Korelasi Perasaan dan Keinginan

 Korelasi Perasaan dan Keinginan

 

Taṇhāya jāyatī soko, taṇhāya jāyatī bhayaṃ;

taṇhāya vippamuttassa, natthi soko kuto bhayaṃ.

“Dari keinginan timbul kesedihan, dari keinginan timbul ketakutan;

 

Bagi orang yang telah bebas dari keinginan, tiada lagi kesedihan maupun ketakutan. (Dhammapada Piya Vagga 216)



Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering dihadapkan pada berbagai keinginan, ingin memiliki barang baru, ingin diakui oleh orang lain, ingin mencapai kesuksesan materi, ingin bahagia saat ini dan di masa yang akan datang atau bahkan ingin bebas dari pengalaman yang tidak menyenangkan. Semua jenis nafsu keinginan yang mengarah pada keinginan untuk menikmati kesenangan indra merupakan sebab dari kehidupan yang berkelanjutan dan sebagian besar dari manusia terus mengejar hal ini, tanpa sadar bahwa itulah sebab akar dari penderitaan yang tak berkesudahan. Dalam Dhammacakkappavattana Sutta (SN 56.11), Sang Buddha menyampaikan “Inilah Kebenaran Mulia tentang Asal Mula Penderitaan: adalah nafsu keinginan (tanha) yang menyebabkan kelahiran kembali, yang disertai dengan kesenangan dan nafsu, mencari kepuasan di sana-sini; yaitu, nafsu keinginan akan kenikmatan indra (kama-tanha), nafsu keinginan untuk menjadi (bhava-tanha), dan nafsu keinginan untuk tidak menjadi (vibhava-tanha).” Sebagai salah satu dari dua belas faktor pengkondisi dan terkondisi, nafsu keinginan bukanlah penyebab pertama atau satu-satunya dari penderitaan, melainkan faktor yang paling signifikan mengkondisikan faktor-faktor berikutnya, yaitu kemelekatan dan penjelmaan yang mengakibatkan kelahiran kembali dan penderitaan. 


Keinginan dapat muncul dan berkembang ketika indra membentur objeknya. Keinginan untuk mendapatkan bentuk-bentuk yang terlihat, keinginan untuk mendengar suara-suara yang menyenangkan, menginginkan bau yang menyenangkan, mendambakan rasa yang menyenangkan, keinginan untuk objek sentuhan yang menyenangkan, nafsu keinginan terhadap fenomena batin yang menyenangkan. Apabila dalam proses kontak antara indra ini tidak bisa disikapi dengan bijak maka, nafsu keinginan ini akan terus muncul dan berkembang. Alasan utama untuk keinginan akan kenikmatan sensual terus muncul adalah ketidaktahuan kita akan tiga karakteristik universal dari semua fenomena fisik dan mental yaitu, ketidakkekalan (anicca), penderitaan (dukkha), dan bukan-diri (anatta) serta ada anggapan bahwa ada kenikmatan yang kekal serta ada diri yang menikmatinya.


Kemunculan nafsu keinginan didahului oleh perasaan, ketika perasaan menyenangkan muncul ada keinginan untuk mengejar dan menggenggamnya, ketika perasaan tidak menyenangkan muncul penolakan serta keinginan untuk ingin segera mengakhirinya, ketika perasaan netral muncul ada keinginan untuk ingin mempertahankan atau ingin segera menggantinya dengan perasaan menyenangkan, tanpa sadar keinginan ini terus merongrong batin kita setiap saat. Dalam Dutiyadvayasutta (SN 35.93) dikatakan ““Melalui kontak para bhikkhu, seseorang merasakan, melalui kontak seseorang berniat, melalui kontak seseorang mempersepsikan”.  Dari pernyataan ini kita mengetahui juga bahwa, perasaan muncul karena ada kontak antara indra dengan objeknya. Setelah adanya kontak muncullah perasaan dan dari perasaan inilah tindakan juga muncul. Maka ketika indra kontak dengan objeknya, kita perlu mengelola reaksi terhadap perasaan yang muncul, guna untuk menghindari reaksi spontan dan pemuasan nafsu kesenangan indra.  Mahānidāna Sutta (DN 15) juga menguraikan perihal kemunculan perasaan dan nafsu keinginan, di sana dikatakan “Nafsu keinginan timbul karena perasaan. Nafsu keinginan menyebabkan pencarian (pariyesena), pencarian menyebabkan keuntungan (labha), keuntungan menyebabkan pengambilan keputusan (vinicchaya), pengambilan keputusan menyebabkan nafsu keinginan, nafsu keinginan menyebabkan kemelekatan (ajjhosana), kemelekatan menyebabkan penguasaan (pariggaha), penguasaan menyebabkan kekikiran (macchariya), kekikiran menyebabkan perlindungan pada milik (arakkha), perlindungan pada milik menimbulkan banyak hal buruk (papa), seperti: mempersenjatai diri dengan tongkat atau pedang, pertengkaran, perkelahian, argumentasi, balas dendam, fitnah, bohong dan banyak perbuatan buruk lain. Inilah korelasi antara perasaan dan nafsu keinginan.


Perasaan dan nafsu keinginan merupakan dua Dhamma yang terkondisi, perasaan merupakan sebab terdekat dari munculnya keinginan. Keinginan secara garis besar ada dua yaitu chanda dan tanha. Keinginan atau kemauan untuk bertindak merupakan  (chanda), dia bersifat netral, bisa menjadi baik atau tidak baik. Sedangkan tanha cenderung mengarah pada ketidakbajikan karena memiliki kecendrungan pemuasan dan pengejaran terhadap kesenangan indra. Perasaan yang muncul hendaknya diikuti oleh keinginan serta pemahaman yang baik, seperti yang Sang Buddha sampaikan dalam Satipaṭṭhāna Sutta “Ia memahami perasaan sebagai perasaan, baik menyenangkan, tidak menyenangkan, maupun netral.” memahami dengan penuh perhatian dan kebijaksanaan. Pernyataan dan pemahaman ini diharapkan dapat membantu kita dalam melihat dan mengelola reaksi dengan baik serta melihatnya sebagaimana adanya “Ketika merasakan perasaan menyenangkan, ia memahami: ‘Ini adalah perasaan menyenangkan (Satipaṭṭhāna Sutta)” tanpa diikuti oleh nafsu keinginan dan kemelekatan.


Ketidaktahuan terhadap perasaan melahirkan nafsu keinginan, sedangkan pemahaman yang benar terhadap perasaan dan nafsu keinginan membuka jalan menuju pembebasan. Dengan mengamati perasaan secara langsung, jernih, dan berkesadaran, seseorang dapat hidup di tengah dunia tanpa terjerat oleh nafsu keinginan, nafsu keinginan yang mengarah pada ketidakbajikan. Mari kita berupaya untuk mengelola perasaan dan nafsu keinginan dengan sebaik-baiknya, agar akhir dari penderitaan ini bisa segera kita realisasi.


Referensi:

  • Dhammapada Piya Vagga, Syair 216

  • Dhammacakkappavattana Sutta (SN 56.11)

  • Dutiyadvaya Sutta (SN 35.93) 

  • Satipaṭṭhāna Sutta (MN 10)

  • Mahānidāna Sutta (DN 15)


Oleh Bhikkhu Varasaddho

Minggu, 14 Desember 2025


Vihāra Jakarta Dhammacakka Jaya

https://www.dhammacakka.org

Related post