x

Mengelola Kemarahan

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Akkodhena jine kodhaṁ, asādhuṁ sādhunā jine
Jine kadariyaṁ dānena, saccena alikavādinaṁ
Kalahkan kemarahan dengan cinta kasih, kalahkan kejahatan dengan kebaikan
Kalahkan kekikiran dengan kemurahan hati, kalahkan kebohongan dengan kejujuran.
(Dhammapada 223)

    DOWNLOAD AUDIO

Kemarahan merupakan reaksi dari emosi yang dimiliki oleh seseorang ketika menghadapi hal-hal yang tidak sesuai dengan harapannya. Hal inilah yang sering kita jumpai dan mungkin kita alami. Kemarahan menjadi suatu masalah dalam hidup kita, jika memiliki dampak tertentu pada diri kita maupun orang lain. Dampak dari kemarahan adalah kita akan dikritik orang lain karena pada dasarnya orang lain tidak ada yang mau dimarahi. Selain itu, kita juga akan menjadi malu setelah marah, dan yang paling merugikan adalah hubungan diri kita mungkin akan merenggang atau putus hubungan dengan orang lain, akibatnya orang tersebut tidak lagi mau menghubungi kita bahkan dapat membuat terputusnya tali persahabatan. Sebagai makhluk sosial, ketika tidak ada yang mau menyapa bahkan tidak ada yang peduli pada diri kita, kita merasa ada sesuatu yang kurang. Tetapi jika kita hidup berdampingan dan harmoni maka hidup menjadi lebih memiliki makna. Oleh karena itu kita perlu mengelola kemarahan diri kita, sebelum merusak kehidupan kita.

Penyebab Kemarahan
Banyak hal yang menyebabkan seseorang menjadi marah, hal itu dikarenakan kemarahan merupakan reaksi atau respon dari emosi yang tidak menyenangkan. Dalam Dhammacakkappavattana Sutta dijelaskan bahwa penderitaan muncul karena adanya nafsu keinginan (tanha). Demikian pula kemarahan dapat muncul juga karena nafsu keinginan. Karena adanya nafsu keinginan seseorang menjadi melekat pada keakuan. Keakuan ini menyebabkan sulit menerima hal-hal yang tidak menyenangkan seperti tidak tercapainya harapan atau keinginan, dan juga tidak mau berpisah dengan yang dimilikinya. Hal ini mungkin dapat memicu seseorang menjadi marah. Misalnya; ketika seseorang pergi hendak makan di suatu restoran, setelah pesan makanan kepada pelayannya, tetapi hampir 20 menit,  makanan tidak kunjung tiba, dan orang tersebut melihat tamu di restoran dekat dia duduk yang pesannya belakangan, justru menerima makanan terlebih dahulu dari pada orang pertama tadi, lalu setelah menunggu 15 menit lagi juga tidak keluar, disitulah akan mulai muncul reaksi marah. Memang seperti itulah salah satu penggambaran tentang sebab timbulnya kemarahan.

Mengelola Kemarahan
Di dalam Metta Sutta Sang Buddha menjelaskan bahwa “tak selayaknya karena marah dan benci mengharap yang lain celaka.” demikian pula hendaknya kita juga tak selayaknya marah dan benci dengan mencelakakan yang lain. Dalam Dhamma dinyatakan bahwa segala sesuatu yang muncul itu ada sebab, dan sebab itulah yang akan menjadi akibat, dan akibat itu akan menjadi sebab, demikian seterusnya. Oleh karena itu pula kemarahan itu juga ada sebabnya. Apa yang perlu kita ketahui dalam mengelola kemarahan?
1.    Mengenali dan Memahami Kemarahan
Sesungguhnya ketika seseorang marah, orang tersebut dapat merasakan perubahan yang ada dalam fisik dan pikirannya seperti denyut jantung meningkat, nafas mulai berubah menjadi tidak teratur, badan terasa mulai terbakar, selain itu dalam pikiran mulai ada dorongan untuk memberikan perlawanan, sehingga menjadi tidak sabar. Hal-hal ini dapat kita rasakan sendiri saat diri kita mengalami kemarahan.
2.    Mengenali Penyebab Kemarahan
Setelah kita mengetahui kemarahan yang kita alami, selanjutnya untuk mengenali penyebab kemarahan itu adalah dengan menggunakan kesadaran diri, dan pengendalian diri adalah sulit bagi kita mengenali penyebab kita marah. Karena dengan adanya kesadaran diri dan pengendalian diri maka emosi kita yang semula muncul akan menjadi menurun secara perlahan, dan akhirnya logika atau pemikiran sadar kita akan mulai mengetahui apa yang semestinya kita lakukan. Sebab jika seseorang tidak mengetahui penyebab dari kemarahan adalah sulit untuk mengelola kemarahan tersebut.
3.    Meredakan Gejolaknya
Seseorang yang sedang bergejolak sering kali tidak menyadari apa yang dilakukannya, dan bahkan menganggap itu sebagai reaksi perlindungan diri yang alami. Setiap kemarahan jika dipahami sebagai reaksi, reaksi itu dapat diredakan. Bagaimana meredakan gejolaknya, tentu dengan berlatih menenangkan pikirannya. Hal itu dapat dilakukan seperti memperhatikan dengan benar perasaan tubuh atau melatih memperhatikan nafas masuk dan keluar secara alami, dengan penuh perhatian. Dengan terlatihnya perhatian pada perasaan tubuh akan membantu meredakan gejolak yang sedang dialaminya dan menumbuhkan ketenangan di dalam diri.
4.    Mewaspadai Kemarahan
Karena kita hidup di lingkungan sosial yang beraneka ragam, kapanpun kemarahan akan dapat muncul kembali. Sebab kemarahan adalah reaksi dari emosi yang ada pada diri kita. Selama kita belum menghapus secara total keserakahan, kebencian, kegelapan batin kemungkinan besar diri kita masih dapat marah. Oleh karena itu mewaspadai kemarahan adalah dengan menjaga pikiran, ucapan dan tindakan serta giat dalam menuntun diri ke arah yang benar.

Semoga penjelasan ini dapat memberi manfaat bagi kita dalam mengelola kemarahan. Menyimpan kemarahan hanya seperti menggenggam bara api, sebelum orang lain merasakan bara api itu, kitalah yang pertama menderita. Maka seperti pesan Sang Buddha di dalam Dhammapada: “Akkodhena jine kodhaṁ artinya kalahkan kemarahan dengan cinta kasih”.

Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia.

Dibaca : 3133 kali