x

Sungguh Sulit Terlahir Sebagai Manusia

Kiccho manussapaṭilābho, kicchaṁ maccāna jīvitaṁ
kicchaṁ saddhammassavanaṁ, kiccho buddhānaṁ uppada’ti.   
Sungguh sulit terlahir sebagai manusia, sungguh sulit hidup sebagai manusia, sungguh sulit dapat mendengar Ajaran Kebenaran. Begitu pula, sungguh sulit munculnya seorang Buddha.
(Dhammapada Buddha Vagga XIV, 182)

    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Dalam hidup ini ada sebagian orang yang tidak menghargai kehidupan sebagai manusia. Mereka hanya berpikir bagaimana menikmati kesenangan indria untuk dirinya sendiri, tanpa memperdulikan orang lain di sekitarnya. Hidup sebagai orang yang terus mengejar kesenangan indria tentu akan menderita. Karena setiap keinginan tidak selamanya terpenuhi sesuai yang diharapkan. Setelah meninggal, orang ini tentu akan jatuh ke alam derita dan sulit untuk kembali terlahir sebagai manusia.

Sulit terlahir sebagai manusia diibaratkan seperti seekor kura-kura yang tinggal di dasar samudera, akan naik ke permukaan samudera setiap seratus tahun sekali. Dan ada sepotong kayu yang mengapung di samudera dengan permukaan berlubang di tengahnya. Tiba saatnya kura-kura ini naik ke permukaan samudera, kepalanya harus masuk ke lubang kayu tersebut. Inilah diibaratkan untuk bisa terlahir sebagai manusia. Setelah mengetahui betapa sulitnya terlahir sebagai manusia, sebaiknya hidup ini tidak disia-siakan. Sebagai manusia sudah saatnya kita mempraktikkan Dhamma dengan sungguh-sungguh dalam kehidupan ini. 

