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 2020 yang merupakan tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia, Young Buddhist Association (YBA) menghadirkan sebuah acara kolaborasi dengan semangat dan tekad memajukan dan mempersatukan Bangsa Indonesia, yaitu Sarasehan Kebangsaan.

Acara berupa talkshow bertemakan “Indonesia Prasetya Jagaddhita” yang artinya Sumpah Persatuan Indonesia yang diselenggarakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Jum’at (23/10). Acara ini terselenggarakan berkat kolaborasi YBA dengan Universitas Surabaya (UBAYA) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dari berbagai universitas di Surabaya.

Sarasehan Kebangsaan mengolaborasikan dua tokoh inspirasional Indonesia yaitu Inaya Wulandari Wahid (anak alm. Gus Dur) dan Dr. Ahmad Zainul Hamdi M. Ag., serta Guru Besar agama Buddha yaitu YM. Bhante Dhammasubho yang dimoderatori oleh David Santoso, S. Ak., alumni UBAYA yang merupakan entrepreneur muda dan founder dari SMA Selamat Pagi Indonesia dan Bee University.

Inaya Wulandari Wahid sebagai salah satu pendiri organisasi Gusdurian Indonesia menyampaikan nilai-nilai pluralisme yang diwariskan oleh almarhum ayahnya sebagai satu kekuatan untuk persatuan Indonesia yang lebih kuat.

“Masyarakat itu memegang kendali yang sangat besar dalam sebuah negara. Masyarakat bisa menjadi pegawas dalam pergerakan demokrasi. Oleh karenanya perbedaan-perbedaan yang ada dalam masyarakat Indonesia ini mesti mendapatkan perlakukan yang sama,” jelas dia.

“Kekuatan Indonesia berada pada keragamannya, itulah yang diusahakan oleh Gus Dur. Itu bisa menjadi modal untuk kemajuan Indonesia. Keragaman bukan hanya tentang agama, tapi banyak hal perbedaan yang ada di Indonesia baik ras, suku, budaya dan lain sebagainya,” sambungnya.

Nilai-nilai lainya yang disampaikan Inaya adalah kecintaan terhadap budaya bangsa sendiri sebagai identitas suatu bangsa. “Belajar dari almarhum Gus Dur bahwa beliau mau belajar apa saja sekalipun itu hal dari luar negeri, akan tetapi Gus Dur tetap menjadi orang Indonesia.”

“Nilai toleransi terhadap apa yang datang dengan tetap menjaga budaya sendiri sebagai identitas bangsa Indonesia inilah yang patut kita teladani dari almarhum Gus Dur. Karena tidak selalu apa yang dari luar itu bagus, kita sudah punya begitu banyak nilai untuk kita pahami dan kita pegang,” imbuhnya.

Sementara itu Bhante Dhammasubho yang medapatkan kesempatan kedua untuk berbicara menyampaikan nilai-nilai Buddhis yang bisa diaplikasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Semangat kebangsaan adalah semangat yang dialiri nilai-nilai kemanusiaan dan kebudayaan. Berkebangsaan berarti berbicara persaudaraan dan kesatuan juga. Manusia berbahan baku yang sama (4 unsur) yaitu tanah, api, air dan udara. Karena itu kita mengenal satu kata saudara, bahwa kita ini berasal dari satu udara yang sama. Makanya kalau sudah kumpul tidak ada sekat, sekat itu bisa muncul tergantung usaha masing-masing,” katanya.

“Kalau yang rajin bekerja menjadi orang kaya biasanya juga bertemu dengan orang-orang yang sama, yang rajin belajar menjadi orang intelektual juga ketemu dengan orang-orang intelek, itu contohnya bagaimana sekat itu muncul. Tapi pada dasarnya semua manusia tetap berbahan baku sama, ini dasarnya yang harus kita pahami kalu berbicara kebangsaan,” tuturnya.

Lebih lanjut Bhante menjelaskan bagaimana persatuan dan keutuhan sebuah negara tetap terjaga. “Negara akan utuh apabila bangsannya tidak melupakan sejarah, rakyatnya tidak melupakan seni sastra dan budaya bangsa sendiri, para pemimpin malu berbuat jahat dan takut akan akibat perbuatan jahat. Manusia akan selamat bukan karena pagar berduri, tapi keselamatan akan terwujud dengan pagar hati,” imbuhnya.


Menurut Bhante, negara Indonesia sudah mewarisi suatu formula dari para nenek moyang yang sudah teruji dan terbukti sejak 200 tahun SM sebagai kekuatan untuk kemajuan suatu bangsa.

Sejak dahulu menurutnya negara kita telah mempunyai lima butir sabuk pengikat masyarakat yaitu ideologi nasional namanya Pancasila, mempunyai kebangsaan nasional bangsa Indonesia, mempunyai bahasa kesatuan/ bahasa nasional, memiliki budaya kearifan lokal, memiliki budaya taat spiritual (wilayah batiniah, wilayah kebudayaan).

“Pemimpin-pemimpin di Indonesia tidak hanya butuh pandai secara intelektual tapi juga secara spiritual. Inilah yang menjadi kekuatan serta modal untuk pertahanan dan kemajuan Indonesia,” pungkas Bhante.

Pembicara ketiga adalah seorang pencetus intisari nilai-nilai Gusdurian yaitu Ahmad Zainul Hamdi yang menjelasksn nilai-nilai kemanusiaan yang diteladankan oleh alm. Gus Dur sebagai penguat persatuan bangsa serta kehidupan berbangsa sesuai asas-asas ideologi Pancasila.

“Gus Dur hadir dengan membawa nilai-nilai kemanusiaan berupa pembelaan terhadap orang-orang tertindas, orang yang di bawah, kelompok minoritas. Ini saya dapatkan dari Gus Dur,” ungkapnya.

Tahun 1998 menurutnya Gus Dur menjadi tokoh penting dalam melawan sistem otoriter di bawah rezim pemerintahan waktu itu. Bahkan waktu itu kalau mau mengundang Gus Dur harus berhadapan dengan aparat. Tapi Gus Dur tidak pernah kehilangan akal sehat tentang Indonesia dan Pancasila, payung ideologi yang mengayomi bangsa yang majemuk.

“Gus Dur begitu menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila. Gus Dur pernah berkata pada waktu gencar isu tentang PKI ‘lha wong sama PKI saja kok takut,’ dengan santainya beliau berkata seperti itu. Lha sementara kita yang terpelajar malah hancur-hancuran karena isu PKI. Bagaimanapun keadaan kita tapi jangan sampai kehilangan nilai-nilai kemanusiaan kita. Ini yang saya tangkap dari apa yang telah dilakukan oleh almarhum Gus Dur demi kemajuan Indonesia,” tandasnya.

Summer: BuddhaZine.com

Dibaca : 99 kali