Empat Usaha Luhur Menuju Perubahan Nyata
- Puja Bakti Umum
- December 28, 2025
- 20 minutes read
Abhittharetha kalyāṇe, pāpā cittaṃ nivāraye.
Dandhañhi karoto puññaṃ, pāpasmiṃ ramatī mano.
Bergegaslah berbuat kebajikan, dan kendalikan pikiranmu dari kejahatan;
barang siapa lamban berbuat bajik, maka pikirannya akan senang dalam kejahatan. (Dhammapada, Papa Vagga 116)
PENDAHULUAN
Pada saat embun pagi masih membasahi bumi dan cahaya mentari mulai menyapa dengan lembut, sering kali muncul sebuah kerinduan di dalam batin seseorang, kerinduan untuk menjadi sosok yang lebih baik dari hari kemarin. Banyak orang terbangun dengan membawa beban yang sama; kecemasan yang belum tuntas, kemarahan yang masih membekas, atau kegelisahan tentang masa depan yang belum pasti. Di tengah keheningan, penting bagi seseorang untuk bertanya pada diri sendiri: “Sudahkah hidup ini benar-benar bergerak menuju perubahan, ataukah hanya sedang berputar-putar di lingkaran yang sama?”
Sering kali seseorang berharap hidupnya berubah secara ajaib. Doa-doa dipanjatkan memohon kedamaian, namun di saat yang sama batin masih memupuk benih-benih konflik. Kebahagiaan diinginkan, namun tindakan sehari-hari justru menjauhkan seseorang dari sumber kebahagiaan. Perubahan nyata tidak datang dari luar; ia adalah sebuah proses internal yang membutuhkan ketulusan dan keberanian.
Dalam ajaran Guru Agung Buddha, perubahan bukanlah sebuah kebetulan, melainkan arsitektur yang dibangun sendiri melalui upaya yang sungguh-sungguh. Nasihat Sang Buddha dalam Aṅguttara Nikāya 4.69 Padhānasutta, menjadi perenungan dan menjadi petunjuk sehingga memberikan peta jalan mengenai empat jenis usaha yang menyentuh kedalaman spiritual. Jika batin diibaratkan sebagai sebuah taman, maka tanpa perhatian yang saksama, rumput liar akan tumbuh dengan sendirinya. Demikian pula dengan batin manusia; tanpa usaha yang luhur, kekotoran batin seperti keserakahan dan kebencian akan tumbuh subur secara alami.
Perubahan nyata dimulai ketika seseorang berani mengakui adanya “benih buruk” di dalam diri yang harus dicegah, serta “benih baik” yang mulai layu karena jarang disiram. Dunia luar sering kali hanyalah cermin. Jika batin penuh dengan kekacauan, maka dunia akan nampak kacau. Namun, dengan melakukan empat usaha luhur ini, perlahan-lahan cara seseorang melihat dunia pun akan berubah. Inilah esensi dari perubahan nyata; bukan berpindah tempat, melainkan berpindah sudut pandang dan kualitas batin.
Banyak orang merasa lelah dalam berbuat baik karena hasilnya tidak terlihat seketika. Namun, sebagaimana matahari yang merangkak perlahan mengusir kegelapan, setiap usaha untuk menahan satu kata kasar atau memaafkan satu kesalahan adalah langkah menuju perubahan besar. Melalui Aṅguttara Nikāya 4.69 Padhānasutta, Sang Buddha mengajarkan agar seseorang tidak hanya menjadi sosok yang “sibuk”, tetapi menjadi sosok yang “sadar”. Kesibukan tanpa kesadaran hanya membawa kelelahan, tetapi usaha yang disertai kebijaksanaan akan membawa pada pembebasan.
Momen transisi dalam hidup selayaknya digunakan untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk keinginan duniawi. Penting bagi seseorang untuk masuk ke dalam “ruang tunggu” batinnya dan memeriksa; apa yang sedang tumbuh di sana? Apakah kebencian yang kian membesar, ataukah kasih sayang yang kian meluas?
Ajaran ini mengajak kita semua untuk tidak pasif terhadap nasib. Melalui semangat yang membara namun tetap tenang (viriya), seseorang dipanggil untuk menjadi nakhoda atas kapal kehidupannya sendiri. Jika selama ini kerja keras terasa hampa, mungkin itu karena usaha yang dilakukan belum terarah pada empat pilar luhur, yaitu:
Mencegah munculnya kejahatan yang belum muncul.
Meninggalkan kejahatan yang sudah muncul.
Mengembangkan kebajikan yang belum muncul.
Memelihara kebajikan yang sudah muncul.
Melalui pemahaman ini, diharapkan kita semua tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga memperkokoh tekad. Tekad untuk berhenti menanam duri dan mulai menanam bunga di taman batin sendiri. Sebab, hanya dengan perubahan batinlah, kedamaian sejati dapat dirasakan dan dibagikan kepada dunia.
ISI
Ada empat usaha luhur disampaikan Sang Buddha dalam Aṅguttara Nikāya 4.69 Padhānasutta, yang menjadi kunci agar perubahan kita bukan sekadar angan-angan, melainkan realitas yang menetap.
“Para bhikkhu, ada empat usaha ini. Apakah empat ini? Usaha dengan mengendalikan, usaha dengan meninggalkan, usaha dengan mengembangkan, dan usaha dengan melindungi.
“Dan apakah, para bhikkhu, usaha dengan mengendalikan? Di sini, seorang bhikkhu membangkitkan keinginan untuk tidak memunculkan kualitas-kualitas buruk yang tidak bermanfaat yang belum muncul; ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengerahkan pikirannya, dan berupaya. Ini disebut usaha dengan mengendalikan.
