Lepaskan Benci, Tenangkan Hati
- Kelas Dhamma
- December 2, 2025
- 2 minutes read
Kebencian (dosa) merupakan salah satu dari tiga akar tidak bermanfaat (akusala-mūla) yang menimbulkan penderitaan batin. Dalam Aghātavinaya Sutta (Aṅguttara Nikāya 5.161), Sang Buddha menjelaskan lima cara menaklukkan kebencian: mengembangkan cinta kasih terhadap orang yang dibenci, mengingat kebaikannya, mengabaikan kesalahan yang memicu kemarahan, memahami kamma masing-masing, dan menyadari bahwa kebencian hanya memperpanjang penderitaan. Komentar (Aṭṭhakathā) menegaskan bahwa metode ini bertujuan mengubah persepsi batin terhadap objek kebencian sehingga muncul kebijaksanaan (paññā) dan welas asih (karuṇā), bukan reaksi emosional.
Dari sudut pandang Abhidhamma, kebencian berakar pada dosa-mūla-citta, yaitu kesadaran yang disertai kebencian, kebosanan, atau keinginan menghancurkan. Ketika seseorang melatih mettā-bhāvanā (pengembangan cinta kasih), ia menumbuhkan kesadaran indah (sobhana-citta) yang berlawanan dengan sifat destruktif tersebut. Proses ini dapat diamati dalam kehidupan sehari-hari, misalnya saat menghadapi kritik, pengkhianatan, atau kesalahpahaman. Dengan mengganti reaksi spontan berupa kemarahan menjadi refleksi penuh perhatian (sati) dan pengertian bahwa semua makhluk bertindak sesuai kondisi batin dan kamma mereka.
Penerapan ajaran ini membantu seseorang menenangkan hati, memperbaiki relasi sosial, dan menumbuhkan kebahagiaan batin yang mendalam. Ketika batin terbebas dari kebencian, ia menjadi tanah subur bagi tumbuhnya kebijaksanaan dan welas asih. Dengan demikian, pesan dari Aghātavinaya Sutta tetap relevan di era modern: membebaskan diri dari benci bukan berarti melemah, melainkan meneguhkan kekuatan batin untuk hidup damai dengan diri sendiri dan sesama.