Lonakapalla Sutta

 Lonakapalla Sutta

Lonakapalla Sutta adalah khotbah Buddha pada Aṅguttara Nikāya tentang perumpamaan segenggam garam.


Dua individu yang melakukan kamma buruk namun hasil vipāka-kamma berbeda.
Si A karena kamma buruk yang dilakukan terkondisi ke neraka karena terbatas dalam moralitas, berkarakter rendah, dan tidak berkembang dalam kebijaksanaan. Si A merasakan penderitaan berat karena ibarat segenggam garam ditabur di semangkuk kecil air, maka air tersebut sangat asin.


Si B juga melakukan kamma buruk namun tidak terkondisi ke neraka karena ia berkembang dalam perilaku bermoral dan berkembang dalam kebijaksanaan. Juga jika ia berlatih lebih tinggi, ia akan memiliki karakter mulia. Ibarat segenggam garam ditaburkan ke dalam samudra luas, maka air tersebut tidak terasa asin. Demikian pula Si B yang tidak merasakan penderitaan akibat perbuatannya karena batinnya yang terlatih dalam kebajikan.

Perumpamaan segenggam garam memberikan pemahaman pentingnya kualitas batin pelaku. Karena batin yang terlatih dapat menerima hasil vipāka-kamma dengan baik sehingga tidak terlalu menderita, seperti perumpamaan air samudra yang tidak terasa asin sekalipun ditabur segenggam garam. Sementara batin yang tidak terlatih akan merasa sangat menderita saat menerima hasil vipāka-kamma, seperti perumpamaan semangkuk air yang akan terasa asin karena ditabur segenggam garam tersebut.


Hal ini juga menegaskan bahwa dalam hukum kamma, hasil vipāka-kamma yang dialami pelaku bergantung pada fungsi kamma, bobot kamma, bahkan waktu berbuahnya kamma.


Ada 4 kamma berdasarkan fungsi kamma, yaitu:

  1. Janaka-kamma: kamma yang berpotensi melahirkan hasil kamma.

  2. Upatthambhaka-kamma: kamma pendorong.

  3. Upapīḷaka-kamma: kamma penekan.

  4. Upaghātaka-kamma: kamma pemotong/penghancur.

Ada 4 kamma berdasarkan bobot kamma, yaitu:

  1. Garuka-kamma: kamma yang sangat berat (perumpamaan batu).

  2. Āsanna-kamma: kamma menjelang ajal (perumpamaan kayu).

  3. Āciṇṇa-kamma: kamma kebiasaan (perumpamaan kertas).

  4. Katattā-kamma: kamma yang jarang dilakukan, atau dilakukan dengan kurang perhatian, tidak disengaja (perumpamaan bulu atau kapas).

Ada 4 kamma berdasarkan waktu berbuah kamma, yaitu:

  1. Diṭṭhadhammavedanīya-kamma: kamma berbuah dalam kehidupan saat ini juga.

  2. Upapajjavedanīya-kamma: kamma berbuah di kehidupan kedua.

  3. Aparāparavedanīya-kamma: kamma berbuah di kehidupan ketiga dan seterusnya.

  4. Ahosi-kamma: kamma mandul atau tak dapat memberi akibat karena rusak, habis masa waktu, atau tak memiliki kondisi berbuah.

Semua perbuatan baik atau buruk pasti memiliki potensi berbuah karena fungsi janaka-kamma. Namun vipāka-kamma dapat bertambah kuat karena fungsi upatthambhaka-kamma, juga dapat melemah karena upapīḷaka-kamma, atau juga dipotong oleh upaghātaka-kamma.


Apa pun kamma yang dilakukan juga akan berbuah berdasarkan bobotnya. Jika garuka-kamma akan berbuah terlebih dahulu. Jika tidak ada garuka-kamma maka āsanna-kamma akan berbuah saat menjelang ajal. Jika tidak ada āsanna-kamma maka āciṇṇa-kamma sebagai kamma kebiasaan akan berperan dalam penentuan vipāka-kamma. Demikian pula dengan katattā-kamma walaupun vipāka-nya kecil, tetap memberi dampak pada vipāka-kamma.


Selain itu, walaupun vipāka-kamma belum berbuah dalam kehidupan ini, namun berpotensi berbuah di kehidupan kedua, ketiga, dan seterusnya selama kita belum memutuskan akar lobha, dosa, dan moha.


Oleh karena itu, mari kita hidup sadar dan waspada. Kegiatan dan pekerjaan harian kita akan menjadi kamma kebiasaan. Momen berkesan akan menjadi āsanna-kamma. Oleh karena itu, kembangkan kebiasaan baik dan lepaskan momen negatif agar dapat mengondisikan kehidupan yang bahagia sekarang maupun yang akan datang.

Vihāra Jakarta Dhammacakka Jaya

https://www.dhammacakka.org

Related post