x

Hidup Bahagia & Sejahtera Dalam Ajaran Buddha

Dhammaṁ care sucaritaṁ, na taṁ duccaritaṁ care
Dhammacārī  sukhaṁ seti, asmiṁ loke paramhi ca.
Jalankanlah praktik hidup yang benar dan jangan lalai. Barang siapa yang hidup sesuai 
dengan Dhamma akan hidup bahagia di dunia ini maupun di dunia berikutnya. 
(Dhammapada XIII: 169)

    DOWNLOAD AUDIO

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Jika seseorang ditanya: “Apakah tujuan hidup anda?” umumnya ia akan menjawab secara singkat: “ingin hidup bahagia dan sejahtera.” Demikianlah, semua orang di dunia ini umumnya menginginkan kebahagiaan dan kesejahteraan. Sebagai salah satu pedoman kehidupan manusia, ajaran agama di dunia ini juga mengajarkan jalan menuju kebahagiaan dan kesejahteraan bagi para praktisinya, tak terkecuali ajaran Buddha. Tujuan utama ajaran Buddha adalah kebahagiaan dan kesejahteraan yang melampaui duniawi (Nibbāna), namun bukan berarti Sang Buddha tidak mengajarkan jalan menuju kebahagiaandan kesejahteraan duniawi. Dhamma yang diajarkan Sang Buddha bersifat universal yang juga bertujuan pada kebahagiaan yang bisa dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, untuk para umat awam yang masih menginginkan kebahagiaan dan kesejahteraan yang terlihat dalam kehidupan saat ini dan yang akan datang, Sang Buddha mengajarkan  cara bagi kita agar dapat menjalani kehidupan yang bahagia sejahtera lahir dan batin. Ini adalah delapan hal yang perlu diperhatikan dan dijalankan dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai umat awam:
1.  Bekerja dan berusaha dengan tekun dan gigih
Tak diragukan lagi syarat pertama untuk hidup bahagia adalah bekerja dan berusaha, yaitu menjalankan mata pencaharian yang baik dengan tekun dan gigih. Bagi yang bekerja sebagai pegawai atau karyawan, ini berarti ia bekerja dengan baik sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya, tidak melalaikan kewajibannya sebagai pegawai atau karyawan, dan memiliki inisiatif dalam bekerja sehingga apapun pekerjaan yang diberikan atasan dapat diselesaikan dengan baik. Bagi yang memiliki usaha sendiri, ia seharusnya memiliki kemampuan mengatur dan mengelola usahanya dengan baik.
2.  Menjaga dan melindungi kekayaan yang telah diperoleh 
Setelah bekerja dengan tekun dan gigih sehingga berhasil mengumpulkan harta kekayaan yang mencukupi, hal yang tak kalah pentingnya adalah menjaga dan melindungi kekayaan tersebut agar terhindar dari kehilangan yang disebabkan oleh; penyitaan negara (tidak membayar pajak atau melakukan korupsi), pencurian atau perampokan, musibah dan bencana alam, serta pewaris yang tidak dapat mengembangkannya (suka berfoya-foya saja).
3.  Menjalin persahabatan yang baik
Manusia adalah makhluk sosial dan tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Di manapun dan kapanpun kita berada, kita selalu berhubungan dengan orang-orang di sekitar kita. Salah satunya yang paling dekat dengan kita dikenal dengan istilah sahabat. Namun tidak semua orang bisa dijadikan sahabat baik seperti; mereka yang tamak dan serakah, banyak bicara tetapi tidak berbuat apa-apa, suka menyanjung alias penjilat, dan suka berfoya-foya. Mereka yang suka membantu, selalu ada di saat senang dan susah, menunjukkan jalan yang benar, dan selalu bersimpati adalah orang-orang yang dapat diandalkan sebagai sahabat baik.
