Seni Menjadi Bijaksana
- Puja Bakti Umum
- April 13, 2025
- 6 minutes read
Appassutāyaṃ puriso, balibaddhova jīrati;
maṃsāni tassa vaḍḍhanti, paññā tassa na vaḍḍhati
Orang yang tidak belajar akan menua seperti sapi, hanya dagingnya yang bertambah tetapi kebijaksanaannya tidak berkembang.
(Dhammapada, 152)
Hidup adalah rangkaian ketidakpastian dan perubahan yang datang silih berganti. Tidak ada jalan hidup manusia yang selalu mulus, melainkan banyak jalan berliku yang harus dilewati. Untung (lābho), rugi (alābho), dikenal (yaso), tidak dikenal (ayaso), dipuji (pasaṃsā), dicela (nindā), suka (sukhaṃ), dan duka (dukkhaṃ) adalah bagian dari kehidupan datang silih berganti (A. IV. 157). Dalam menghadapi dinamika kehidupan ini, kebijaksanaan adalah hal yang sangat penting untuk dimiliki. Kebijaksanaan bagaikan penerang kegelapan yang menunjukkan manusia untuk memahami kenyataan dan menyikapinya dengan cara yang dewasa. Ajaran Buddha adalah ajaran yang berisi tentang kebijaksanaan. Buddha mengatakan bahwa ajaran yang Beliau ajarkan adalah untuk ia yang bijaksana, bukan untuk orang yang sebaliknya (paññavato ayaṃ dhammo, nāyaṃ dhammo duppaññassa) (A. IV. 229).
Ajaran Buddha berisi kebijaksanaan untuk menyikapi dinamika kehidupan. Perubahan, kematian, atau kehilangan memang tidak bisa dihentikan dengan kebijaksanaan, tetapi kebijaksanaan menujukkan cara terbaik untuk menghadapinya. Dikatakan bahwa Dhamma melindungi ia yang melaksanakannya bagaikan payung besar di musim hujan (Dhammo have rakkhati dhammacāriṃ, chattaṃ mahantaṃ yatha vassakāle) (Net. 6). Dhamma melindungi yang melaksanakannya bagaikan payung yang melindungi seseorang dari basahnya air hujan. Meskipun payung tidak bisa menghentikan hujan yang turun, tetapi payung bisa digunakan untuk melewati hujan tanpa dibuat basahnya air hujan. Demikian juga, meskipun Dhamma tidak untuk menghentikan perubahan-perubahan yang terjadi, tetapi Dhamma dapat dijadikan pedoman untuk menghadapi kenyataan tersebut tanpa larut dalam penderitaan.
Kebijaksanaan adalah harta yang paling berharga di dunia. Buddha menyebutkan bahwa kebijaksaan adalah permata berharga bagi para manusia (paññā narānaṃ ratanaṃ) (S. I. 36). Kehilangan terbesar bukanlah kehilangan kekayaan, keluarga, atau popularitas, melainkan adalah kehilangan kebijaksanaan (A. I. 15). Oleh karena itu, kebijaksanaan sangat penting untuk dimiliki. Buddha menyebutkan tiga jenis kebijaksanaan berdasarkan cara mendapatkannya, yaitu: kebijaksanaan yang diperoleh melalui pemikiran (cintāmaya paññā), melalui belajar atau mendengar (sutamayā paññā), dan melaui pengembangan batin atau meditasi (bhāvanāmaya paññā) (D. III. 219). Berpikir dan perenungan yang matang melatih seseorang untuk menjadi bijaksana. Belajar dan banyak mendengar menjadikan seseorang bertambah wawasan, sehingga pandangannya menjadi terbuka. Meditasi atau pengembangan batin menuntunnya untuk melihat kebenaran hidup yang sesungguhnya.
Kebijaksanaan bukanlah sesuatu yang bisa diberikan oleh orang lain, melainkan sesuatu yang harus ditumbuhkan sendiri. Dalam Paññāvuddhi Sutta, Aṅguttara Nikāya, Buddha juga menyebutkan empat hal yang dapat menuntun pada berkembangnya kebijaksanaan, yaitu: 1) Bergaul dengan orang-orang yang bijak (sappurisasaṃseva); 2) Mendengarkan Dhamma yang benar (saddhammasavanaṃ); 3) Pengamatan saksama (yonisomanasikāra); 4) Praktik sesuai Dhamma (dhammānudhammappaṭipatti) (A. II. 245). Bergaul dengan orang-orang yang bijaksana adalah unsur yang sangat penting untuk belajar menjadi bijaksana serta merupakan awal dari segala keberkahan yang lain. Dalam Maṅgala Sutta, dikatakan bahwa tidak bergaul dengan orang-orang yang dungu (asevanā ca bālānaṃ) dan senantiasa bergaul dengan para bijaksanawan, (paṇḍitānañca sevanā) adalah berkah utama (etaṃ maṅgalamuttamaṃ) (Khp. 3). Selain itu, mendengarkan Dhamma yang sejati adalah cara efektif untuk menumbuhkan kebijaksanaan melalui pengetahuan. Mendengarkan Dhamma memberikan banyak manfaat, antara lain: mendengar apa yang belum pernah didengar (assutaṃ suṇāti), menjernihkan apa yang sudah pernah didengar sebelumnya (sutaṃ pariyodāpeti), menghilangkan keraguan (kaṅkhaṃ vitarati), meluruskan pandangan (diṭṭhiṃ ujuṃ karoti), dan membuat pikiran menjadi tenang (cittamassa pasīdati) (A. III. 248). Selain itu, pengamatan dengan saksama atau pertimbangan yang matang merupakan tindakan penting untuk mengembangkan kebijaksanaan. Kebijaksanaan tidak lahir dari tindakan yang ceroboh, melainkan dari keputusan yang dewasa. Praktik sesuai dengan Dhamma akan menyempurnakan kebijaksanaan yang tidak hanya sebatas pengetahuan.
Menjadi tua tidak menjamin seseorang menjadi bijaksana. Usia hanyalah angka yang menjadi bukti bahwa ia telah melewati hidup tahun demi tahun, tetapi belum tentu ia belajar menjadi bijaksana. Dalam Dhammapada dikatakan bahwa orang yang tidak belajar akan menua seperti sapi, hanya dagingnya yang bertambah tetapi kebijaksanaannya tidak berkembang (Appassutāyaṃ puriso, balibaddhova jīrati, maṃsāni tassa vaḍḍhanti, paññā tassa na vaḍḍhati) (Dhp. 152).
Oleh: Bhikkhu Medhacitto
Minggu, 13 April 2025