Manfaat Datang ke Vihara
- Puja Bakti Umum
- March 30, 2025
- 7 minutes read
Māvamaññetha puññassa, na mantaṃ āgamissati;
Udabindunipātena, udakumbhopi pūrati;
Dhīro pūrati puññassa, thokaṃ thokampi ācinaṃ.
Janganlah meremehkan kebajikan walaupun kecil dengan berkata:
“Perbuatan bajik tidak akan membawa akibat”
Bagaikan sebuah tempayan akan terisi penuh oleh air yang dijatuhkan setetes demi setetes, demikian pula orang bijaksana sedikit demi sedikit memenuhi dirinya dengan kebajikan.
(Dhammapada, IX:122)
Vihara, sebagai tempat ibadah umat Buddha, tidak hanya berfungsi sebagai lokasi untuk melakukan ritual keagamaan, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran, meditasi, dan refleksi diri. Berkunjung ke Vihara dapat memberikan banyak manfaat, baik secara spiritual, mental maupun sosial dan bisa menjadi sarana untuk menemukan kedamaian dan memperoleh kebijaksanaan. Baiknya umat Buddha apabila ingin mencari ketenangan, menyembuhkan luka batin ataupun beban mental, Vihara bisa menjadi tempat yang tepat untuk mengobati dan memperoleh hal itu, sekaligus Vihara juga menjadi tempat yang kondusif, untuk melakukan kebajikan, belajar, bermeditasi dan tumbuh secara spiritual.
Pada umumnya umat Buddha akan datang dan berkunjung ke Vihara pada hari Minggu, untuk melakukan puja bakti. Puja bakti merupakan satu kegiatan umum yang dilakukan oleh umat Buddha sebagai sarana kebajikan, yakni dengan memberikan penghormatan yang tertinggi kepada Tiratana: Buddha, Dhamma dan Saṅgha. Dengan mengikuti puja bakti secara teratur seseorang akan memperoleh beberapa manfaat seperti; meningkatnya keyakinan, pandangannya menjadi benar, terhindar dari perbuatan tidak bajik, terkembangnya konsentrasi dan pengetahuan Dhamma bertambah.
Tidak hanya demikian, manfaat yang diperoleh ketika datang ke Vihara sebenarnya sangatlah banyak, tergantung dari bagaimana kita bisa trampil ketika berada di tempat yang baik untuk melakukan kebajikan dan membersihkan pengotor batin. Sebagai salah satu contoh, ketika datang ke Vihara anda bisa melakukan dāna (pemberian), pattidāna (persembahan jasa), pattanumodāna (ungkapan kebahagiaan), sīla (praktik moral), apacāyana (penghormatan), veyyāvacca (pelayanan), bhāvanā (pengembangan batin), dhammasavana (mendengarkan Dhamma), dhammadesanā (pembabaran Dhamma) dan diṭṭijukamma (pelurusan pandangan). Inilah sepuluh hal yang bisa anda lakukan ketika datang ke Vihara yang dikatakan sebagai kebajikan.
Kita telah melihat dan mengetahui bahwa begitu banyak manfaat yang diperoleh hanya dengan datang ke Vihara, kendatipun demikian masih ada saja orang yang tidak mau datang ke Vihara yang hanya dilakukan mungkin satu minggu sekali. Dalam hal ini ada juga sebagian kasus ketika seseorang rajin ke Vihara, sering ikut puja bakti tetapi ia tidak memperoleh manfaat-manfaat tersebut. Untuk menghindari hal ini maka, ketika datang ke Vihara kita hendaknya mengupayakan untuk melakukan kebaikan dengan baik dan sebanyak-banyaknya, terlebih saat mendengarkan Dhamma, dengarkanlah dengan baik dan penuh perhatian, karena Sang Buddha berkata, seseorang yang melihat Dhamma berarti melihat-Ku.
Berpengetahuan luas dan berkeyakinan akan menjadi kondisi untuk kemunculan dari usaha untuk bisa menjalankan hidup sesuai dengan Dhamma, senantiasa mengarahkan diri untuk mengurangi keserakahan, kebencian dan ketidaktahuan. Keyakinan yang kuat “balavasaddhā” terhadap Buddha, Dhamma, Saṅgha dan hukum kamma, merupakan salah satu sebab kemunculan dari kebahagiaan dan dorongan untuk ingin melakukan kebajikan. Dengan memiliki keyakinan ini seseorang akan mudah untuk melakukan perbuatan baik dibandingkan apabila seseorang tidak memiliki keyakinan, seperti halnya seseorang yang memiliki tangan bisa digunakan untuk melakukan sesuatu secara lebih leluasa daripada seseorang yang tidak memiliki tangan.
Dalam hal ini terdapat satu kualitas batin yang hendaknya dimunculkan dan dimiliki oleh seseoang dalam melakukan kebajikan, guna untuk memberikan hasil dan buah yang besar yaitu, yang pertama disertai dengan sukacita pada saat sebelum, ketika dan sesudah. Kedua, berasosiasi dengan pengetahuan berkaitan dengan hukum kamma, mampu menumbuhkan kebijaksanaan berkaitan dengan apa yang dilakukan dan batin tidak lagi terkotori oleh pengotor batin. Ketiga, yaitu tanpa dorongan, melakukan sesuatu tanpa paksaan baik dari luar atau dari dalam diri, artinya melakukan secara spontan. Perbuatan baik ini juga, bisa dilakukan dengan dua akar atau tiga akar. Dengan dua akar yaitu, tanpa keserakahan dan tanpa kebencian, kalau dengan tiga akar berarti ditambah dengan tanpa ketidaktahuan. Perbuatan baik yang disertai dengan tiga akar, yang disertai dengan batin yang penuh sukacita, berasosiasi dengan pengetahuan dan tanpa dorongan, ini adalah perbuatan baik yang dikatakan sebagai unggul bebas dari cacat cela.
Oleh Bhikkhu Varasaddho
Minggu, 30 Maret 2025