Kebahagiaan dan hal-hal menyenangkan

 Kebahagiaan dan hal-hal menyenangkan

“Bahum pi ce saṃhitaṃ bhāsamāno, na takkaro hoti naro pamatto

Gopo va gāvo gaṇayaṃ paresaṃ, na bhāgavā sāmaññassa hoti”

Biarpun seseorang banyak membaca kitab suci, tetapi tidak berbuat sesuai dengan ajaran, maka orang yang lengah itu sama seperti penggembala sapi yang menghitung sapi milik orang lain. Ia tak akan memperoleh manfaat kehidupan suci. 

 

(Dhammapada 19)

 



Kebahagiaan adalah tema yang telah menarik banyak manusia. Kebahagiaan tidak hanya sekedar ketiadaan masalah, tetapi juga merupakan kondisi positif yang dapat dicapai melalui pengembangan kekuatan dan potensi diri (Putri, dkk. 2023). Banyak kemudian orang mendefinisikan tentang kebahagiaan itu sendiri. Ada yang berpendapat bahwa ketika mereka bisa berpergian di malam hari, pergi ke diskotik, minum bir atau yang beralkohol menurut mereka itu adalah kebahagiaan. Ada yang berpendapat ketika mereka diberikan hadiah, kejutan, pasangan yang cocok adalah kebahagiaan. Kebahagiaan yang mereka anggap sebagai kebahagiaan itu adalah kebahagiaan yang bernoda, cacat dan dapat dicela. Hal ini dikarenakan ternoda oleh pengotor batin (kilesa). Jadi, seseorang perlu berhati-hati dalam kehidupan sehari-hari saat memunculkan perasaan senang, gembira, bahagia dan suka cita karena itu belum tentu kusala. Hal itu bisa jadi muncul dari keserakahan, kebencian, kemarahan atau akusala. Oleh karena itu, ketika keserakahan muncul, ketika nafsu muncul, nafsu tersebut bisa disertai dengan perasaan suka cita, perasaan senang atau perasaan bahagia (Kheminda, 2024). 

Dalam kitab suci Aṅguttara Nikāya, Ānaṅyasutta, sutta ini menjelaskan tentang keadaan yang tidak hutang. Dalam sutta ini, menjelaskan tentang Anāthapindika seorang upasaka yang sangat terkenal, kaya raya, dia terkenal sangat murah hati di zaman Buddha Gotama. Suatu hari Anāthapindika datang mengunjungi Buddha, setelah bertemu, Buddha kemudian mengatakan “Wahai gahapati (penghuni rumah) ada empat jenis kebahagiaan yang bisa dicapai oleh kāmabhogi (mereka yang menikmati kenikmatan-kenikmatan indriawi atau mereka yang hidup sebagai perumah tangga”. Yang disebut sebagai “Kālena kālaṃ samayena samayaṃ” (yang bisa dicapai dari waktu ke waktu, dari satu kesempatan ke kesempatan yang lain”. Empat kebahagiaan tersebut adalah atthisukha, bhogasukhha, ānaṅyasukha dan anavajjasukha. 

  1. Atthisukha

Sukha itu adalah kebahagiaan sedangkan atthi itu adalah ada. Jadi kebahagiaan ketika seseorang berpikir “oh, ada”. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang tentu pernah mengalami kebahagiaan ini. Contohnya ketika seseorang memiliki uang, oh ada. Ada uang untuk beli ini dan untuk beli itu. Jadi ketika seseorang memiliki uang atau kekayaan yang cukup maka ia akan mengalami atau mengatakan itu sebagai kebahagiaan sehingga muncul perasaan bahagia. Namun, berbeda hal ketika seseorang tidak memiliki uang atau kekayaan, yang muncul adalah penderitaan.  

  1. Bhogasukha

Kebahagiaan yang muncul dari penggunaan. Ketika seseorang memiliki uang atau kekayaan itu bisa digunakan dengan baik. Contohnya, seseorang bisa memberikan kekayaannya kepada orang tua, kepada anak, kepada suami, kepada istri, keluarga, saudara dan teman yang membutuhkan atau bisa juga didanakan kepada Saṅgha. Maka itulah yang disebut sebagai bhogasukha atau kebahagiaan yang muncul dari penggunaan kekayaan.

  1. Ānaṅyasukha

Kebahagiaan yang muncul pada diri seseorang yang tidak memiliki hutang. Ānaṅya itu artinya tidak hutang, jadi kebahagiaan ini muncul ketika seseorang berpikir oh kehidupan saya sudah bagus, nyaman dan semua kekayaan saya bukan dari hasil hutang. Buddha mengatakan kekayaan itu harus “Dhammena laddhaṃ” artinya didapatkan dengan cara yang sesuai dengan ajaran Buddha. 

