Menyembuhkan Luka Batin yang Berubah Menjadi Amarah

 Menyembuhkan Luka Batin  yang Berubah Menjadi Amarah

 

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Dalam kehidupan ini, setiap orang memiliki masalah dan luka batin yang berbeda-beda. Luka batin yang seseorang alami dapat lahir dari pengalaman kehilangan, penolakan, kekecewaan, pengkhianatan, maupun keadaan yang tidak sesuai harapan. Peristiwa ini memicu munculnya luka batin dalam bentuk kesedihan ataupun kemarahan. Luka batin yang tidak dipahami dan dikelola dengan bijak dapat berubah menjadi amarah yang menghancurkan. Buddha mengatakan bahwa kemarahan membuat seseorang tidak bisa mengetahui dan melihat kebenaran. Ketika kemarahan menguasai seseorang, yang ada saat itu hanyalah kebutaan dan kegelapan pekat (Kuddho atthaṃ na jānāti, kuddho dhammaṃ na passati; Andhatamaṃ tadā hoti, yaṃ kodho sahate naraṃ) (A. IV. 96).

 

Luka batin yang seseorang alami tidak hanya membawa penderitaan bagi diri sendiri, tetapi juga berimplikasi pada permasalahan sosial. Luka batin yang terus terpendam dapat berubah menjadi amarah dan tindakan yang destruktif. Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa masalah psikologis seseorang memengaruhi sikap dan tindakannya pada orang lain. Kemarahan sering berakar dari hati yang terluka. Orang yang suka marah-marah biasanya memiliki batin yang sedang tidak baik-baik saja. Oleh sebab itu, menyembuhkan luka batin sendiri adalah tanggung jawab setiap individu. Kita harus belajar mengendalikan pikiran kita agar tidak dikuasai oleh kemarahan. Buddha mengatakan bahwa pikiran adalah pelopor, pendahulu, dan pembentuk. Setiap ucapan dan tindakan yang bersumber pada pikiran yang kotor menciptakan keburukan yang mendatangkan penderitaan bagi dirinya sendiri (Manopubbaṅgammā dhamma, manoseṭṭhā manomayā; Manasā ce paduṭṭhena, bhāsati vā karoti vā; Tato naṃ dukkhamanveti, cakkaṃva vahato padaṃ) (Dhp. 1). Pikiran yang dikuasai oleh kemarahan tidak akan pernah membawa kedamaian batin, tetapi justru menyebabkan keburukan yang mengakibatkan penderitaan. 

 

Kita harus menyadari bahwa kehidupan tidak selalu berjalan seperti yang kita inginkan. Kehidupan tidak selalu memberi kita keberhasilan dan kesenangan, karena kegagalan dan penderitaan pun adalah bagian dari kehidupan yang tidak bisa dihindari dalam hidup. Dalam Atthalokadhamma, untung (lābha) dan rugi (alābha), suka (sukhaṃ) dan duka (dukkhaṃ) adalah keadaan yang akan datang silih berganti (A. IV. 157). Ketika kita berhenti untuk menuntut kehidupan harus berjalan seperti keinginan kita, di sana kita belajar tentang penerimaan dan kebijaksanaan. Kita belajar memahami tentang mana yang merupakan kendali kita dan mana yang bukan kendali kita. Pemahaman mengenai batas antara kendali diri dan faktor eksternal merupakan fondasi penting dalam pengelolaan emosi dan penderitaan batin. Sikap dan perbuatan orang lain berada di luar kendali kita, sementara yang merupakan kendali kita adalah cara kita meresponnya, apakah dengan kebijaksanaan ataukah dengan amarah.

