Hiri dan Ottapa sebagai Pelindung Dunia
- Puja Bakti Sore Puja Bakti Sore Sabtu
- October 4, 2025
- 12 minutes read
Akar kejahatan yang ada di dalam batin setiap manusia menjadi asal muasal munculnya penderitaan. Dalam perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat dewasa ini, hampir merambah ke semua sendi-sendi kehidupan. Tetapi bagaimanapun canggihnya teknologi, masih belum bisa menyentuh sisi yang justru merupakan aspek inti dalam kehidupan, yakni aspek batiniah.Justru belaian dari keindahan dan kegemerlapan materi telah membuat mabuk kepayang umat manusia, yang dijanjikan dengan kemudahan-kemudahan untuk memperoleh kebutuhan materi tersebut sehingga memberikan dampak buruk dengan menurunnya daya tahan manusia lahir maupun batin.
Sesungguhnya belaian keindahan dan kegemerlapan duniawi tidak hanya terjadi dewasa ini, melainkan telah terjadi juga dua puluh lima abad yang lampau, dimana saat Pangeran Siddhattha dilahirkan, dan pada saat pertapa Gotama melaksanakan sammasamadhi di Buddha Gaya. Saat Beliau menjalankan praktek pertapaannya, mara berdatangan untuk menghalang-halangi dan menggoda pertapa Gotama dalam usaha untuk Mencapai Penerangan Sempurna. Tiga mara penggoda yang menyamar atau menyerupai wanita-wanita cantik adalah wujud dari keindahan materi yang dapat membuat orang terlena dan terbuai. Tetapi Pertapa Gotama adalah salah satu manusia yang memiliki daya tahan batiniah yang tertinggi sehingga dapat melepaskan diri dari belaian keindahan dan tercapailah kesempurnaan sejati menjadi Buddha.
Begitu jelas bahwa kebahagiaan hidup dapat diperoleh justru dengan mengikis dan melenyapkan sifat-sifat buruk yang ada dalam diri kita yakni, ketidaksukaan atau benci, dendam, irihati, keserakahan, congkak, mau menang sendiri, berpegangan pada pandangan salah dan lain-lainnya. Kemudian kita mengembangkan nilai-nilai kebajikan yakni, toleransi yang mendalam dan tanpa pamrih, cinta kasih dan kasih sayang, simpati dengan keberhasilan orang lain, berpegang teguh pada nilai spritual, berpandangan dan berpikiran benar dan berkeyakinan pada hukum kebenaran (Dhamma).
Diperlukan rumus jitu dalam menangkal semua akar kejahatan yang ada di dalam bathin kita. Buddha telah mengajarkan kepada kita pentingnya memiliki rasa malu dan takut yang di sebut sebagai Hiri dan Ottapa sebagai pelindung dunia.
Hiri dan ottappa bukan hanya sifat pribadi, tetapi juga kekuatan kolektif yang dapat melindungi dunia. Ketika setiap individu dalam masyarakat memiliki rasa malu dan takut akan perbuatan buruk, maka kejahatan akan berkurang dan kebaikan akan meningkat.
Manfaat memiliki Hiri Dan Ottapa:
Mencegah Kejahatan: Hiri dan ottappa mencegah orang melakukan tindakan kekerasan, korupsi, penipuan, dan kejahatan lainnya. Ketika seseorang memiliki rasa malu, ia akan berpikir dua kali sebelum melakukan tindakan yang merugikan orang lain.
Mendorong Kebaikan: Hiri dan ottappa mendorong orang untuk berbuat baik, seperti membantu orang lain, menyumbangkan harta, dan mengembangkan diri. Ketika seseorang memiliki rasa takut akan akibat buruk dari perbuatan buruk, ia akan termotivasi untuk melakukan perbuatan baik.
Membangun Perdamaian: Hiri dan ottappa menciptakan suasana yang damai dan harmonis dalam masyarakat. Ketika orang saling menghormati dan menghargai, konflik dan perselisihan akan berkurang.
