x

Berlibur Ke Banyuwangi, Jangan Lupa Mampir Ke Vihara Tirta Vana Jaya

Kabupaten Banyuwangi, selain menawarkan destinasi wisata alam yang menawan, khususnya pantai berpasir putih dan bersih, juga merupakan salah satu kabupaten di Jawa Timur yang terdapat komunitas umat Buddha. Karena itu, sudah tentu pula terdapat banyak vihara yang bisa dikunjungi. Salah satunya Vihara Tirta Vana Jaya, Dusun Krajan, Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi.

Vihara Tirta Vana Jaya tak hanya memiliki arsitektur unik dan menarik. Ruang dharmasala sebagai bangunan utama dibuat dengan konsep terbuka. Selain itu, fasilitas vihara juga terbilang cukup lengkap. Terdapat kuti sebagai tempat tinggal bhikku sangha, ruang bermalam bagi para tamu, ruang kesenian, dapur umum, malahan juga terdapat ruang meditasi khusus.

Posisi Vihara Tirta Vana Jaya juga terbilang strategis. Vihara ini berada persis di kanan jalan menuju destinasi wisata Pantai Teluk Ijo, dan Pantai Sukamade. Jarak dari Pantai Teluk Ijo tak sampai 5 km. Karena itu, Vihara Tirta Vana Jaya sangat potensial sebagai tempat menginap para tamu, khususnya umat Buddha yang sedang berlibur ke wisata alam, khususnya pantai di Banyuwangi.

Seperti yang disampaikan oleh Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, pada waktu peresmian Vihara Tirta Vana Jaya, Sabtu (4/5/2018), lalu. Posisi strategis vihara, selain menjadi tempat ibadah harusnya juga bisa digunakan sebagai tempat usaha mikro.

“Mengingat posisi vihara yang berada di jalan yang menuju tempat wisata Pantai Teluk Hijau dan Pantai Sukamade, Anas juga menyarankan halaman tempat ibadah bisa dimanfaatkan untuk pengembangan usaha mikro keumatan,” seperti yang dikutip dari Liputan6.com.

“Misalnya teman-teman umat Buddha di sekitar sini bisa membuka usaha ritel dan sejenisnya. Atau bisa pula kolaborasi dengan start up teknologi ritel Warung Pintar yang sudah hadir di Banyuwangi,” papar Anas.


Kilas sejarah Vihara Tirta Vana Jaya

Vihara Tirta Vana Jaya (yang sekarang) dibangun sejak tahun 2012 dan diresmikan purna pugar pada tahun 2018. Acara peresmian vihara ini dihadiri oleh Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Ketua Umum Sanggha Theravada Indonesia, Bhikkhu Subhapannyo Mahathera, para bhikkhu sangha, dan umat Buddha.

Hingga saat ini, terdapat sekitar 50 kepala keluarga yang aktif di vihara ini. Mereka rutin melakukan puja bakti setiap hari Minggu malam, dan Rabu malam sebagai pengganti puja bakti anjangsana umat di masa pandemi. Kegiatan lainnya yaitu purnamaan (setiap malam tanggal 15 kalender Jawa) secara bergiliran oleh tiga vihara dari Desa Kandangan dan Sarongan.

Sebelum tahun 2012 umat berkegiatan di vihara lama yang lebih kecil yang saat ini menjadi sebagian halaman vihara. Di masa tahun 90an bahkan umat hanya berkegiatan di cetiya berupa bangunan dari bambu (gedhek), rumah umat yang dijual untuk digunakan puja bakti umat. Sekitar tahun 1993 mulai membangun vihara di lokasi yang saat ini digunakan.

Para umat saat ini pada awalnya merupakan para penganut kepercayaan Buddha Jawi Wisnu kemudian beralih agama Buddha sejak adanya peraturan pemerintah yang mewajibkan memeluk salah satu agama resmi pada rentang tahun 67-68. Pak Kaseman dari Desa Kandangan disebut-sebut sebagai tokoh pertama yang memeluk agama Buddha, kemudian meluas hingga Desa Sarongan.

“Dulu awalnya ada Pak Kaseman di Desa Kandangan menjadi tokoh pertama agama Buddha. Kemudian dari desa kami ada mendiang Mbah Sarijo yang belajar agama Buddha ke Desa Kandangan dan akhirnya banyak orang-orang sini juga yang ikut belajar dan menganut agama Buddha,” ungkap Pak Sumadi, salah satu umat Buddha Sarongan.

Semenjak kemunculan agama Buddha hingga saat kunjungan BuddhaZine pada Jum’at (18/12), perkembangan umat Buddha di Sarongan mengalami kemajuan yang cukup baik. Bahkan saat ini juga sudah ada umat yang menjadi Bhikkhu yaitu Bhante Virasilo yang juga masih cucu sesepuh umat Buddha Sarongan, mendiang Mbah Sarijo.

Selain terdapat cukup banyak umat Buddhanya, menurut Wagimun, umat Buddha Sarongan, Desa Sarongan juga menjadi teladan dalam kehidupan toleransi beragama, “Ada agama Hindu, Buddha, Kristen, Katolik, dan Islam. Tetapi kehidupan masyarakat di sini tetap berjalan secara harmonis dan rukun, bahkan kalau di wilayah Pesanggaran ini Sarongan menjadi teladan untuk toleransi umat beragama” katanya.

Sumber: BuddhaZine.com

Dibaca : 963 kali