Memberi Apapun Itu Menjadi Milikmu

 Memberi Apapun Itu Menjadi Milikmu

 

Manopubbaṅgamā dhammā, manoseṭṭhā manomayā; 

Manasā ce pasannena, bhāsati vā karoti vā; 

Tato naṁ sukhamanveti, chāyāva anapāyinī’ti.

Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin,

pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran murni, maka kebahagiaan akan mengikutinya, bagaikan bayang-bayang yang tak pernah meninggalkan bendanya. 

 

(Dhammapada 2)

Suatu hal yang unik dalam judul tersebut di atas, memiliki makna bahwa apa yang diberikan kepada orang lain itu justru menjadi milik bagi si pelaku yang memberi. Apa yang dapat kita mengerti dari makna kata-kata judul itu, mari kita cermati dengan sebaik-baiknya dalam tulisan selanjutnya di bawah ini. 


Memberi berarti menanam

Ada orang yang berpikir bahwa justru karena memberi maka apa yang diberikan itu menjadi habis atau hilang. Memberi kepada orang lain itu artinya anda menyimpan dan menabung pemberian itu menjadi milik yang tidak bisa diambil ataupun dirampas sekalipun, dengan cara apapun tidak bisa terjadi. 

Artinya apa yang diberikan itu justru akan mengikuti pelaku ke manapun pergi, meninggal dunia juga akan ikut terlahir di alam manapun yang sesuai dengan kekuatan perbuatan memberi itu sendiri.


Rajin Merawat Tanaman

Orang yang bekerja merawat tanaman akan berjuang dan berkorban tanpa kenal lelah hingga memperoleh hasil yang maksimal. Seperti para petani yang ulet dan tekun bangun pagi-pagi turun ke sawah kerja sampai sore bahkan hingga malam. Untuk apa? Tentu mereka bekerja untuk mengolah tanah garapan, lalu menanam bibit yang sesuai dan merawat hingga panen dengan sangat baik dan sukses mengumpulkan dan menyimpan hasil panen, juga menikmati dengan penuh rasa bahagia.


Setelah Menanam Bisa Memetik

Itulah mengapa setelah menanam dapat memetik dan menikmati hasil panen dengan baik. Meskipun tidak selalu memikirkan untuk memperoleh hasilnya sekalipun, namun karena memang melakukan suatu perbuatan yang mengondisikan terjadinya proses menanam benih yang sesuai, maka tetap saja akan menimbulkan buah atau hasil yang dapat dipetik dan dinikmati dengan penuh bahagia. Demikian pula dalam berbuat kebajikan apapun bentuknya, akan menghasilkan buah yang sesuai untuk dipetik dan dinikmati dengan baik. Mengapa demikian? Karena perbuatan baik yang dilakukan itu diikuti dengan pikiran bersih yang di dalamnya  disertai niat baik/ kehendak baik.

Kita semua sudah mengenal Dhammapada ayat 2 yang sudah sangat populer terutama di kalangan umat Buddha, yaitu: “Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran murni, maka kebahagiaan akan mengikutinya, bagaikan bayang-bayang yang tak pernah meninggalkan bendanya”.

Pikiran yang menyertai segala bentuk perbuatan apapun itu akan membuahkan berbagai macam akibat atau buah yang sesuai dengan bibit dalam pikiran itu dikenal dengan sebutan niat/ kehendak/ cetana.

Seseorang bisa menjadi berbahagia setelah berbuat sesuatu yang baik itu berarti perbuatan yang dilakukan itu disertai niat/ kehendak yang baik, bukan tanpa niat baik.

Sedikit lebih mendalam isi dari Dhammapada ayat 2 tersebut di atas, jika dihubungkan dengan isi  dari Aṅguttara Nikāya 3.52, bahwa menimbun harta benda materi itu tetap bagus dan perlu, akan tetapi apabila hanya disimpan di dalam gudang dan sama sekali tidak pernah dikeluarkan untuk memberi manfaat bagi pihak lain yang membutuhkan, maka itu menjadi sia-sia alias tidak memberi manfaat apapun.

Dalam Aṅguttara Nikāya 3.52 yang dimksud, diceritakan bahwa ada brahmana yang mendatangi Sang Buddha untuk memohon bimbingan yang mengarah pada kesejahteraan dan kebahagiaan hidup.

