Sudahkan Membalas Budi Orang Tua
- Puja Bakti Umum
- March 4, 2026
- 16 minutes read
Mātāpitu upaṭṭhānaṁ, puttadārassa saṅgaho
Anākulā ca kammantā, etammaṅgalamuttamaṁ’ti
Membantu ayah dan ibu, menunjang anak dan istri, dan bekerja dengan sunguh-sungguh, Itulah berkah utama. (Maṅgala Sutta)
Menurut Sang Buddha terdapat empat ladang untuk menanam jasa kebajikan paling subur, yaitu: 1) Para Buddha, 2) Para Arahat, 3) Ibu, dan 4) Ayah. (AN, II, 4)
Para Buddha jarang sekali muncul di dunia ini, demikian pula para Arahat. Akan tetapi ibu dan ayah yang baik dan tercinta adalah biasa terdapat dalam setiap rumah tangga. Mereka benar-benar merupakan ladang yang subur untuk menanam kebajikan bagi anak yang berbakti dan tahu balas budi. Sungguh beruntung bagi anak laki-laki dan perempuan yang masih memiliki ibu dan ayah yang terkasih, sehingga mereka dapat setiap saat memberikan kasih sayang dan ungkapan terima kasih kepada orang tuanya.
Barang siapa yang memperlakukan dengan buruk ibu, ayah, dan Sammasambuddha Sang Tathagata serta para pengikutnya, sebenarnya telah menimbun banyak bibit-bibit penderitaan. Karena siapa pun yang mengabaikan orang tuanya dalam hidup ini, akan dicela oleh orang bijkasana dan dalam kelahiran selanjutnya ia akan menderita sengsara di alam neraka. Barang siapa yang telah memperlakukan dengan baik ibu, ayah dan Sammasambuddha Sang Tathagata serta para pengikutnya, sesungguhnya telah menimbun banyak bibit-bibit kebajikan, karena siapa pun yang berbuat kebajikan kepada orang tuanya dalam hidup ini, akan dipuji oleh para bijaksana dan dalam kelahiran selanjutnya, ia akan hidup berbahagia di alam-alam surga.
Dalam Sigalovada Sutta, dijelaskan tentang lima kewajiban anak terhadap orang tuanya, sebagai arah Timur, yaitu:
Merawat dan menunjang kehidupan orang tua
Setiap anak pasti mempunyai orang tua, sejak berada dalam kandungan telah menerima kasih sayang dari kedua orang tua. Sungguh beruntung seorang anak lahir di tengah-tengah keluarga yang harmonis, memiliki ibu yang penuh kasih sayang, memiliki ayah yang penuh tanggung jawab. Ibu dan ayah merupakan orang yang sangat berjasa bagi anak, yang telah melindungi anaknya dari segala mara bahaya pada saat anaknya tak berdaya, memberi sandang pangan, tempat berteduh, mengajarkan anak hal-hal yang baik dan menjauhi hal-hal yang buruk, menyekolahkan anak agar memiliki pengetahuan dan keterampilan supaya kelak bisa mandiri dan mencari nafkah, dan sebagainya. Orang tua yang telah membesarkan dengan baik, adalah sangat pantas untuk disokong anak-anaknya sebagai balas jasa; meskipun sebenarnya jasa orang tua itu tidak akan pernah dapat dibalas oleh anak-anaknya.
Menjalankan tugas dan kewajiban orang tua
Ini adalah hal yang sangat penting untuk dilaksanakan oleh anak atau menantu. Setiap anak atau menantu seharusnya mengerti apa yang diharapkan dari mereka dan melaksanakan hal-hal tersebut dengan sebaik-baiknya untuk memuaskan orang tua dan mertuanya. Adalah kewajiban bagi anak untuk menyenangkan dan membahagiakan orang tua, bila perlu mengorbankan kesenangan atau kepentingan sendiri demi orang tua.
