Bahagia Tanpa Ketercelaan

 Bahagia Tanpa Ketercelaan

Idha nandati pecca nandati, katapuñño ubhayattha nandati 

Puññaṃ me katan ti nandati, bhiyyo nandati sugatiṃ gato.

Di dunia ini ia bahagia di dunia sana ia berbahagia, pelaku kebajikan berbahagia di kedua dunia itu. Ia akan berbahagia ketika berpikir, “Aku telah berbuat kebajikan”, dan Ia akan lebih berbahagia lagi, ketika berada di alam bahagia. 

 

(Dhammapada 18)

 



Nibbāna adalah Kebahagiaan Tertinggi

Sang Buddha mengajarkan Dhamma di dunia ini untuk menuntun kita menuju Nibbāna. Dalam Dhamma dinyatakan bahwa Nibbāna adalah kebahagiaan tertinggi. Nibbāna adalah padamnya seluruh pengotor batin (keserakahan, kebencian, kegelapan batin). Seseorang yang mampu melenyapkan pengotor batin secara total maka tidak ada benih kelahiran kembali. Dengan tidak adanya kelahiran tentu tidak akan ada lagi usia tua, sakit dan kematian. Ini semua telah diajarkan oleh Guru Agung Buddha agar kita berjuang untuk melenyapkan seluruh pengotor batin.

 

Jalan untuk meleyapkan seluruh pengotor batin dengan mempraktikkan Jalan Mulia Berunsur Delapan yang terdiri dari: pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, penghidupan benar, usaha benar, perhatian benar, dan konsentrasi benar. Yang mana Jalan Mulia Berunsur Delapan inilah, jika disingkat menjadi: Sīla (kemoralan), Samadhi (ketenangan), Pañña (kebijaksanaan). Sīla, Samadhi, Pañña jika dipraktikkan dengan sempurna maka seluruh pengotor batin menjadi lenyap.

 

Nibbāna adalah tujuan tertinggi Umat Buddha, jika dalam hidup belum mampu mencapai Nibbāna, seseorang yang mengikuti ajaran Guru Agung Buddha dengan benar, sebagai hasilnya adalah di dunia ini ia akan berbahagia dan di kehidupan mendatang ia tidak mungkin jatuh di alam menderita, bahkan ia dapat terlahir di alam bahagia (Surga).

 

Kebahagiaan Perumah Tangga

Sebagai Perumah tangga yang mengharapkan kebahagian dalam hidup, ada salah satu sutta dalam AN

4.62 yang berjudul Āṇanya Sutta (Gradual Sayings jilid 2 hal 77). yang menjelaskan tentang jenis-jenis kebahagiaan perumah tangga. Berikut ini isi dari sutta tersebut:

Pada saat itu Perumah tangga Anāthapiṇḍika mendatangi Sang Bhagavā … Sang Bhagavā berkata kepadanya:

 

“Perumah tangga, ada empat jenis kebahagiaan ini yang dapat dicapai oleh seorang umat awam yang menikmati kenikmatan indria, bergantung pada waktu dan situasinya. Apakah empat ini? Kebahagiaan memiliki, kebahagiaan menikmati, kebahagiaan bebas dari hutang, dan kebahagiaan ketanpacelaan.

 

“Dan apakah, perumah tangga, kebahagiaan memiliki? Di sini, seorang anggota keluarga telah memperoleh kekayaan melalui usaha penuh semangat, yang dikumpulkan melalui kekuatan tangannya, yang didapat melalui keringat di alis matanya, kekayaan benar yang diperoleh dengan cara yang benar. Ketika ia berpikir, ‘Aku telah memperoleh kekayaan melalui usaha penuh semangat yang dikumpulkan melalui kekuatan tangannya, yang didapat melalui keringat di alis matanya, kekayaan benar yang diperoleh dengan benar,’ ia mengalami kebahagiaan dan kegembiraan. Ini disebut kebahagiaan memiliki.

 

  1. “Dan apakah kebahagiaan menikmati? Di sini, dengan kekayaan yang diperoleh melalui usaha penuh semangat itu, yang dikumpulkan melalui kekuatan tangannya, yang didapat melalui keringat di alis matanya, kekayaan benar yang diperoleh dengan cara yang benar, seorang anggota keluarga menikmati kekayaannya dan melakukan perbuatan-perbuatan berjasa. Ketika ia berpikir, ‘Dengan kekayaan yang diperoleh melalui usaha penuh semangat ini, yang dikumpulkan melalui kekuatan tangannya, yang didapat melalui keringat di alis matanya, kekayaan benar yang diperoleh dengan  benar, aku  menikmati  kekayaanku dan melakukan perbuatan-perbuatan berjasa,’ ia mengalami kebahagiaan dan kegembiraan. Ini disebut kebahagiaan menikmati.

 

  1. “Dan apakah kebahagiaan bebas dari hutang? Di sini, seorang anggota keluarga tidak memiliki hutang pada siapa pun, apakah banyak atau sedikit. Ketika ia berpikir, ‘Aku tidak memiliki hutang pada siapa pun, apakah banyak atau sedikit,’ ia mengalami kebahagiaan dan kegembiraan. Ini disebut kebahagiaan bebas dari hutang.

 

  1. “Dan apakah kebahagiaan ketanpacelaan? Di sini, perumah tangga, seorang siswa mulia memiliki perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran yang tanpa cela. Ketika ia berpikir, ‘Aku memiliki perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran yang tanpa cela,’ ia mengalami kebahagiaan dan kegembiraan. Ini disebut kebahagiaan ketanpacelaan.

 

“Ini adalah keempat jenis kebahagiaan itu yang dapat dicapai oleh seorang umat awam yang menikmati kenikmatan indria, bergantung pada waktu dan situasinya.”

 

Setelah mengetahui kebahagiaan bebas dari hutang, seseorang harus mengingat kebahagiaan  memiliki.  Menikmati kebahagiaan kenikmatan, seorang manusia melihat segala sesuatu dengan jelas melalui kebijaksanaan. Sewaktu melihat segala sesuatu dengan jelas, seorang bijaksana mengetahui kedua jenis kebahagiaan. Yang lain tidak ada seper enam belas bagian dari kebahagiaan ketanpa-celaan.

 

Pedoman Inilah penjelasan yang ada di Āṇanya Sutta tersebut sebagai pedoman bagi perumah tangga agar tetap senantiasa menjaga perbuatan, ucapan, pikiran dengan baik, agar terbebas dari ketercelaan dan dapat merealisasi kebahagiaan tanpa ketercelaan.

 

Seseorang yang memiliki perbuatan jasmani, ucapan, dan pikiran yang tanpa cela maka sīla (kemoralan), samadhi (ketenangan), pañña (kebijaksanaan) juga akan berkembang dalam dirinya dan hal ini pun akan mengarah kepada lenyapnya pengotor batin.

 

Marilah kita mengisi waktu yang kita miliki saat ini dengan senantiasa mendekatkan diri pada Dhamma dan praktik Dhamma dengan baik. Semoga keberkahan menyertai kita semua.

Semoga Semua Mahkluk Hidup Bahagia

 

Oleh: Bhikkhu Atthadhiro Thera 

 

Minggu, 08 September 2024

 

 

 

Vihāra Jakarta Dhammacakka Jaya

https://www.dhammacakka.org

Related post