 

Seburuk apapun orang lain memperlakukan kita, jangan biarkan diri kita terkotori dengan pikiran buruk untuk membalas dendam. Sikap memaafkan jauh lebih membawa ketenangan daripada keinginan untuk membalas dendam. Buddha mengatakan bahwa jangan karena marah dan benci, seseorang mengharap orang lain celaka (Byārosanā paṭighasaññā, nāññamaññassa dukkhamiccheyya) (Khp. 8). Kemarahan dan kebencian bukan hanya berpotensi melahirkan tindakan buruk kepada orang lain, tetapi terang-terangan membuat batin sendiri tersiksa. Kemarahan dan kebencian itu seperti menggenggam bara api di tangan, berharap untuk melemparkannya kepada orang lain. Jauh sebelum bara api tersebut mengenai orang lain, bara api itu sudah lebih dulu melukai orang yang memegangnya. Seperti itu pula kemarahan dan kebencian sesungguhnya melukai diri sendiri.

 

Sejahat apapun orang lain memperlakukan kita, jangan sampai kita terpancing untuk membalasnya dengan kejahatan. Buddha menasihati kita untuk mengalahkan kemarahan dengan tanpa kemarahan dan mengalahkan keburukan dengan kebaikan (Akkodhena jine kodhaṃ, asādhuṃ sādhunā jine) (Dhp. 223). Kemarahan orang lain tidak harus dibalas dengan kemarahan yang sama, demikian juga kejahatan orang lain tidak seharusnya dibalas dengan kejahatan yang sama. Memilih untuk tetap baik dan tidak marah-marah sekalipun mendapatkan perlakuan yang tidak baik adalah kedewasaan batin. Ini bukan kekalahan, tetapi adalah kemenangan menaklukkan diri sendiri. 

 

Buddha melihat bahwa kemarahan membawa dampak negatif bagi seseorang baik dari segi spiritual, kesehatan, ekonomi, maupun sosial. Dalam Kodhana Sutta, Aṅguttara Nikāya, Buddha menyebutkan akibat kemarahan sebagai berikut:

  1. Ketika seseorang marah, terkuasai oleh kemarahan, ia akan tampak buruk meskipun ia mungkin mandi dengan bersih, berminyakan, mencukur rambut dan jenggotnya dengan rapi, atau berpakaian putih.

  2. Ketika seseorang marah, terkuasai oleh kemarahan, ia tidak bisa tidur nyenyak meskipun ia mungkin tidur di atas dipan yang ditutup permadani, berselimut, beralas bertutupkan kulit rusa, dengan kanopi dan guling di kedua sisinya.

  3. Ketika seseorang marah, terkuasai oleh kemarahan, apabila ia mendapat apa yang berbahaya ia berpikir bahwa ia telah mendapat apa yang bermanfaat, dan apabila ia mendapat apa yang bermanfaat ia berpikir bahwa ia telah mendapat apa yang berbahaya.

  4. Ketika seseorang marah, terkuasai oleh kemarahan, raja-raja akan mengambil seluruh harta kekayaannya yang didapat dengan jerih payahnya sendiri.

  5. Ketika seseorang marah, terkuasai oleh kemarahan, ia kehilangan segala kemasyhuran yang didapatnya.

  6. Ketika seseorang marah, terkuasai oleh kemarahan, teman-teman dan para sahabatnya, sanak saudara dan anggota keluarganya menjauhinya.

  7. Ketika seseorang marah, terkuasai oleh kemarahan, ia akan mudah melakukan perbuatan-perbuatan buruk baik melalui jasmani, ucapan, maupun pikiran. Sebagai akibatnya, setelah kematiannya ia akan terlahir kembali di alam menderita (A. IV. 94).

 

Menyadari bahwa amarah tidak hanya menyebabkan penderitaan bagi diri sendiri, tetapi juga berimplikasi pada hal-hal buruk lainnya, maka kita harus berusaha untuk mengendalikan dan menyingkirkan amarah itu. Buddha berkata bahwa dengan memotong kemarahan, seseorang akan hidup dengan bahagia dan bebas dari kesedihan (Kodhaṃ chetvā sukhaṃ seti, kodhaṃ chetvā na socati) (S. I. 41). 

 

Oleh Bhikkhu Medhācitto

 

Minggu, 21 Desember 2025

 

Vihāra Jakarta Dhammacakka Jaya

https://www.dhammacakka.org

Related post