Cancel Preloader

Semoga Berbahagia

Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, tidak jarang kita mendapat berita kematian. Apakah dari orang yang tidak begitu kita kenal, kerabat dekat, jauh, bahkan keluarga sendiri. Inilah sebuah kenyataan yang harus dihadapi. Tidak satu pun makhluk yang belum pernah menghadapi kematian dan kelak juga akan kembali menyambut kematian.

Akan tetapi, momen tersebut membuat pihak-pihak yang ditinggalkan memunculkan beragam kondisi hati. Ada yang larut dalam kedukaan, tetapi juga ada yang tergugah, memunculkan pengetahuan terkait ketidakkekalan, kesukarbertahanan, serta ketanpadirian.

Mengetahui beragam keterguncangan batin yang wajar muncul tersebut, kerabat atau relasi dari pihak berkabung umumnya menyampaikan ungkapan simpati, guna memberikan dukungan moril sebagai wujud kewelasasihan.

Tidak jarang, ungkapan simpati ini disertai dengan harapan semoga mendiang tersebut lahir di alam bahagia. Khususnya, jika yang mengucapkan adalah seorang Buddhis, karena memahami bahwa adanya kelahiran kembali sesuai dengan perbuatan yang telah dilakukan oleh masing-masing pribadi. Ini memang tidak sepenuhnya keliru.

Akan tetapi, apakah harapan tersebut benar-benar sudah sesuai dengan yang diajarkan oleh Sang Guru? Apakah terlahir di alam bahagia memang merupakan tujuan utama seorang siswa Sang Buddha? Dalam sudut pandang lain, apakah kembali terlahir merupakan kebahagiaan?

Terlebih dahulu, kita perlu memahami apakah yang disebut sebagai alam bahagia. Secara umum, alam bahagia mengacu kepada alam-alam sugati yang termasuk dalam alam-alam pemuasan kesenangan indriawi, yakni: alam manusia beserta keenam jenis alam dewa. Makhluk-makluk terlahir di alam-alam tersebut bersebab buah kebajikan berupa pemberian dan penjagaan tata susila, yang merupakan bagian praktik Dhamma.

Namun, kebahagiaan di alam-alam pemuasan kesenangan indriawi masih kalah dengan kebahagiaan di alam besar, yakni alam-alam brahma rupa dan nirupa. Kelahiran di alam besar membutuhkan upaya yang lebih tinggi, yakni adanya pengembangan batin hingga mantap dalam semadi.

Akan tetapi, kelahiran di semua alam tersebut tetaplah kelahiran. Sehingga, meskipun ada kebahagiaan, tetapi tidak bisa dikatakan sebagai kebahagiaan sesungguhnya. Demikian, kelahiran di mana pun semestinya tidak menjadi tujuan utama siswa Sang Buddha. Lantas, apakah yang harusnya menjadi tujuan utama? Pencapaian Nibbana.

Lebih-lebih, kita tidak pernah mengetahui sejauh apa seseorang menjalankan praktik Dhamma. Tidak semestinya kita menganggap rendah hanya karena sosok tersebut adalah perumah tangga. Dalam Pustaka Suci dan Pengulas, tidak sedikit dikisahkan perumah tangga yang mencapai tingkatan kesucian. Meskipun saat ini sulit mengetahui siapa saja yang sudah mencapai tingkatan kesucian, bukan berarti tidak ada.

Bisa dibayangkan, semisal seseorang yang telah tiba pada arahattaphala sebelum meninggal. Bersebab tidak mengetahui hal tersebut, setelah dirinya meninggal, kita mengungkapkan pengharapan semoga dia lahir di alam bahagia. Bukankah ini sebuah paradoks?

Lantas bagaimanakah ungkapan atau harapan yang lebih netral, yang sesuai dengan cara pandang Dhamma? Kalau dipikir-pikir, kita terbiasa mengembangkan pengharapan semoga semua makhluk berbahagia. Ini adalah wujud cinta kasih yang memang sepatutnya dikembangkan. Berbahagia di sini tidak hanya sebatas terlahir di alam bahagia, tetapi juga termasuk tercapainya Kebahagiaan Tertinggi, yakni Nibbana.

 

Dilandasi oleh pemikiran tersebut, mengucapkan harapan semoga mendiang berbahagia, tanpa embel-embel terlahir di alam mana pun, adalah satu pilihan yang lebih sederhana. Sejauh ini, tidak bertentangan dengan apa yang disabdakan oleh Sang Guru. Meskipun demikian, setiap pribadi memiliki pertimbangan kebijaksanaan masing-masing dalam menyampaikan pengharapan yang semestinya tulus dari hati, dibentuk oleh pemikiran yang bersumber dari cara pandang personal.

Bhikkhu Thitasaddho

https://www.dhammacakka.org

Related post