Di dalam Khuddakanikāya Cariyapitāka (Khu. Car. 33/596) dijelaskan, ada 10 cara dalam melatih Parami atau Kesempurnaan-kesempurnaan yang luhur, yaitu:
1) Dermawan (dana)
Memberikan bagian miliknya untuk keperluan orang lain atau meringankan beban orang lain. Kata lain dari dana yaitu gemar memberi, memberi tanpa pamrih atau mengharap balas jasa.
2) Moralitas (sila)
Moralitas berarti memiliki perilaku yang baik atau pengendalian diri yang baik melalui pikiran, ucapan, dan tindakan. Sebagai umat perumah tangga, kita dapat mempratikkan Pañcasīla Buddhis atau Lima Latihan sebagai landasan dasar bagi umat Buddha. Dengan menjalankan Lima Sila ini, kita mampu menahan diri dari tindakan-tindakan yang dapat menimbulkan kerugian atau penderitaan makhluk lain.
3) Pelepasan (nekkhama)
Melepas sesuatu demi tujuan yang lebih mulia untuk kebahagiaan semua 
makhluk hidup. Seperti saat Bodhisatta Siddhattha meninggalkan kehidupan duniawi dan menjadi seorang petapa. Setelah melihat empat peristiwa penting dalam kehidupanNya, yaitu lahir, usia tua, sakit, dan mati. Dalam hidup ini kita juga dapat melepas barang milik pribadi yang  kita senangi, bila saatnya barang ini rusak atau diambil orang. Orang yang bisa melepas akan bahagia hidupnya, seperti mudah memaafkan kesalahan orang lain, memberi senyum kepada orang lain sehingga mereka akan bahagia melihat sikap ramah ini.
4) Bijaksana (paññā) 
Mengerti apa yang seharusnya dilakukan dan mana yang tidak pantas dilakukan. Melakukan segala sesuatu atas dasar kebenaran. Untuk menjadi bijaksana kita harus banyak belajar. Belajar dari pengalaman  hidup, bagaimana kita dapat mengatasi masalah-masalah yang muncul dalam hidup ini. Di balik setiap kejadian pasti ada hikmahnya yang dapat kita ambil dari pengalaman hidup ini.
5) Daya Upaya atau Semangat (viriya)
Kembangkan usaha yang tekun dalam belajar, bekerja dan berkarya. Orang yang penuh semangat dalam hidupnya, tidak mudah menyerah dalam mencapai apa yang di cita-citakan. Kalau kita tekun dalam suatu pekerjaan, apabila ada masalah yang timbul dari pekerjaan itu dengan mudah dicari jalan keluarnya.
6) Kesabaran (khanti)
Orang yang sabar bisa menahan diri dari berbagai kesulitan-kesulitan yang dihadapinya, tidak mudah emosi, marah dan selalu membawa kedamaian dimanapun dia berada. Sabar berarti bisa menerima segala hal dengan baik, tidak mudah mengeluh, kecewa, menyerah, panik dan terkendali indrianya dalam situasi apapun juga.
7) Kejujuran (sacca)
Jujur dalam setiap perkataan, tidak bohong dan tidak menutupi kebenaran. Kejujuran ini akan membuat orang lain percaya dan menaruh hormat padanya. Jujur dalam bertindak serta tidak menipu orang lain. Apa yang dipikirkan itulah yang dikatakan, apa yang dikatakan itulah yang dilakukan. Kejujuran ini akan bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.
8) Keteguhan hati atau tekad (adhiṭṭhāna)
Orang yang teguh hatinya akan memiliki tekad yang kuat dalam melakukan pekerjaan, melakukan dengan penuh teliti dan hati-hati. Tidak mudah menyerah meskipun banyak hambatan yang dilalui dalam meraih impian.
9) Cinta Kasih (mettā)
Cinta kasih harus dikembangkan tanpa batas, tanpa perbedaan dan penuh toleransi. Seperti sinar mentari pagi yang menyinari seisi alam semesta ini tanpa ada wilayah yang tidak disinari, semua sama rata, sama rasa, yaitu hangatnya sinar mentari pagi. Demikianlah cinta kasih ini harus dikembangkan dalam batin. Semua makhluk hidup di dunia ini sama-sama ingin diperhatikan, dicintai dan bahagia. Cinta kasih tidak cukup pada orang yang kita sukai saja, tetapi cinta kasih yang murni akan melepas keangkuhan kita dari rasa memiliki. Buatlah cinta kasih ini menjadi sebuah senyuman sehingga siapapun yang kita temui mereka akan merasa nyaman dan bahagia.
10)  Keseimbangan Batin (upekkha)
Sikap batin yang tenang seimbang akan sangat bermanfaat bagi kemajuan batin ini. Orang yang tenang batinnya akan tidak mudah marah dan sedih. Meskipun ada kalanya tidak mendapatkan apa yang diinginkan atau apa yang diharapkan. Orang seperti ini tidak kecewa, dapat menerima dengan lapang dada tanpa menyalahkan siapapun. Keseimbangan batin dalam belajar dan praktik Dhamma dapat menumbuhkan nilai-nilai mental yang positif serta berubah pola pikir kita ke arah yang lebih baik. 

Setelah mengetahui betapa sulitnya menjadi seorang manusia. Mari kita bersama-sama belajar dan praktik Dhamma secara terus-menerus, dengan demikian akan menumbuhkan watak yang baik secara perlahan, tapi pasti. Berjuanglah di kehidupan ini juga, jangan menunggu, barangkali besok kematian datang menjemput kita. Setiap orang memiliki potensi yang besar dalam mencapai kesempurnaan-kesempurnaan ini untuk mengakhiri penderitaan. Perbanyak kebajikan dan terus berusaha dalam mengikis kekotoran batin seperti keserakahan, kebencian, dan kegelapan batin sepanjang hidup ini.

Sumber:
Dhammapada Penerbit Bahussuta Society
Dhamma Vibhaga Penerbit Vidyasena

Dibaca : 2389 kali