Motivasi & Pilar-Pilar Penting Dalam Mempelajari Dhamma

 Motivasi & Pilar-Pilar Penting Dalam Mempelajari Dhamma

 

“Appampi ce saṁhitaṁ bhāsamāno, dhammassa hoti anudhammacārī,

rāgañca dosañca pahāya mohaṁ, sammāppajāno suvimuttacitto,

anupādiyāno idha vā huraṁ vā sa bhāgavā sāmaññassa hoti,ti.”

“Biarpun seseorang sedikit membaca kitab suci, tetapi berbuat sesuai dengan ajaran, menyingkirkan nafsu indria, kebencian, dan ketidaktahuan, memiliki pengetahuan benar, dan batin yang bebas dari nafsu, tidak melekat pada apapun, baik di sini maupun di sana maka ia akan memperoleh manfaat kehidupan suci.”

 

(Dhammapada, Yamaka Vagga, 1:20)

Kehidupan era modern saat ini, akses terhadap berbagai ilmu pengetahuan semakin mudah, termasuk ajaran spiritual seperti Dhamma ajaran Sang Buddha. Kemudahan ini menjadi salah satu pendorong utama bagi banyak orang untuk memulai atau memperdalam pembelajaran mereka tentang Dhamma. Jika dulu seseorang harus datang ke vihāra untuk mendengarkan ceramah atau berdiskusi langsung dengan para bhikkhu, kini seseorang dapat belajar Dhamma melalui beragam media. Berbagai sumber belajar kini menyediakan beragam topik, mulai dari meditasi dasar, pemahaman Empat Kebenaran Mulia, hingga cara menerapkan sīla dalam interaksi sosial.

 

Kemudahan akses ini dapat membangkitkan motivasi bagi setiap individu untuk belajar Dhamma. Sebagian besar orang yang tertarik untuk belajar Dhamma demi mencari kedamaian batin di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang sering kali penuh dengan tekanan dan hambatan. Mereka meyakini bahwa Dhamma dapat memberikan jalan praktis untuk menangani berbagai macam tantangan hidup, seperti mengatasi stres akibat pekerjaan yang menumpuk, mengelola rasa marah ketika berhadapan dengan konflik, dan menerima kekecewaan saat harapan tidak tercapai. 

 

Selain itu, Dhamma ajaran Sang Buddha tidak hanya untuk dipahami secara intelektual, melainkan diterapkan dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari guna mencapai kebebasan sejati, yaitu terbebas dari penderitaan (dukkha). Oleh sebab itu, memiliki motivasi menjadi sangat penting bagi setiap orang untuk mendorong semangat dalam belajar maupun praktik Dhamma terutama bagi mereka yang memiliki tekad untuk mencapai pembebasan (Nibbāna)

 

Hal yang paling penting dalam belajar Dhamma adalah ketika seseorang belajar dilandasi dengan tiga pilar, yaitu pariyatti, paṭipatti, dan paṭivedha. Belajar Dhamma tidak hanya sebatas teori, belajar Dhamma di sini  maksudnya adalah menerapkan Dhamma ajaran Sang Buddha dalam kehidupan sehari-hari. Dalam Alagaddūpama Sutta, Majjhima Nikāya: 22, Sang Buddha menjelaskan bahwa ada tiga sikap atau motivasi yang harus dimunculkan dalam mempelajari Dhamma (pariyatti) sehingga akan menentukan apakah pembelajaran tersebut membawa seseorang pada pembebasan atau justru bahaya. 

 

Alagaddūpama-pariyatti: Belajar Dhamma Yang Benar, Bukan Untuk Debat. 

Seseorang yang belajar Dhamma dengan motivasi yang salah, seperti menggunakan Dhamma sebagai bahan untuk berdebat dan mengkritik orang lain, ataupun untuk menyombongkan pengetahuan, maka diumpamakan seperti seseorang yang menangkap ular dengan cara yang salah. Konsep ini berasal dari Alagaddūpama Sutta (khotbah Perumpamaan Ular) Sang Buddha menyatakan bahwa ‘Seorang pemburu ular yang tidak ahli menangkap ular dengan memegang ekor atau badannya. Si ular akan berbalik dan menggigit. Akibatnya, ia bisa mati atau kesakitan. Mengapa? Karena ia tidak menangkapnya dengan cara yang benar’. Demikian pula, seseorang yang mempelajari Dhamma hanya untuk berdebat, membanggakan diri, atau mengkritik orang lain tanpa memahami esensi ajarannya, sama seperti orang yang menangkap ular dengan cara yang salah. Mereka tidak mendapatkan manfaat sejati dari Dhamma,  sebaliknya Dhamma yang disalahpahami bisa menjadi sumber penderitaan baru, karena orang tersebut masih terjebak dalam pandangan salah dan kebanggaan diri (egoisme).