Adapun kisah yang dimaksud adalah, ”Ada dua brahmana yang sepuh, tua, terbebani dengan tahun demi tahun, lanjut usia, sampai pada tahap akhir, berusia 120 tahun, mendatangi Sang Bhagavā … dan berkata kepada Beliau:

“Kami adalah para brahmana, Guru Gotama, sudah sepuh, tua … berusia 120 tahun. Tetapi kami belum pernah melakukan apa pun yang baik dan bermanfaat, juga kami tidak membuat naungan untuk diri kami sendiri. Sudilah Guru Gotama mendorong kami dan memberikan instruksi kepada kami yang mengarah pada kesejahteraan dan kebahagiaan kami untuk waktu yang lama!”

Sang Buddha memberikan tanggapan, “Memang benar, para brahmana, kalian sudah sepuh, tua, terbebani dengan tahun demi tahun, lanjut usia, sampai pada tahap akhir, berusia 120 tahun, tetapi kalian belum pernah melakukan apa pun yang baik dan bermanfaat, juga kalian tidak membuat naungan untuk diri kalian sendiri. Sesungguhnya, dunia ini terbakar oleh usia tua, penyakit, dan kematian. Tetapi walaupun dunia ini terbakar oleh usia tua, penyakit, dan kematian, ketika seseorang meninggal dunia maka pengendalian diri atas jasmani, ucapan, dan pikiran akan memberikan naungan, pelabuhan, pulau, perlindungan, dan penyokong”.

Ketika rumah seseorang terbakar perlengkapan yang dibawa keluar adalah yang berguna bagi kalian, bukan yang terbakar di dalam.

Oleh karena dunia ini terbakar oleh usia tua dan kematian, seseorang harus mengeluarkan dengan cara memberi: apa yang diberikan akan dibawa keluar dengan selamat.

Ketika seseorang meninggalkan [kehidupan ini], pengendalian diri atas jasmani, ucapan, dan pikiran, dan perbuatan-perbuatan berjasa yang ia lakukan selagi hidup, mengarahkannya pada kebahagiaannya.

Dari kisah tersebut di atas, tentu dengan sangat jelas itu maksudnya adalah sikap dan tindakan apapun yang dilakukan itu baik melalui jasmani, ucapan dan pikiran, akan membawa dampak yang pasti mengikuti si pelaku itu sendiri. Sehingga jika orang yang memiliki apapun benda dan materi yang disimpan itu, maka apa yang bisa dikeluarkan dari gudang dan diberikan, dipersembahkan, diperuntukkan bagi mereka yang membutuhkan itu akan memberi manfaat bagi si penerima dan menimbun kekuatan bajik bagi si pelaku yang memberikan itu.

Sedangkan apapun itu benda dan materi yang masih tersimpan di gudang itu akan tidak memberi manfaat apapun sampai itu semuapun terbakar habis tanpa sisa bahkan menjadi abu yang tidak memberi manfaat sama sekali. 

Maka judul di atas itu sangat jelas membawa pengertian yang juga sangat terang dan jelas, yaitu, ’Memberi Apapun Itu Menjadi Milikmu’, pemilik benda atau materi itu semestinya mengeluarkan sebagian benda itu dan diberikan kepada mereka yang membutuhkan, maka jadilah itu membawa manfaat bagi si penerima. 

Karena si penerima memperoleh manfaat dari pemberian itu, maka si pelaku pemberian di saat bersamaan memperoleh manfaat besar yaitu menimbun kekuatan kebajikan alias memiliki timbunan buah karma baik (kusalakammavipaka),  akan mengikuti ke manapun ia pergi bahkan jika ia meninggal dunia sekalipun semua kebajikan itu akan mengikutinya bagaikan bayang-bayang yang tak pernah pisah dengan bendanya.


Semoga semua makhluk berbahagia.


Sumber Bacaan: 

  1. Kitab Suci Aṅguttara Nikāya, SuttaCentral.

  2. Karma Pencipta Sesungguhnya, Dr. Mehm Tin Mon, B.Sc.Hons (Ygn), M.Sc., Ph.D.(USA) edisi 2011.


Oleh: Bhikkhu Cittagutto Mahāthera

Minggu, 08-02-2026


Vihāra Jakarta Dhammacakka Jaya

https://www.dhammacakka.org

Related post