Patthana (8 dari 24) – Kamma Paccayo dan Vipaka Paccayo

 Patthana (8 dari 24) – Kamma Paccayo dan Vipaka Paccayo

Kamma adalah Cetana. 

Cetanahan bhikkave kammam vadami (Wahai para Bhikkhu, Cetana adalah yang sava sebut sebagai Kamma).

 

Ada dua jenis Cetana:

  1. Nanakkhanika Cetana

  • Jika terdapat jeda waktu antara Cetana yang muncul dan akibat yang dihasilkannya.

  • Cetana masa lampau yang masih “tertidur” menunggu kondisi yang tepat untuk menghasilkan akibatnya.

  • Saat membicarakan: pemilik kamma sendiri, terlahir dari Kamma … dan seterusnya maka ini merujuk pada Nanakkhanika Cetana.

 

Jeda Waktu Sebab-Akibat: 

  • Satu Momen [magga-phala].

  • Banyak Momen.

  • Satu Kehidupan [bhava].

  • Banyak Kehidupan.

  • Banyak Kappa.

 

Proses Kamma berdasarkan rangkaian kesadaran:

  • Javana pertama = paling lemah.

  • Javana ketujuh = paling kuat.

  • Javana ke-2 lebih kuat daripada javana 1.

  • Javana ke-3 lebih kuat dari javana ke-2 dstnya.

 

Contoh: Suatu hari Bhante Sariputta mencukur rambut, kemudian Raksasa bernama Nanda memukul kepala Bhante Sariputta. Raksasa tersebut langsung mati dan terlahir di Neraka Avici.

  • Kematian langsung adalah hasil dari Javana pertama.

  • Terlahir di Neraka Avici merupakan hasil dari Javana ke-tujuh.

 

Urutan Potensi Kamma:

  1. Garuka Kamma

  2. Asanna Kamma

  3. Acinna Kamma

  4. Katatta Kamma

  5. Kusala Garuka Kamma

Jhana.

  1. Akusala Garuka Kamma

Terdapat 5 perbuatan Durhaka: membunuh ibu, membunuh ayah, membunuh arahat, membuat darah keluar dari SammaSambuddha, perpecahan Sangha → Neraka Avici pada kehidupan berikutnya.

  1. Asanna Kamma

Kamma saat menjelang kematian. Contoh: Matthakundali, Katak yang sedang mendengarkan Dhamma. Karena kebencian [dosa] saling membunuh dan mati.

  1. Acinna Kamma

Kamma Kebiasaan.

  1. Katatta Kamma

Kamma yang jarang dilakukan dan segera terlupakan.

 

  1. Sahajata Cetana

  • Kamma yang muncul bersamaan, artinya sebab dan akibat harus ada bersamaan.

  • Sahajata Cetana = cetana saat ini = sabacittasadharana cetasika ~ cetasika Universal yang bersekutu dengan semua Citta.

  • Cetana ini muncul bersamaan dengan setiap Citta.

Perumpamaan Cetana:

  • Presiden dan Sekretaris.

  • Siswa dan Ketua Kelas.

 

Kusalakusalam kammam, vipakanam khandhanam katatta ca rupanam kammapaccayena paccayo.

Kusala Akusala Kamma (Nanakkhanika Cetana) menyebabkan munculnya gugusan bathin (4 vipaka nama kkhandha) dan Kammajarupa melalui kondisi kamma (kamma paccaya). Kalimat Pali ini merujuk pada Nanakkhanika Kamma.

 

Terdapat 9 jenis kammajarupa:

  1. Cakkhudassaka kalapa.

  2. Sotadassaka kalapa.

  3. Ghanadassaka kalapa.

  4. Jivhadassaka kalapa.

  5. Kayadassaka kalapa.

  6. Itthi bhava dassaka kalapa.

  7. Purisa bhava dassaka kalapa.

  8. Hadaya dassaka kalapa.

  9. Jivita navaka kalapa.

Cetana, Sampayuttakanam Dhammanam Tamsamutthanananca Rupanam, Kammapaccayena Paccayo

Cetana mendukung untuk mempertahankan Citta, Cetasika, Cittaja Rupa yang bersekutu dengannya melalui kondisi Kamma. Kalimat ini merujuk pada: Sahajata Kamma.

 

VIPAKA PACCAYO merupakan kondisi hasil kamma.

