Mencari dan Mempertahankan
- Puja Bakti Sore Puja Bakti Sore Sabtu
- December 6, 2025
- 15 minutes read
Sesuatu yang sering dicari Manusia
Kebutuhan dasar dan sehari-hari
• Makanan dan minuman
• Sembako
Kebutuhan modern
• Gadget dan aksesori teknologi
• Perlengkapan rumah tangga
• Perawatan kecantikan dan kesehatan
• Gaya hidup dan hiburan
• Fesyen
• Hiburan dan hobi
• Pengembangan diri dan informasi
• Pengembangan diri
• Informasi tren
• Kekayaan
• Ketenangan dan spiritualitas
• Makna dan tujuan hidup
• Hubungan sosial
• Kebutuhan material
• Keseimbangan
Kebahagiaan (Aṅguttara Catukka Nipāta)
Kebahagiaan duniawi (lokiya-sukha) adalah kebahagiaan yang bersifat sementara dan bergantung pada kondisi eksternal, meliputi:
Atthi-sukha: kebahagiaan karena memiliki kekayaan.
Bhoga-sukha: kebahagiaan karena dapat menggunakan kekayaan secara bijaksana.
Anana-sukha: kebahagiaan karena terbebas dari utang, baik utang materi maupun kamma buruk.
Anavajja-sukha: kebahagiaan karena telah berbuat sesuai dengan ajaran Buddha, seperti bermoral dan murah hati (cāga/dāna).
Cara Mendapatkan Kekayaan
Berusaha dengan cara yang benar, Mata Pencaharian Benar.
Ketekunan.
Mengelola keuangan dengan bijak, pembagian pendapatan: ajaran dari Sigalovāda Sutta.
Satu bagian untuk dinikmati dan digunakan sesuai kebutuhan.
Dua bagian untuk diinvestasikan kembali ke dalam modal usaha atau bisnis.
Satu bagian untuk ditabung atau disimpan untuk menghadapi masa depan yang sulit atau keadaan darurat.
Tidak kikir dan tidak boros.
Melakukan kebajikan berdana.
Melaksanakan sīla (moralitas).
Melatih samādhi (konsentrasi) dan kebijaksanaan (paññā).
Memiliki hiri dan ottappa:
Rasa malu untuk berbuat jahat (hiri), dan
Takut akan akibat perbuatan jahat (ottappa),
menjadi “rem” untuk mencegah perbuatan buruk.
Menghindari perilaku buruk
Mengelola Kekayaan dengan Penuh Kesadaran dan Kebijaksanaan (Aṅguttara Nikāya 2:86)
Memenuhi Kebutuhan Diri Sendiri dan Keluarga:
Pendapatan sebaiknya digunakan pertama-tama untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, dan kesehatan.
Menyimpan untuk Masa Depan:
Menabung atau menyimpan sebagian dari pendapatan adalah bentuk kebijaksanaan yang penting. Mengantisipasi masa-masa sulit atau situasi darurat adalah bagian dari tanggung jawab terhadap diri sendiri dan keluarga. Dalam konteks modern, hal ini dapat diartikan sebagai pengelolaan keuangan yang cermat, seperti menabung, berinvestasi dengan bijak, atau mempersiapkan dana darurat.
Kedermawanan (Cāga):
Salah satu aspek penting dari ajaran Buddha tentang penggunaan kekayaan adalah kedermawanan. Buddha menekankan bahwa sebagian dari pendapatan seharusnya digunakan untuk membantu orang lain yang membutuhkan, baik melalui sumbangan kepada kaum miskin, amal, maupun mendukung komunitas spiritual seperti Saṅgha.
Mendukung Aktivitas Spiritual dan Kebajikan:
Sebagian dari pendapatan juga sebaiknya digunakan untuk mendukung kegiatan spiritual atau kebajikan yang lebih besar. Ini termasuk mendukung pengembangan ajaran Dhamma, menyediakan dana untuk pembangunan vihara, atau mendukung kegiatan yang mempromosikan perdamaian dan kesejahteraan masyarakat.
Kebahagiaan Transenden (lokuttara-sukha)
Kebahagiaan tertinggi yang merupakan tujuan akhir dalam agama Buddha:
Pembebasan dari penderitaan: kebahagiaan tertinggi adalah saat seseorang terbebas dari penderitaan (dukkha).
Nibbāna: kondisi kebahagiaan tertinggi, di mana keinginan dan penderitaan lenyap.
Mengendalikan pikiran: mempelajari dan mempraktikkan Dhamma untuk menyucikan hati dan pikiran.
Mencapai kedamaian total: kebahagiaan yang datang dari penerimaan dan pelepasan, bukan dari ketegangan melawan penderitaan.
“Sārattā kāmabhogesu, giddhā kāmesu mucchitā;
Atisāraṁ na bujjhanti, migā kūṭaṁva oḍḍitaṁ;
Pacchāsaṁ kaṭukaṁ hoti, vipāko hissa pāpako’ti.”
Penuh keinginan akan harta benda dan kesenangan, serakah, tergila-gila pada kenikmatan indria; mereka tidak menyadari bahwa mereka telah bertindak terlalu jauh, seperti rusa yang jatuh ke dalam perangkap yang dipasang. Nanti akan terasa pahit, karena akibatnya akan buruk bagi mereka.
(Appaka Sutta, Saṁyutta Nikāya 3.6)