  1. Anavajjasukha

Kebahagiaan tanpa noda, jenis kebahagiaan ini berbeda dengan tiga jenis kebahagiaan yang di atas. Tiga jenis kebahagiaan tersebut muncul pada puthujjana. Sedangkan kebahagiaan tanpa noda muncul pada batin atau rangkaian arus kesadaran seorang ariya atau Buddha mengatakan sebagai ariyasāvaka (murid yang mulia). Jadi, kebahagiaan ini hanya dimiliki oleh seorang ariyasāvaka, yaitu yang dilengkapi dengan kamma tubuh tanpa cela, dilengkapi dengan kamma ucapan tanpa cela dan dilengkapi dengan kamma mental atau pikiran yang tanpa cela. 

Jadi, tiga jenis kebahagiaan yang pertama adalah kebahagiaan yang menjadi hak atau milik seseorang dan tidak bisa ditolak. Tetapi, sebagai umat Buddha, harus bisa memahami kebahagiaan yang keempat yaitu anavajjasukha di mana kebahagiaan ini muncul pada seorang ariya baik itu sotāpanna, anagami, sakadagami dan arahat. Selain itu, ada hal-hal yang menyenangkan bagi seseorang. Dalam kehidupan ini sebenarnya banyak sekali hal yang menyenangkan dan juga banyak keadaan-keadaan yang menguntungkan bagi siapa pun yang mendapatkannya. Hal-hal yang menyenangkan itu, adalah:

  1. Āyu (berumur panjang)

Semua orang tentu sangat menginginkan umur panjang dikarenakan memiliki usia panjang secara relatif adalah sesuatu yang menyenangkan. Di dalam Dhammapada dikatakan bahwa “Sesungguhnya semua makhluk takut pada kematian”. Dengan kata lain, bahwa dengan miliki usia panjang merupakan suatu hal yang menyenangkan. 

  1. Vanno (kerupawanan)

Secara umum, seseorang yang memiliki wajah yang rupawan dan menarik itu dianggap sebagai hal yang menyenangkan atau suatu keadaan yang sangat menyenangkan. Di dalam Abhidhamma, siapa pun yang memiliki kerupawanan yang menarik di dalam kehidupan ini khususnya alam dewa dan manusia mereka akan mudah untuk memetik buah kamma baiknya. Hal ini karena mereka yang memiliki kerupawanan itu telah mencapai keberhasilan penampilan. 

  1. Sukha (kebahagiaan)

Semua makhluk sangat mengejar kebahagiaan karena hal ini merupakan keadaan yang sangat menyenangkan. Tidak heran banyak manusia yang benar-benar memanfaatkan kehidupannya untuk mengejar kebahagiaan dan tidak ingin mengalami ketidakbahagiaan. 

  1. Bala (kekuatan)

Dalam hal ini, seseorang kuat karena sehat secara jasmani dan kuat karena memiliki kebijaksanaan. Keduanya merupakan sesuatu yang sangat menyenangkan ketika seseoarng mendapatkannya. 

  1. Ādhipateyya (kekuasaan)

Kekuasaan artinya di sini adalah ketika apa yang menjadi pemikiran, ucapan bisa dipatuhi orang lain. Seseorang bisa mengelola kehidupannya sesuai dengan keinginannya dan orang lain akan mengikutinya. Jadi, secara umum memiliki kekuasaan seperti itu merupakan hal yang menyenangkan dan meskipun itu bukan sebagai tujuan akhir. 

Lima hal yang menyenangkan ini merupakan tidak hanya hasil dari kerja keras, namun ada sebab atau benih yang membuahkannya. Jadi, ibaratnya mangga itu adalah hasil dari benih mangga, maka lima hal ini adalah efek dari satu sebab atau buah dari satu sebab. Lima hal ini adalah efek atau buah dari satu sebab atau satu benih, yaitu yang disebut sebagai dana, seperti dana makanan dan lain-lain. Ini adalah apa yang disampaikan Buddha. Tujuan dari menyampaikan hal ini adalah untuk memperkuat pandangan benar, bahwa di dalam kehidupan ini ada hukum yang berkerja, yaitu hukum sebab dan akibat. 


Referensi:

  • Ñāṇamoli & Bodhi. 2013. Aṅguttara Nikāya. DhammaCitta Press: Jakarta Barat

  • Kheminda. 2024. Ovādakathā, volume I.: Yayasan Dhammavihari: Jakarta Barat. Hal. 99-115. 

  • Putri, Aulia, Clarabel, Fariduddin dan Suryo. 2023. Konsep Kebahagiaan Menurut Psikologi Positif. Universitas Sebelas Maret: Jawa Tengah. Hal. 3-5. 



Oleh Bhikkhu Abhayavaso

Minggu, 22 September 2024


Vihāra Jakarta Dhammacakka Jaya

https://www.dhammacakka.org

Related post