VI  memiliki arti “tidak sama”, dan paka memiliki arti hasil atau akibat. Akusala dan Kusala adalah tidak sama. 

 

Karena Vipaka merupakan hasil, maka sifatnya pasif—hasil dari Kusala maupun Akusala Kamma bersifat pasif, tanpa usaha, diam. 

 

Hasil dari Magga, yaitu Phala, juga tenang dan diam. Saat kita tidur (bhavanga citta), itu adalah kesadaran hasil (vipaka citta).

 

Saat Patisandhi Citta, juga merupakan Vipaka Citta. Jika Patisandhi Citta disertai amoha (kebijaksanaan), maka sejak kecil anak tersebut sangat cerdas. Sebaliknya pun demikian.

 

Vipaka cattaro khanda arupino, annamannam, vipakappaccayena paccayo.

Artinya: Empat Gugusan Mental hasil kamma saling menyokong untuk mempertahankan satu sama lain melalui kondisi hasil kamma (vipaka paccava).

 

Vipaka namakkhandha:

  1. Vedanakkhandha.

  2. Sannakkhandha.

  3. Sankharakkhandha.

  4. Vinnana Kkhandha.

 

Terdapat 7 cetasika di antaranya:

  1. Vedana cetasika adalah Vedana kkhandha.

  2. Sanna cetasika adalah Sanna Kkhandha.

  3. Cetasika lainnya, dipimpin oleh Cetana cetasika, adalah Sankharakkhandha.

  4. Cakkhuvinnana adalah Vinnanakkhandha.

 

Proses Rangkaian Kesadaran di Lima Pintu Indera:

  1. Cakkhuvinnana.

  2. Sotavinnana.

  3. Ghanavinnana.

  4. Jivhavinnana.

  5. Kayavinnana.

  6. Sampaticchana.

  7. Santirana.

  8. Tadarammana.

 

Semua adalah hasil kamma (vipaka citta):

  • Lima pasada rupa disebabkan oleh kamma. Walaupun pasada rupa disebabkan oleh kamma, mereka merupakan hasil kamma tetapi tidak disebut Vipaka.

  • Kammajarupa, walaupun hasil kamma, tidak disebut sebagai Vipaka.

  • Vipaka hanya merujuk pada Nama Dhamma yang memiliki sifat dasar yang sama dengan cetana.

Contoh: Benih buah mangga akan menjadi tunas, akar, batang, ranting, daun dan kemudian menghasilkan buah mangga. Tetapi hanya buah yang memiliki sifat dasar yang sama dengan benih yang disebut Phala (hasil kamma, Vipaka).

 

Ada 36 Vipaka Citta:

 

  • 7 Akusala Vipaka

  • 29 Kusala Vipaka:

  1. 8 Ahetuka Kusala Vipaka.

  2. 8 Maha Vipaka.

  3. 5 Rupavacara Vipaka.

  4. 4 Arupavacara Vipaka.

  5. 4 Phala.

 

Catatan: Ke-36 Vipaka Citta tidak muncul pada setiap orang, namun:

  • Cakkhuvinnana, Sotavinnana, Ghanavinnana, Jivhavinnana, Kayavinnana → muncul setiap hari.

  • Sampaticchana, Santirana dan Tadarammana, 23 Vipaka (7 Akusala Vipaka, 8 Ahetuka Kusala Vipaka, dan 8 Maha Vipaka) → muncul setiap hari.

  • Sotapattiphala Citta → hanya muncul pada seorang Sotapanna Sakadagamiphala Citta → hanya pada Sakadagami Anagamiphala Citta → hanya pada Anagami Arahattaphala Citta → hanya pada Arahat.

  • Mereka yang mencapai 4 Jhana dapat memasuki Jhana manapun yang diinginkan.

 

Lokiya Citta apakah bisa muncul pada seorang Buddha?

  • Bisa muncul.

  • Tidak benar kalau setiap Citta yang muncul pada Sang Buddha selalu disertai dengan Panna.

  • Contoh: Cakkhuvinnana, Sampaticchana, dan Santirana juga muncul pada Sang Buddha setiap hari.

  • Semua Citta tersebut adalah Lokiyacitta dan tidak disertai panna.

  • Hanya Javana yang muncul pada Sang Buddha yang disertai Panna.

 

Vihāra Jakarta Dhammacakka Jaya

https://www.dhammacakka.org

Related post