“Mereka yang patuh pada Dhamma dan merawat orang tua yang sedang menderita, kebaikannya akan diperhatikan oleh para dewa dan kebaikannya akan dipuji oleh para dewa, sehingga para dewa akan datang untuk mengobatinya, serta kelahiran berikutnya ia akan memperoleh kebahagiaan di surga”. (Temiya Jataka)
Anak dan menantu seharusnya tidak hanya memperhatikan kebutuhan materi, namun wajib memperhatikan kebahagiaan batin mereka. Doronglah agar mereka orang tua mengembangkan kemurahan hati, moral etik, kebajikan, kebijaksanaan dan lain sebagainya. Dan doronglah agar mereka banyak melakukan perbuatan jasa yang kelak akan menguntungkan bagi mereka sendiri dalam kehidupan selanjutnya.
Menjaga nama baik keluarga dan terdisi keluarga
Merupakan kewajiban seorang anak, kalau bukan anak yang memelihara garis keturunan atau silsilah dan tradisi keluarga, lalu siapa lagi? Tradisi yang baik tidak bertentangan dengan Dhamma, sebaiknya dipelihara secara baik. Memperhatikan sanak keluarga dan membantu mereka yang perlu ditolong adalah hal yang membawa berkah. Tidak menghamburkan harta benda keluarga, memulihkan atau memperbaiki integritas, kehormatan keluarga dan mempersembahkan dana untuk kepentingan keagamaan, seperti mempersembahkan dana secara rutin, menyokong kegiatan keagamaan, dunia pendidikan, yayasan sosial, fakir miskin dan bencana alam yang telah dilakukan orang tua wajib dilanjutkan oleh anak-anaknya.
Berperilaku yang pantas agar layak menerima warisan
Seorang anak yang baik selalu berusaha untuk hidup sesuai dengan Dhamma, menghindari hal-hal buruk, tidak bergaul dengan orang jahat, bergaul dengan para bijaksana, bersikap dewasa dalam berpikir dan bertindak, sehingga kedua orang tuanya menilai bahwa anak tersebut layak menerima warisan dari mereka. Demikianlah, setelah warisan itu diterima oleh si anak, lalu dikelola dengan baik, tidak dihambur-hamburkan, justru digunakan sebagai modal usaha atau mengembangkan usaha yang sudah ada, sehingga membawa manfaat bagi dirinya sendiri, bagi keluarga maupun bagi lingkungan masyarakatnya.
Melakukan pelimpahan jasa untuk orang tua ketika mereka sudah meninggal dunia
Seorang anak yang baik akan mengurus persembahyangan untuk sanak keluarga yang telah meninggal dunia, yang dimaksud di sini adalah melakukan pattidāna. Anak yang baik akan banyak melakukan perbuatan jasa, yaitu:
Membaca paritta atau mengulang kotbah Sang Buddha;
Mencetak buku-buku Dhamma;
Berdana pembangunan vihara, cetiya, stupa atau fasilitas umum seperti: membangun sekolah, jalan, jembatan, dan lainnya;
Berdana empat kebutuhan kepada Saṅgha atau para bhikkhu;
Melepas makhluk hidup atau fangsen atau abhayadana.
Setelah melakukan banyak perbuatan jasa, lalu ia bertekad semoga para leluhur atau sanak keluarga yang telah meninggal dunia turut berbahagia atau turut bersimpati atas kebajikan ini. Diharapkan mudita citta (pikiran penuh simpati dan turut bergembira) muncul dalam batin para leluhur atau sanak keluarga yang telah meninggal itu, dan mudah-mudahan hal tersebut akan membuat mereka yang terlahir di alam-alam yang menyedihkan dapat terlahir kembali di alam-alam bahagia. Berdana secara rutin atas nama orang tua yang telah meninggal adalah sangat terpuji yang dilakukan oleh anak yang berbakti, untuk mengenang jasa-jasa mendiang, dan juga untuk kebaikan para mendiang.
Sabbe Sattā Bhavantu Sukhitattā
Semoga Semua Makhluk Berbahagia
Oleh: Bhikkhu Tejanando Mahāthera
Minggu, 01 Maret 2026