“Dan apakah usaha dengan meninggalkan? Di sini, seorang bhikkhu membangkitkan keinginan untuk meninggalkan kualitas-kualitas buruk yang tidak bermanfaat yang telah muncul; ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengerahkan pikirannya, dan berupaya. Ini disebut usaha dengan meninggalkan.
“Dan apakah usaha dengan mengembangkan? Di sini, seorang bhikkhu membangkitkan keinginan untuk memunculkan kualitas-kualitas bermanfaat yang belum muncul; ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengerahkan pikirannya, dan berupaya. Ini disebut usaha dengan mengembangkan.
“Dan apakah usaha dengan melindungi? Di sini, seorang bhikkhu membangkitkan keinginan untuk mempertahankan kualitas-kualitas bermanfaat yang telah muncul, untuk ketidak-mundurannya, meningkatkan, memperluas, dan memenuhinya melalui pengembangan; ia berusaha, membangkitkan kegigihan, mengerahkan pikirannya, dan berupaya. Ini disebut usaha dengan melindungi.
Usaha mencegah/ mengendalikan (Saṃvara padhāna)
Usaha yang pertama adalah usaha mencegah. Di sini, Sang Buddha mengajarkan kita untuk waspada sebelum api kekotoran batin menyala. Ibarat sebuah benteng yang kuat, kita harus menjaga pintu-pintu indra kita; mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran agar hal-hal buruk yang belum muncul tidak masuk ke dalam batin.
Sering kali, masalah dalam hidup kita muncul karena kita membiarkan pintu terbuka. Kita membiarkan gosip masuk ke telinga, kita membiarkan pemandangan yang memicu iri hati masuk ke mata, dan kita membiarkan pikiran negatif masuk tanpa filter. Usaha mencegah berarti kita memiliki sati (perhatian penuh) untuk berkata: “Cukup sampai di sini, hal ini tidak berguna bagi kedamaian batin saya.” Ini bukan berarti kita menutup diri dari dunia, tetapi kita memilih apa yang layak masuk ke dalam ruang suci pikiran kita.
Usaha meninggalkan (Pahāna padhāna)
Usaha kedua adalah usaha meninggalkan atau mencabut rumput liar yang sudah terlanjur tumbuh. Kita semua manusia biasa yang pasti pernah terjatuh dalam kemarahan, keserakahan, atau keakuan.
Sang Buddha tidak meminta kita untuk tidak pernah salah, tetapi Beliau meminta kita untuk tidak “memelihara” kesalahan tersebut. Usaha meninggalkan adalah keberanian untuk melepaskan dendam yang sudah lama bercokol, mencabut akar kebencian yang sudah menahun, dan membuang kebiasaan buruk yang merusak diri. Ketika pikiran buruk muncul, kita tidak memberinya “makan” dengan terus memikirkannya, melainkan kita segera melepasnya dengan kesadaran bahwa pikiran itu tidak membawa manfaat.
Usaha Mengembangkan (Bhāvanā padhāna)
Setelah batin kita bersih dari gangguan melalui pencegahan dan pelepasan, kita masuk ke tahap ketiga; usaha mengembangkan. Tanah yang kosong setelah rumput liarnya dicabut harus segera ditanami dengan bunga-bunga kebajikan. Jika tidak, rumput liar akan tumbuh kembali.
Inilah saatnya kita secara sadar menumbuhkan kualitas luhur seperti kasih sayang (metta), kemurahan hati (dana), dan kebijaksanaan (pañña). Mengembangkan kebajikan membutuhkan disiplin. Sama seperti otot yang perlu dilatih agar kuat, batin yang penuh kasih juga perlu dilatih setiap hari. Kita sengaja melatih diri untuk tersenyum, melatih diri untuk sabar saat macet, dan melatih diri untuk tetap tenang saat dihina. Inilah usaha aktif untuk mengisi kekosongan batin dengan cahaya Dhamma.
Usaha mempertahankan/ melindungi (Anurakkhaṇā padhāna)
Usaha yang terakhir dan sering kali paling sulit adalah usaha mempertahankan. Banyak orang bisa menjadi baik dalam satu hari, tetapi sedikit yang bisa tetap baik dalam jangka panjang. Usaha ini adalah tentang konsistensi atau keberlanjutan.
Jika kita sudah berhasil menumbuhkan benih kesabaran atau ketenangan, tugas kita adalah menjaganya agar tidak layu. Kita harus melindungi kondisi batin yang baik tersebut dari pengaruh luar yang negatif. Sang Buddha mengibaratkan ini seperti seorang petani yang menjaga tanamannya dari serangan hama dan cuaca buruk hingga masa panen tiba. Perubahan nyata bukanlah sebuah lonjakan emosi sesaat saat mendengar ceramah, melainkan ketekunan untuk tetap berada di jalan yang benar meskipun badai kehidupan menerpa.
PENUTUP
Perubahan tidak akan terjadi hanya dengan duduk diam dan berharap. Perubahan terjadi saat kita mulai mengarahkan energi atau semangat kita (viriya) sesuai dengan petunjuk Sang Buddha. Janganlah kita berkecil hati jika merasa perubahan itu lambat. Ingatlah bahwa setiap tetes air yang jatuh ke dalam tempayan, lama-kelamaan akan memenuhi tempayan tersebut. Begitu pula dengan usaha luhur kita; sekecil apa pun itu, jika dilakukan dengan tekad yang benar, akan membawa kita pada kedamaian yang sejati.
Oleh Bhikkhu Nipako
Minggu, 28 Desember 2025