4.  Seimbang dalam pemasukan dan pengeluaran
Selain dapat menjaga dan melindungi hasil keringatnya sendiri dengan baik, maka seseorang juga harus mampu menjaga keseimbangan antara pemasukan dan pengeluarannya. Ia tidak boros dalam pengeluaran tetapi juga tidak pelit. Ia pandai mengatur pengeluaran berdasarkan pemasukan yang diterima sehingga tidak besar pasak daripada tiang. Terdapat suatu tips pengeluaran yang baik secara Buddhis, yaitu dari empat bagian pemasukan atau penghasilan seseorang, ia dapat menggunakan satu bagian untuk dinikmati sepuasnya, dua bagian untuk mengembangkan pekerjaan dan usahanya (sebagai modal usaha misalnya), serta satu bagian sisanya untuk ditabung sehingga dapat digunakan untuk keperluan mendadak.
5.  Memiliki keyakinan 
Keyakinan adalah landasan utama dalam kehidupan spiritual Buddhis. Dalam hal ini seseorang memiliki keyakinan terhadap Buddha sebagai guru junjungan agung semua makhluk yang telah tercerahkan sempurna, Dhamma sebagai pedoman utama dalam menjalankan kehidupan sehari-hari, dan Saïgha sebagai suri teladan dalam mempraktikkan ajaran Buddha tersebut. Dengan keyakinan yang demikian, ia berlindung kepada Sang Tiratana dalam pengertian yang benar.
6.  Berperilaku baik dan bermoral 
Seseorang berperilaku baik dan bermoral dengan menjalankan lima pelatihan moral bagi umat awam Buddhis, yaitu menghindari pembunuhan, pencurian, hubungan seksual yang salah (berzinah, berselingkuh, dan berbuat asusila), ucapan tidak benar, serta ketagihan minuman keras dan obat-obatan terlarang. Tidak hanya menghindari perbuatan-perbuatan buruk ini, ia juga melakukan perbuatan-perbuatan baik dengan mengembangkan cinta kasih terhadap kehidupan semua makhluk, menghargai dan menjaga kepemilikan orang lain, menghormati dan menjaga keharmonisan hubungan pasangan, mengembangkan kejujuran dan integritas diri, serta menjaga kewaspadaan dan kesadaran setiap saat. Inilah yang disebut sempurna dalam perilaku dan moralitas. 
7.  Dermawan dan suka menolong
Seorang yang dermawan berarti ia tidak kikir dan pelit, suka memberi dan berbagi baik kepada yang membutuhkan maupun untuk melepas keterikatan pada kepemilikan pribadi. Ia juga suka membantu mereka yang sedang dalam kesulitan tanpa diminta dan tanpa mengharapkan pamrih. Kebahagiaan yang diperoleh dari memberi dengan melepas dan membantu dengan kerelaan ini tidak ternilai harganya dibandingkan kebahagiaan-kebahagiaan dari pencapaian duniawi manapun.
8.  Bijaksana 
Untuk hidup bahagia, tidak cukup hanya menjadi orang baik saja, tetapi juga harus bijaksana dalam menghadapi berbagai permasalahan dan realita kehidupan yang sulit di dunia ini. Ini bukan sekedar kebijaksanaan dalam menyelesaikan masalah-masalah kehidupan yang diperoleh melalui pengetahuan dan pengalaman hidup, melainkan kebijaksanaan dalam memandang berbagai fenomena kehidupan yang timbul dan lenyap sebagaimana adanya. 

Inilah delapan tips untuk meraih kebahagiaan dan kesejahteraan sebagai mereka yang masih menggeluti kesibukan duniawi. Namun demikian, jika kedelapan poin di atas dijalankan dengan sempurna, tidak hanya kebahagiaan dan kesejahteraan duniawi, tetapi juga kebahagiaan dan kesejahteraan spiritual di saat ini dan masa yang akan datang.

Sumber:
1. Dīghajāõu Sutta, (Aṅguttara Nikāya 8.54) 
2. Sigalovada/Sigalaka Sutta, (Dīgha Nikāya 31)  

Dibaca : 3099 kali