Uposatha
- Puja Bakti Umum
- November 9, 2025
- 12 minutes read
Para bhikkhu, bahwa jika seseorang laki-laki atau perempuan
di sini melaksanakan uposatha yang lengkap dalam delapan faktor ini,
maka dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, mereka akan terlahir
kembali di tengah-tengah para deva.
(AN 8:41; IV 248-51)
“Ketika, O para bhikkhu, pelaksanaan uposatha lengkap dalam delapan faktor, hal ini akan berbuah besar dan bermanfaat, bercahaya dan menyebar. Dan bagaimanakah pelaksanaan Uposatha itu yang lengkap dalam delapan faktor?”
“Di sini, para bhikkhu, seorang siswa mulia merenungkan sebagai berikut: ‘Seumur hidup mereka, para Arahant meninggalkan perbuatan menghancurkan kehidupan, menghindari menghancurkan kehidupan; dengan tongkat pemukul dan senjata ditinggalkan, mereka berhati-hati dan penuh belas-kasih dan berdiam penuh belas kasih kepada semua makhluk hidup. Hari ini aku juga, selama sepanjang hari dan malam ini, akan melakukan hal serupa. Aku akan meniru para Arahant dalam hal ini, dan pelaksanaan uposatha akan terpenuhi olehku.’ Ini adalah faktor pertama.
“Kemudian, ia merenungkan: ‘Seumur hidup mereka, para Arahant meninggalkan perbuatan mengambil apa yang tidak diberikan, menghindari mengambil apa yang tidak diberikan; hanya mengharapkan apa yang diberikan, dan berdiam dengan jujur tanpa mencuri. Hari ini aku juga, selama sepanjang hari dan malam ini, akan melakukan hal serupa….’ Ini adalah faktor ke dua.
‘Seumur hidup mereka, para Arahant meninggalkan hubungan seksual dan menjalankan hidup selibat, menahan diri dari praktik kasar hubungan seksual. Hari ini aku juga, selama sepanjang hari dan malam ini, akan melakukan hal serupa….’ Ini adalah faktor ke tiga.
‘Seumur hidup mereka, para Arahant meninggalkan ucapan salah, menjadi pengikut kebenaran, layak dipercaya dan dapat diandalkan, bukan penipu dunia. Hari ini aku juga, selama sepanjang hari dan malam ini, akan melakukan hal serupa….’ Ini adalah faktor ke empat.
‘Seumur hidup mereka, para Arahant meninggalkan anggur, minuman keras, dan minuman memabukkan, landasan kelengahan, dan menghindarinya. Hari ini aku juga, selama sepanjang hari dan malam ini, akan melakukan hal serupa….’ Ini adalah faktor ke lima.
‘Seumur hidup mereka, para Arahant hanya makan satu kali dalam sehari dan menghindari makan di malam hari, di luar waktu yang benar. Hari ini aku juga, selama sepanjang hari dan malam ini, akan melakukan hal serupa….’ Ini adalah faktor ke enam.
‘Seumur hidup mereka, para Arahant menghindari tarian, nyanyian, musik, dan pertunjukan-pertunjukan tidak selayaknya, dan menghindari menghias diri mereka dengan mengenakan kalung bunga dan menggunakan wewanginan dan salep. Hari ini aku juga, selama sepanjang hari dan malam ini, akan melakukan hal serupa….’ Ini adalah faktor ke tujuh.
‘Seumur hidup mereka, para Arahant meninggalkan penggunaan tempat tidur dan tempat duduk yang tinggi dan mewah; mereka menggunakan tempat beristirahat yang rendah, apakah tempat tidur kecil atau alas duduk jerami. Hari ini aku juga, selama sepanjang hari dan malam ini, akan melakukan hal serupa. Aku akan meniru para Arahant dalam hal ini, dan pelaksanaan uposatha akan terpenuhi olehku.’ Ini adalah faktor ke delapan.
“Ketika, para bhikkhu, pelaksanaan uposatha lengkap dalam delapan faktor ini, hal ini akan berbuah besar dan bermanfaat, bercahaya dan menyebar. Dan sejauh apakah hal ini berbuah besar dan bermanfaat, bercahaya dan menyebar?”
“Misalkan, para bhikkhu, seseorang mengerahkan kekuasaan pada enam belas negeri besar ini yang memiliki tujuh pusaka berharga berlimpah, yaitu, Aṅga, Magadha, Kāsi, Kosala, Vajji, Malla, Ceti, Vaṃsa, Kuru, Pañcāla, Maccha, Sūrasena, Assaka, Avanti, Gandhāra, dan Kamboja hal ini masih tidak sebanding dengan seperenambelas bagian dari pelaksanaan uposatha yang lengkap dalam delapan faktor ini. Karena alasan apakah? Karena kerajaan manusia adalah miskin jika dibandingkan dengan kebahagiaan surgawi.
“Bagi para dewa di alam Empat Raja Dewa satu hari dan satu malam adalah sama dengan lima puluh tahun manusia; tiga puluh hari demikian menjadi satu bulan; dan dua belas bulan demikian menjadi satu tahun. Umur kehidupan para dewa di alam Empat Raja Dewa adalah lima ratus tahun surgawi. Adalah mungkin, para bhikkhu, bahwa jika seseorang laki-laki atau perempuan di sini melaksanakan uposatha yang lengkap dalam delapan faktor ini, maka dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, mereka akan terlahir kembali di tengah-tengah para dewa di alam Empat Raja Dewa. Adalah sehubungan dengan hal ini Aku mengatakan bahwa kerajaan manusia adalah miskin jika dibandingkan dengan kebahagiaan surgawi.
“Bagi para dewa di alam Tāvatiṃsa satu hari dan satu malam adalah sama dengan seratus tahun manusia…. Umur kehidupan para dewa Tāvatiṃsa adalah seribu tahun surgawi…. Bagi para dewa Yāma satu hari dan satu malam adalah sama dengan dua ratus tahun manusia…. Umur kehidupan para dewa Yāma adalah dua ribu tahun surgawi…. Bagi para dewa Tusita satu hari dan satu malam adalah sama dengan empat ratus tahun manusia…. Umur kehidupan para dewa Tusita adalah empat ribu tahun surgawi…. Bagi para dewa yang bergembira di dalam penciptaan, satu hari dan satu malam adalah sama dengan delapan ratus tahun manusia…. Umur kehidupan para dewa yang bergembira di dalam penciptaan adalah delapan ribu tahun surgawi…. Bagi para dewa yang menguasai ciptaan para dewa lain, satu hari dan satu malam adalah sama dengan seribu enam ratus tahun manusia; tiga puluh hari demikian menjadi satu bulan; dan dua belas bulan demikian menjadi satu tahun. Umur kehidupan para dewa yang menguasai ciptaan para dewa lain adalah enam belas ribu tahun surgawi. Adalah mungkin, para bhikkhu, bahwa jika seseorang laki-laki atau perempuan di sini melaksanakan uposatha yang lengkap dalam delapan faktor ini, maka dengan hancurnya jasmani, setelah kematian, mereka akan terlahir kembali di tengah-tengah para dewa yang menguasai ciptaan para dewa lain. Adalah sehubungan dengan hal ini Aku mengatakan bahwa kerajaan manusia adalah miskin jika dibandingkan dengan kebahagiaan surgawi.” (AN 8:41; IV 248-51)
Oleh Bhikkhu Vīriyavīro
Minggu, 09 November 2025