Memupuk Hiri dan Ottappa
Bagaimana kita dapat memupuk hiri dan ottappa dalam diri ?
Belajar Dhamma: Dengan mempelajari ajaran Buddha, kita akan memahami mengapa perbuatan baik itu penting dan mengapa perbuatan buruk itu merugikan.
Bermeditasi: Meditasi membantu kita untuk lebih memahami diri sendiri dan mengembangkan kesadaran akan pikiran dan tindakan kita.
Berinteraksi dengan Orang Baik: Bergaul dengan orang-orang yang bermoral tinggi akan menginspirasi kita untuk menjadi lebih baik.
Mengingat Kematian: Mengingat bahwa hidup ini sementara akan mendorong kita untuk lebih menghargai setiap saat dan menghindari perbuatan yang sia-sia.
Jika setiap orang memiliki Hiri dan Ottapa yakni malu dan takut berbuat jahat, maka tak seorangpun yang akan melakukan kejahatan, dan muncullah pikiran pikiran baik, ucapan ucapan baik, dan perbuatan perbuatan baik yang akan membawa manfaat kebahagiaan bagi diri sendiri dan juga mahluk disekitarnya. Itulah mengapa Buddha menyebut malu dan takut sebagai pelindung dunia (Lokapaladhamma).
Iri hati (dalam bahasa Pali, issā) adalah faktor mental negatif dalam Buddhisme yang ditandai dengan keinginan kuat untuk mendapatkan kekayaan dan kehormatan bagi diri sendiri sambil tidak mampu menanggung keunggulan orang lain. Sementara itu, Hiri (rasa malu) dan Ottapa (rasa takut) adalah dua kebajikan moral yang bertindak sebagai pelindung diri dan dunia. Hiri adalah perasaan malu karena melakukan kejahatan, dan Ottapa adalah rasa takut akan akibat buruk dari perbuatan salah.
Penjelasan Iri Hati
Aspek Negatif: Iri hati dikategorikan sebagai salah satu dari empat belas faktor mental negatif dalam ajaran Abhidhamma Theravāda.
Sifat-sifat: Seseorang yang iri hati sangat berhasrat untuk memiliki kekayaan dan kehormatan, tetapi merasa tidak senang melihat orang lain yang memiliki keunggulan atau keberhasilan.
Dalam Buddhisme, iri hati juga merupakan salah satu dari sepuluh kotoran batin dalam aliran Theravāda dan termasuk dalam kategori “racun” atau “kemarahan” dalam aliran Mahayana.
Penjelasan Hiri dan Ottappa
Hiri (Rasa Malu)
Berasal dari rasa penghormatan diri sendiri dan sungkan, Hiri mendorong seseorang merasa malu untuk berbuat jahat. Perasaan ini timbul dari kesadaran bahwa melakukan kejahatan akan merendahkan diri, kehormatan, atau kedudukan sosial seseorang.
Ottappa (Rasa Takut)
Merupakan keengganan untuk berbuat salah karena takut akan akibat buruk dari perbuatan tersebut. Ketakutan ini bisa berupa takut akan balasan karma, takut akan hukuman di alam-alam rendah, atau takut dipersalahkan oleh orang lain.
Fungsi dan Pentingnya Hiri dan Ottappa
Pelindung Dunia
Hiri dan Ottappa disebut sebagai “pelindung dunia” (Lokapaladhamma) karena keduanya mencegah orang melakukan kejahatan, sehingga tercipta masyarakat yang lebih damai dan harmonis.
Mengendalikan Diri: Rasa malu (Hiri) mengendalikan diri di hadapan orang lain, sementara rasa takut (Ottappa) menjaga diri bahkan ketika sendirian.
Dasar Moral: Kedua sifat ini adalah dasar utama dalam etika Buddha yang penting untuk menghindarkan diri dari tindakan merugikan.
Cara Mengembangkan: Mengembangkan Hiri dan Ottappa dapat dilakukan dengan mempelajari ajaran Buddha (Dhamma), bermeditasi, berinteraksi dengan orang-orang baik, dan mengingat sifat sementara kehidupan.