Syarat Pattidāna
- Puja Bakti Umum
- March 16, 2025
- 8 minutes read
“Khettupama arahanto, dayaka kassakupamma,
bijupamamdeyyadhammam, etto nibbattate phalam”
(Petavatthu, Dīgha Nikāya)
Salah satu ajaran yang disampaikan oleh Buddha bahkan menjadi kewajiban umat Buddha yaitu melakukan pattidāna. Ajaran Agama Buddha mengenal tradisi menghormat dan mengenang jasa para leluhur yang telah meninggal dengan melaksanakan pattidāna. Sembahyang pattidāna merupakan praktik melimpahkan jasa kebajikan yang dilakukan oleh sanak keluarga yang masih hidup kepada sanak keluarga atau leluhur yang telah meninggal dengan harapan dan doa semoga mereka dapat terlahir kembali di alam bahagia.
Pattidāna merupakan salah satu bagian dari sepuluh landasan perbuatan baik yang kemudian disebut sebagai dasa puññakiriyavatthu. Pattidāna merupakan kebajikan yang harus dilakukan terutama untuk kebahagian para leluhur atau keluarga yang telah meninggal. Hal ini dilakukan karena sebagai umat Buddha meyakini bahwa kematian bukanlah sebagai akhir dari kehidupan saat ini, melainkan akan terus mengalami kelahiran dan kematian sesuai dengan kamma yang telah dilakukan. Melakukan pattidāna berarti seseorang diajak untuk melakukan kebaikan apakah dengan berdana, praktik moralitas ataukah dengan meditasi yang kemudian semua bentuk kebajikan ini dilimpahkan mengatasnamakan para mendiang. Penghormatan serta balas jasa yang dilakukan oleh sanak keluarga kepada mendiang atau leluhur bukan hanya sekadar mengikuti tradisi, namun dilandasi oleh pengertian yang benar.
Melakukan pattidāna merupakan hal yang baik untuk dilakukan kepada para leluhur atau mendiang bahkan kepada meraka yang memiliki jasa yang sangat besar. Pattidāna dilakukan sebagai kondisi dan sebab ketika sanak keluarga yang telah meninggal terlahir di alam penderitaan bisa terkondisikan terlahir di alam-alam bahagia. Dalam melakukan pattidāna, ada syarat-syarat yang harus terpenuhi, sehingga pattidāna itu dapat dikatakan sukses atau dapat memberikan manfaat yang sangat besar sekali. Hal ini dapat dilihat dalam salah satu sabda yang disampaikan oleh Buddha dalam kitab Petavatthu, yaitu teks yang terdapat di dalam Khudaka Nikāya, Buddha mengatakan “Khettupama arahanto, dayaka kassakupamma, bijupamamdeyyadhammam, etto nibbattate phalam“. Syair ini memiliki latar belakang cerita yang sangat relevan dan bisa dijadikan sebagai inspirasi dalam kehidupan saat ini. Meskipun cerita ini tidak berhubungan dengan mereka yang terlahir di alam peta (hantu) tetapi Sang Buddha mengumpamakan peristiwa demikian dengan mengaitkan yaitu para peta atau mendiang yang mendapatkan manfaat dari para pemberi.
Jadi, ketika seseorang melakukan pattidāna setidaknya harus memenuhi tiga syarat, yaitu:
- Khettupama arahanto
Para Arahat diumpamakan seperti ladang. Ketika seseorang ingin melakukan pattidāna maka harus memiliki ladang, dalam hal ini adalah ladang yang subur. Ladang ini diibaratkan seperti tempat untuk menamam kebajikan yang nantinya dilimpahkan kepada para mendiang. Ladang yang subur itu seperti para Arahat atau empat pasang makhluk suci atau delapan jenis arya sangha, yaitu Sotāpattimagga, Sotāpattiphala, Sakadāgāmimagga, Sakadāgāmiphala, Anāgāmimagga, Anāgāmiphala, Arahattamagga, Arahattaphala. Para Arahat dikatakan sebagai ladang yang subur dikarenakan sudah menghacurkan secara total pengotor-pengotor batin (kilesa).
- Dayaka kassakupamma
Para pemberi diumpamakan seperti petani. Ketika seorang petani ingin menanam di ladang yang subur, maka dia harus memiliki keterampilan yang baik, memiiliki pengatahuan tentang cara menanam. Seorang petani harus tahu kapan harus dikasih pupuk, vitamin, air dan lainnya. Demikian juga ketika seseorang melakukan pattidāna maka harus memiliki kualitas batin yang baik, memiliki keyakinan, moralitas yang baik dan mengembangkan meditasi. Selalu berusaha mengarahkan ke- hidupannya pada hal-hal yang baik dan hal-hal yang membawa pada kemajuan batin.
- Bijupamamdeyyadhammam
Barang diumpamakan seperti biji. Meskipun seorang petani memiliki ladang yang subur dan memiliki keterampilan yang baik, tetapi jika biji yang ditanam kurang bagus maka tidak membuahkan hasil yang maksimal. Demikian juga sebaliknya ketika seorang petani ingin menanam, maka harus memiliki kualitas biji yang baik atau unggul. Sama halnya ketika seseorang melakukan pattidāna maka harus mempersembahkan barang yang layak, sehingga layak juga untuk diterima oleh arahat atau bhikkhu sangha dan para men- diang. Dalam hal ini mempersembahkan barang-barang yang sesuai dengan kebutuh para bhikkhu, yaitu jubah, makanan, tempat tinggal dan obat-obatan. Ketika ini dipersembahkan kepada para bhikkhu, maka para mendiang turut menerima dan berbahagia atas kebajikan yang telah dilakukan oleh para keluarganya.
Inilah tiga syarat dalam melakukan pattidāna sehingga dapat memberikan manfaat yang sangat besar, baik bagi si pemberi, yang menerima dan para mendiang. Ketika hal ini sudah terpenuhi, maka dari sinilah menfaat itu akan muncul (etto nibbattate phalam). Manfaatya dapat mengondisikan para mendiang terlahir di alam-alam bahagia, bahkan ketika dana dipersembahkan kepada bhikkhu sangha akan memberikan waktu yang lama bagi para mendiang (Tirokudda Sutta) dan yang melakukan kebajikan melalui pattidāna akan memberikan manfaat, baik dalam kehidupan saat ini maupun yang akan datang. Serta kebajikan melalui pattidāna itu dapat menjaga atau melindungi dirirnya sehingga tidak terlahir di alam-alam penderitaan.
Oleh Bhikkhu Abhayavaso
Minggu, 16 Maret 2025