Biarlah Damai Bersemi di Hatiku

 Biarlah Damai Bersemi di Hatiku

 

“Na paresaṁ vilomāni, na paresaṁ katākataṁ

Attano va avekkheyya, katāni akatāni ca”

“Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau 

belum pernah dikerjakan oleh orang lain. Tetapi, perhatikanlah apa 

yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh diri sendiri.”

 

(Dhammapada syair 50)

Sejak dulu sekarang juga nanti; tetap sama inti ajaran Buddha, yakni janganlah berbuat jahat, perbanyak perbuatan baik, dan sucikan hati juga pikiran. Tujuan utama ajaran Buddha tidak lain tidak bukan adalah untuk memperoleh kedamaian sejati (Nibbāna). Namun seseorang yang ingin memperoleh kedamaianpun mesti tahu; bagaimana cara mendapatkannya. Hal ini dikarenakan kedamaian tidak tiba-tiba muncul, melainkan perlu ada sebab-sebab serta syarat-syaratnya. Sebagai umat Buddha yang budiman kita mengenal apa yang disebut sebagai Dhamma, yakni ajaran Buddha. Dhamma Sang Buddha tidak hanya sekadar dikenali namun juga perlu dipraktikkan. Maka Dhamma ajaran Sang Buddha di sini berfungsi sebagai alat pengkondisi munculnya kedamaian bagi seseorang.


Setiap orang ingin hidup bahagia, damai dan tenteram; tidak ada satupun orang yang menginginkan penderitaan. Namun dalam kenyataan kehidupan seseorang belum mampu mengatasi sebab-sebab penderitaan. Peperangan, pertikaian-pertikaian, dan perpecahan hal inilah yang menjadi sebab-sebab seseorang terhindar dari kedamaian. Ketika hal itu muncul dalam pengalaman kehidupan seseorang, maka kedamaian terampas dan menimbulkan kerugian. Hal ini didasari oleh dua hal yakni iri hati dan juga kekikiran. 


Iri Hati (issa): Ketika seseorang mendapatkan keuntungan, keberhasilan, dan kesejahteraan; kemudian muncul iri hati. Dari iri hati muncul yang namanya kebencian, dan dari kebencian muncullah usaha untuk mengambil kesuksesan orang lain yang bukan miliknya. Hal ini disebabkan oleh iri hati, tidak suka akan bentuk kebahagiaan orang lain. Apabila diteruskan maka akan memunculkan pertikaian, dan kedamaian kedua belah pihak hancur lebur.


Kekikiran (macchariya): Ketika seseorang memperoleh sesuatu berupa kekayaan, kesuksesan, pengikut yang banyak, serta kesejahteraan (kebahagiaan), muncullah kekikiran. Tidak mau berbagi, tidak mau memberi membuat yang lain kecewa dan tidak suka. Apabila kelompok lainnya menginginkan sesuatu yang ia milikki, muncullah ketidak-sukaan (kebencian berkobar) dan di sanalah permulaan kehancuran muncul. Namun apabila kedermawanan diupayakan demi kepentingan bersama, maka yang timbul adalah kedamaian dan kebahagiaan bagi sesama. Dalam Dīgha Nikāya 3.234 dan An Navakanipāta Sang Buddha menyampaikan bahwa ada 5 (lima) jenis kekikiran atau macchariya, yaitu: 

  1. Kekikiran akan tanah (avasamacchariya): kekikiran akan tanah berarti keinginan iri hati seseorang untuk mempertahankan tanah atau wilayahnya sendiri hanya untuk kelompok, sekte, atau negaranya sendiri. Hal ini tidak diperuntukkan kepada orang lain. 

  2. Kekikiran keluarga (kulamacchariya): hal ini diartikan sebagai keinginan iri hati seseorang untuk mempertahankan kejayaan keluarga sendiri, tidak menginginkan keluarga-keluarga lain menyaingi atau menandingi kejayaan keluarganya. Kalau konteksnya pabbajita, maka diwujudkan dengan keinginan pribadi memonopoli bantuan yang diterima dari para donatur, tanpa mementingkan kehidupan para pabbajita yang lainnya.

  3. Kekikiran keuntungan (labhamacchariya): keinginan seseorang untuk menimbun kekayaan pribadi untuk diri sendiri, tidak berupaya untuk membagikannya kepada orang lain sekalipun di masa genting.

  4. Kekikiran kemasyhuran/ penghargaan dan wajah/ bentuk tubuh (vannamacchariya): suatu keinginan atau iri hati seseorang untuk tidak mau (tidak suka melihat) orang lain memiliki hal yang sama atau lebih unggul daripada dirinya dalam hal kemasyhuran, kecantikan, ketampanan, penghargaan, dan bentuk tubuh.

  5. Kekikiran pengetahuan (Dhammamacchariya): hal ini di mana seseorang tidak mau berbagi pengetahuan yang ia ketahui kepada orang lain, baik itu ilmu pengetahuan, kesenian, maupun cara bertahan hidup. 


Jika seseorang menginginkan kedamaian, kesejahteraan, dan kebahagiaan, maka iri hati dan kekikiran mesti dilenyapkan. Dengan berupaya menjauhkan diri dari pikiran yang buruk (yang disertai kebencian, keserakahan dan kebodohan), maka seseorang akan menciptakan dunia yang indah serta damai. Seseorang yang lamban dalam kebaikan akan senang dalam melakukan keburukan, yang menjauhkan diri dari kebahagiaan dan kedamaian. Sebaliknya seseorang yang tanggap dalam kebaikan, maka akan senang dalam kebaikan dan mengarahkan kehidupannya menjadi lebih berkualitas.


Oleh Bhikkhu Jayadhīro

Minggu, 07 Desember 2025


Vihāra Jakarta Dhammacakka Jaya

https://www.dhammacakka.org

Related post