Sudahkah Menjadi Orang Tua yang Ideal?
- Puja Bakti Umum
- January 4, 2026
- 15 minutes read
Mātāpitu upaṭṭhānaṃ, puttadārassa saṅgaho,
Anākulā ca kammantā, etaṃ maṅgalamuttamaṃ.
Membantu ayah dan ibu, menunjang anak dan istri, dan berkerja dengan sungguh-sungguh, Itulah berkah utama.
(Maṅgala Sutta)
Dalam agama Buddha, kewajiban orang tua terhadap anak meliputi memberikan pendidikan moral dan spiritual, menjadi teladan yang baik, melindungi dari perbuatan jahat, serta menyediakan dukungan materi seperti warisan dan pasangan yang sesuai. Kewajiban ini tidak hanya berfokus pada fisik tetapi juga pada perkembangan mental, moral, sosial dan spiritual anak melalui ajaran cinta kasih (metta) dan welas asih (karuna).
Orang tua selalu berusaha melaksanakan kewajibannya dengan baik secara ikhlas, seperti yang tercantum dalam Sigālovāda Sutta. Terdapat lima kewajiban orang tua terhadap anak, yaitu:
Mencegah Anaknya Berbuat Jahat
Mencegah anak berbuat jahat adalah sangat penting, karena akan percuma saja jika anak memiliki kecerdasan dan pandai serta kaya apabila selalu berbuat kejahatan, merugikan orang lain dan masyarakat. Rumah adalah sekolah yang pertama bagi anak, dan orang tua merupakan guru yang pertama bagi anak. Anak biasanya belajar dari orang tua tentang baik dan buruk, tentang budi perkerti pada umumnya. Adalah tidak bijaksana apabila orang tua membohongi anak, menipu anak, mempermainkan anak, menakut-nakuti anak, apalagi menyiksa anak. Hal tersebut akan membekas yang sangat dalam pada diri anak. Orang tua wajib bertingkah laku yang baik agar anak-anak patuh dan menjadikan orang tuanya sebagai teladan.
Orang tua wajib menanamkan perasaan malu dan takut pada diri anak. Malu melakukan perbuatan jahat dan takut pada akibat perbuatan jahat. Untuk menjauhkan anak dari perbuatan jahat, orang tua harus rajin memberikan nasihat dan petunjuk, rajin memberikan hukuman apabila anaknya berbuat salah atau jahat, dan paling penting adalah memberikan contoh teladan.
Laranglah anak-anak melakukan perbuatan tercela, seperti menyiksa atau membunuh binatang, balas dendam, mencuri, berbohong dan minum-minuman keras. Tetapi sebelum melarang orang tua harus menunjukkan contoh terlebih dahulu.
Menganjurkan Anaknya Berbuat Baik
Orang tua adalah guru di rumah, dan guru adalah orang tua di sekolah. Orang tua dan guru sama-sama bertanggung jawab untuk masa depan anak. Menganjurkan anak berbuat baik adalah hal yang sangat bermanfaat bagi diri anak maupun bagi lingkungannya. Ajarkan anak-anak menyayangi makhluk lain, ajarkan untuk suka memberi, ajarkan anak untuk membantu orang lain, ajarkan anak untuk berteman dengan yang lain, ajarkan anak menghibur orang lain, ajarkan anak untuk menghormati para bhikkhu dan menghormati Buddha rupang serta kebaikan-kebaikan yang lainnya. Sebelumnya berilah contoh yang benar. Anak-anak sebaiknya tidak ditinggalkan di bawah asuhan pengasuh (babysitter) atau pembantu yang bodoh, seringkali anak lebih dekat kepada pembantu atau pengasuh daripada dengan orang tuanya sendiri.
Sebaiknya anak diberikan dasar-dasar dari Pancasila Buddhis, bangkitkanlah perasaan kasih sayang dalam diri anak, tanamkan kecintaan pada kejujuran dan kebenaran dalam batin anak, ajarkan bersikap sopan santun kepada orang lain, ajarkan anak untuk mengakui kesalahannya dan memperbaiki kesalahannya tersebut dengan bijasana, dan jauhkan anak dari rokok dan minuman keras serta zat-zat berbahaya lainnya. Selalu dijaga agar anak tidak bergaul dengan orang-orang jahat dan pulang ke rumah sebelum malam hari. Anjurkanlah agar anak bergaul dengan orang-orang baik dan patut untuk dihormati. Ajarkan anak untuk berbicara sopan, santun dan ramah, serta bersikap lemah lembut terhadap sesama makhluk.