 

Nittharana-Pariyatti: Belajar Dhamma Untuk Mencapai Tujuan Akhir

Tujuan utama mempelajari Dhamma adalah untuk mencapai pembebasan dari samsara, yaitu lingkaran kelahiran dan kematian yang berulang. Seseorang yang memiliki motivasi belajar seperti ini diibaratkan sedang membuat rakit untuk menyeberang menuju pantai yang aman. Motivasi belajar yang benar dan luhur inilah yang seharusnya melandasi tujuan seseorang mendalami Dhamma. Dengan motivasi yang tepat, pasti seseorang akan mampu meraih manfaat sebagaimana yang diharapkan dan didambakan. Ia akan terbebas dari penderitaan, dan selanjutnya akan menikmati suatu kebahagiaan sejati (Nibbāna).

 

Bhaṇḍāgārika-pariyatti: Belajar Untuk Menjaga Ajaran

Tujuan ketiga seseorang belajar Dhamma adalah untuk menjaga ajaran murni Sang Buddha. Mereka ingin memastikan ajaran ini tidak hilang, pudar, atau berubah. Motivasi yang baik ini sangat penting, apalagi bagi mereka yang sudah mencapai tingkat spiritual tertinggi yaitu mereka yang sudah bebas dari semua kekotoran batin dan telah mencapai pembebasan sejati. Bagi mereka, belajar Dhamma bukan lagi untuk diri sendiri, tetapi untuk melindungi dan mewariskan ajaran tersebut. Orang-orang dengan tujuan ini memiliki peran yang sangat besar untuk memastikan Agama Buddha tetap ada dan bisa dinikmati oleh semua generasi. Singkatnya, ketiga tujuan inilah yang menjadi dasar utama mengapa seseorang terus mempelajari Dhamma sepanjang hidupnya.

 

Sang Buddha dalam Appassuta (AN.4.6) menjelaskan kepada para Bhikkhu perihal 4 jenis orang yang belajar Dhamma. “Para bhikkhu, ada empat jenis orang ini terdapat di dunia. Apakah empat ini: 1) Orang sedikit belajar yang tidak bersunguh-sungguh pada apa yang telah ia pelajari, 2) Orang yang sedikit belajar yang bersungguh-sungguh pada apa yang telah ia pelajari, 3) Orang yang banyak belajar yang tidak bersungguh-sungguh pada apa yang telah ia pelajari, 4) Orang yang banyak belajar yang bersungguh-sungguh pada apa yang telah ia pelajari.

 

Kesimpulan 

Akses yang semakin mudah terhadap ajaran spiritual di era modern, termasuk Dhamma ajaran Sang Buddha, memicu banyak orang untuk belajar demi mencari kedamaian batin di tengah tekanan hidup. Dhamma dianggap memberikan jalan praktis untuk mengatasi tantangan seperti stres, amarah, dan kekecewaan. Untuk mencapai manfaat sejati, yaitu terbebas dari dukkha dan mencapai Nibbāna, pembelajaran Dhamma tidak hanya harus dipahami secara intelektual, tetapi juga harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, memiliki motivasi yang benar sangat penting untuk mendorong semangat dalam belajar dan praktik. 

 

Menurut Alagaddūpama Sutta, terdapat tiga motivasi utama (pariyatti): Pertama, belajar bukan untuk berdebat atau menyombongkan diri, karena Dhamma yang disalahpahami bisa menjadi sumber penderitaan baru, diibaratkan seperti menangkap ular dengan cara yang salah. Kedua, motivasi utama adalah Nittharana-pariyatti, yaitu belajar untuk mencapai tujuan akhir berupa pembebasan dari samsara (lingkaran kelahiran dan kematian). Ketiga, motivasi Bhaṇḍāgārika-pariyatti, yaitu belajar untuk menjaga ajaran murni Sang Buddha agar tetap ada dan dapat dinikmati semua generasi. Singkatnya, pembelajaran Dhamma harus dilandasi oleh tiga pilar penting, yaitu pariyatti (teori), paṭipatti (praktik), dan paṭivedha (realisasi/pencapaian). 

 

Oleh Bhikkhu Cittasubho

 

Minggu, 30 November 2025

 

Vihāra Jakarta Dhammacakka Jaya

https://www.dhammacakka.org

Related post