MĀGHA PŪJĀ
- Puja Bakti Umum
- March 4, 2026
- 12 minutes read
Sabbapāpassa akaraṇaṁ, kusalassūpasampadā.
Sacittapariyodapanaṁ, etaṁ Buddhānasāsanan’ti
Tidak melakukan segala perbuatan buruk, melakukan perbuatan baik, membersihkan batin sendiri, ini adalah ajaran para Buddha.
(Ovāda Pāṭimokkha)
Māgha adalah nama bulan pada kalender Buddhis, bersamaan dengan bulan Februari atau Maret pada penanggalan Masehi. Pada bulan purnama dalam bulan Māgha ini terjadi satu peristiwa penting yang terjadi satu kali saja dalam 45 tahun sejarah kehidupan Buddha Gotama.
Diawali ketika Sang Buddha menugaskan 60 Bhikkhu Arahat untuk membabarkan Dhamma. Para Bhikkhu Arahat tersebut ditugaskan bepergian sendiri-sendiri untuk mengajarkan Dhamma yang indah pada awalnya, indah pada pertengahannya dan indah pada akhirnya.
Para Bhikkhu Arahat yang berjumlah 60 orang tersebut setelah menjalankan tugas dari Sang Buddha, tiba waktunya kembali menemui Sang Buddha untuk memberikan hormat yang sangat mendalam. Tanpa perjanjian kapan waktunya; saat purnama penuh di bulan Māgha, selain ke 60 Bhikkhu Arahat tersebut datang pula Bhikkhu Arahat dari segala penjuru sehingga berjumlah 1.250 Bhikkhu Arahat secara serempak datang menghadap Sang Buddha di hutan bambu Veluvana-Arama, di Rajagaha. Sungguh peristiwa yang luar biasa. Pada kesempatan itu Sang Buddha membabarkan Ovāda Pāṭimokkha.
Peringatan ini didasarkan pada peristiwa historis yang sangat langka, yang sering disebut sebagai Cāturaṅghasannipāta (Pertemuan Empat Faktor), yaitu:
Berkumpulnya 1.250 Bhikkhu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu;
Semua Bhikkhu yang hadir tersebut telah mencapai tingkat kesucian Arahat dan memiliki Abhiñña;
Semua Bhikkhu tersebut ditahbiskan dengan Ehibhikkhu Upasampadā;
Sang Buddha membabarkan Ovāda Pāṭimokkha kepada para Bhikkhu tersebut.
Pada saat Uposatha, yang dilakukan para bhikkhu membaca ulang Pāṭimokkha dan menyadari status sebagai Bhikkhu. Ovāda Pāṭimokkha adalah sumber dari peraturan sila bagi para Bhikkhu.
Berbuat baik adalah untuk mengurangi penderitaan, minimal penderitaan orang lain maupun bagi diri sendiri. Ada kalanya kita merasa tidak pernah berbuat jahat tetapi mengapa masih tetap menderita? Itu adalah akibat karma buruk di masa lampau. Penderitaan yang sering kita alami adalah buah dari karma buruk kita di masa lalu. Demikian halnya dengan kemudahan-kemudahan kita saat ini adalah buah dari karma baik kita di masa lampau.
Perbuatan apapun yang kita lakukan akan mengikuti kita di manapun kita lahir; menghasilkan buah karma masing-masing sehingga kehidupan setiap orang akan berbeda satu dengan lainnya.
Hindari perbuatan yang tidak baik karena buah karma buruk sangatlah berbahaya. Kelahiran kita ini sebetulnya adalah penderitaan; menderita usia tua, penyakit, kematian.
Sesorang yang masih menyakiti orang lain sesungguhnya tidak layak disebut seorang samana. Tidak mencari kesalahan orang lain dan tidak menyakiti makhluk lain. Berdiam di tempat yang sepi dan tenang. Hendaknya kita melatih diri tinggal di tempat sepi untuk mengembangkan ketenangan batin melalui meditasi. Meditasi diibaratkan pengisian daya baterai handphone supaya tidak drop, tidak lemah, dan tidak rusak. Ajaran Sang Buddha sangat luhur, berbahagialah kita mengenal Dhamma.
Ada 3 jalan yang dijelaskan oleh Sang Buddha yaitu:
Jalan ke alam menyedihkan;
Jalan ke alam sugati (alam bahagia);
Jalan untuk terbebas dari penderitaan.
Perlu parami luar biasa untuk dapat terlahir di alam sugati. Paling tidak lahir di tempat yang sesuai (Paṭirūpadesavāso ca), tempat yang menyenangkan. Terlahir sebagai manusia adalah suatu keberuntungan yang sangat besar karena kita dapat mendengarkan dan mempraktikkan Dhamma.
Perayaan Māgha Pūjā adalah untuk mengingatkan kita agar berada dekat dan mencintai Dhamma. Jika kita jauh dengan Dhamma maka akan sangat merugikan diri kita sendiri maupun orang lain.
Tidak cukup hanya dengan tidak berbuat jahat (menjalankan sila) tidak hanya pasif tetapi aktif menambah kebajikan misalnya berdana, menolong yang membutuhkan, berbuat baik melalui ucapan, perbuatan jasmani dan pikiran, menumbuhkan semangat (viriya), menjaga kesabaran (khanti) dan turut berbahagia melihat keberhasilan orang lain, serta bermeditasi untuk mengikis kekotoran batin.
Semoga semua makhluk hidup berbahagia
Oleh: Bhikkhu Khemavīro Thera
Minggu, 15 Februari 2026