Memberikan Pendidikan Profesional Kepada Anak
Pendidikan yang baik sebenarnya adalah warisan yang paling berharga yang dapat diberikan orang tua kepada anak. Melatih dan mengajarkan anak memiliki kepandaian dan keterampilan agar anak mempunyai profesi yang dapat diandalkan, sebagai modal untuk mandiri adalah sangat penting, karena suatu saat ia harus mencari nafkah sendiri.
Setelah anak jauh dari perbuatan jahat dan gemar berbuat baik maka ia harus memiliki pendidikan dan keterampilan yang baik sebagai bekal untuk mencari nafkah kalau ia sudah dewasa. Banyak orang tua lebih mementingkan hal yang ketiga daripada dua hal yang sebelumnya, itu adalah sikap yang keliru, karena akan terbentuk seorang manusia yang pandai dan terampil, namun tidak bermoral, hanya mementingkan dirinya sendiri dan tidak berguna bagi orang banyak.
Perhatikan dan jangan melalaikan pendidikan agama Buddha untuk anak. Usahakan agar setelah dewasa anak tetap menjadi umat Buddha yang baik, karena pendidikan yang mengarah ke profesionalisme harus diiringi dengan pendidikan moral etik yang sama banyaknya.
Mencarikan Pasangan yang Sesuai Bagi Anaknya
Mencarikan pasangan yang sesuai untuk anak adalah bagi mereka yang ingin berumah tangga. Carilah yang memiliki saddha yang sama, artinya yang sama-sama beragama Buddha dan berlindung kepada Sang Tiratana; carilah yang berperangai baik, berkelakuan baik dan moralitas yang baik; carilah yang murah hati, dermawan dan tidak kikir; carilah yang memiliki kebijaksanaan yang cukup. Menilai seseorang dari penampilan luar saja tidaklah cukup, perlu observasi lebih lama dan penilaian yang lebih seksama.
Menurut Maṅgala Jātaka, pedoman memilih menantu perempuan agar kelak menjadi istri yang membawa berkah adalah sebagai berikut: ia harus seorang perempuan yang ramah, usianya sepadan, setia, baik hati, subur, memiliki sila dan berasal dari keluarga baik-baik. Untuk memilih menantu laki-laki perlu dihindari laki-laki hidung belang, pemabuk, penjudi dan pemboros (Parabhava Sutta, 16).
Memberikan Warisan Pada Waktu yang Tepat.
Orang tua yang baik tidak hanya mengasuh dan membesarkan anak-anaknya dalam suasana cinta dan kasih sayang, tetapi juga mempersiapkan agar anak-anaknya kelak dapat hidup dalam kebahagiaan setelah dewasa. Adalah kewajiban orang tua untuk memberikan atau membagikan harta kekayaan kepada anak-anaknya setelah mereka siap menerimanya.
Pengertian menyerahkan harta warisan kepada anak pada saat yang tepat adalah menyerahkan harta benda orang tua yang kelak akan menjadi bagian dari warisan, semasa orang tuanya masih hidup pada saat yang tepat, yaitu ketika anak-anaknya benar-benar sudah siap untuk memanfaatkannya demi masa depannya. Ajaran yang ditentukan sebagai suatu kewajiban bagi orang tua adalah sikap moral yang luhur dan berpandangan jauh ke depan karena akan mencegah terjadinya perselisihan di antara anak-anak sebagai ahli waris dan mencegah terjadinya pemborosan tidak berguna. Ajaran Sang Buddha ini berlaku umum, yaitu untuk semua orang tanpa membedakan usia, jenis kelamin, golongan, status sosial dan martabat dalam kehidupan sehari-hari.
Sabbe Sattā Bhavantu Sukhitattā
Semoga Semua Makhluk Berbahagia
Oleh Bhikkhu Tejanando Mahāthera
Minggu, 04 Januari 2026



