Jalan Surgawi
- Puja Bakti Umum
- December 8, 2024
- 6 minutes read
Saddhā hiriyaṃ kusalañca dānaṃ, Dhammā ete sappurisānuyātā,
Etañhi maggaṃ diviyaṃ vadanti, Etena hi gacchati devalokan’ti.
Keyakinan, rasa malu, tindakan bermanfaat memberi adalah kualitas-kualitas yang dikejar oleh orang baik. Karena ini, mereka mengatakan adalah Jalan Surgawi, yang dengannya seseorang pergi ke alam para dewa.
(Aṅguttara Nikāya VIII: Dānavagga, ‘Dutiyadāna Sutta’)
Orang bijaksana tentu akan terus berupaya mengejar kualitas-kualitas baik, dengan terus mengembangkan kebajikan-kebajikan tanpa kenal lelah. Mereka berusaha mencari, berlatih dan menumbuh-kembangkan pelatihan bajik untuk mencapai kebahagiaan, baik saat ini maupun untuk masa akan datang. Alih-alih kebanyakan manusia saat ini melakukan kebaikan, justru sebagian besar manusia bertekad pada apa yang rendah, dikembangkan lebih tinggi, mengarah pada kelahiran di sana (apāya).
Keinginan-keinginan manusia duniawi pada dasarnya adalah kewajaran dari apa yang ingin dicapai. Niatan-niatan mereka yang ingin mencapai pengharapan luhur duniawi tentu tidak ada larangan, tapi pencapaian itu tentu membutuhkan usaha, kerja keras, ketekunan dan kesabaran; bila terjadi perubahan tidak tercapai ataupun kegagalan harus diterima pula. Apakah kita tidak boleh punya keinginan? Keinginan menjadi orang kaya, pejabat, dewa ataupun brahma! Tentu boleh, tetapi kita harus banyak berbuat kebajikan-kebajikan.
“Taņhāsambhūto, ayaṃ bhagini kāyo, taņhaṃ nissāya; taņhā pahātabbā”, tubuh {batin – jasmani} terbentuk dari keinginan, dengan bergantung pada keinginan, maka keinginan harus ditinggalkan, (AN IV: Indriyavagga, Bhikkhunī Sutta). Contoh cerita dalam Dhammapada aṭṭhakathā syair 30, Kisah Magha; …….. Seorang pemuda bernama Magha, yang tinggal di desa Macala. Pemuda Magha dan tiga puluh dua sahabatnya pergi untuk membangun jalan dan tempat tinggal. Magha juga bertekad untuk melakukan tujuh kewajiban. Dan tujuh kewajiban tersebut adalah kewajiban seumur hidupnya. Karena kelakuannya yang baik dan tingkah lakunya yang benar pada kehidupannya yang lampaulah, Magha dilahirkan kembali sebagai Sakka, Raja para dewa Tāvatimsa.
Untuk itu, kita harus dapat merubah keinginan tersebut menjadi keinginan yang bersifat konstruktif, membangun; alih-alih keinginan yang bersifat destruktif, meruntuhkan kualitas-kualitas bajik yang telah kita miliki. Jadi lakukanlah banyak hal-hal bajik dalam mengondisikan keinginan-keinginan duniawi yang muncul itu, hingga pada memuncaknya kita mampu melepaskan hal-hal yang bersifat duniawi tersebut. Berkaitan dengan itu, kita harus memiliki kualitas-kualitas baik dan berupaya mengejarnya sebagai upaya menuju Jalan Surgawi; seperti memiliki Saddhā, Sīla, Hiri, Ottappa, Bāhusacca, Cāga, Viriya, Sati, Sampajañña, dan lain sebagainya. Sebagai kesimpulan, kita harus terus mempraktikkan tiga landasan aktivitas berjasa Dāna, Sīla dan Bhāvanā. Dan kita harus terus berupaya meningkatkan nilai-nilai kebajikan kita itu dari yang terbatas, meningkat menjadi menengah, dan akhirnya meningkat dalam jangkauan yang luas {hina – majjhima – paņita}. Dalam hubungan ini, AN VIII: Dānavagga, ‘Puññakiriyavatthu Sutta’, menjelaskan setelah kehancuran jasmani seseorang, manfaat kebajikan yang telah dimiliki orang itu akan mengondisikan pencapaian luhur mereka. Sungguhpun demikian, dalam Khuddakanikāya: Khuddakapāṭha, ‘Nidhikaņḍa Sutta’, pencapaian-pencapaian luhur baik duniawi maupun adiduniawi dapat terkondisikan oleh harta sejati, kebajikan.
Oleh sebab itu, berusahalah tanpa patah semangat, murnikan dan hiasilah diri kita dengan pikiran/kebajikan luhur, serta kejarlah Jalan Surgawi. Dhammapada syair 30, berbunyi:
Appamādena Maghavā, devānaṃ seṭṭhataṃ gato
Appamādaṃ pasaṃsanti, pamādo garahito sadā.
Karena ketidaklengahannya, Maghavā menjadi yang paling utama di antara para dewa. Para Bijaksanawan menyanjung ketidaklengahan, mencela kelengahan sepanjang masa.
Sabbe sattā bhavantu sukhitattā, Semoga semua makhluk hidup berbahagia.
Oleh Bhikkhu Subharo
Minggu, 01 Desember 2024